Breaking News

Banyak Mal yang Dulu Populer, Kini Sepi Bak Kuburan, Ada Apa?

Glodok City (instagram @oftopics) 

WELFARE.id-Marak deretan mal di wilayah Jakarta dan sekitarnya kini bernasib seperti 'hidup segan mati tak mau'. Mal-mal yang dulunya populer dan ramai pengunjung, kini terlihat sepi, ditinggal tenant dan pengunjung.  

Ada puluhan mal yang kini sepi karena ditinggalkan pengunjungnya misalnya saja Plaza Semanggi, Ratu Plaza, Glodok City, WTC Mangga Dua, Blok M Mal, Poins Square, Metropolis Town Square, beberapa ITC, dan Mall WTC Matahari. Mal-mal ini terpantau lengang, sepi pengunjung, hingga banyak kios yang tutup. 

Lippo Malls pun angkat bicara terkait fenomena ini. Corporate PR and Reputation Management Lippo Malls Nidia N Ichsan mengatakan, penyebab sepinya mal-mal tersebut sangat kompleks. Namun, faktor utamanya adalah karena efek domino pandemi COVID-19. "Karena penyebabnya kompleks, karena mal tersebut adalah mal strata. Namun, pandemi COVID-19 adalah faktor yang utamanya," ujarnya, dikutip Jumat (13/1/2023). 

Pandemi COVID-19 ini, katanya, memberikan dampak yang luar biasa terhadap bisnis ritel. Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), menurut Nidia, sangat berdampak pada jumlah pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan. "Pandemi ini kan dampaknya terhadap bisnis ritel ini cukup luar biasa, dengan pemberlakuan PPKM dan segala macam itu memang sangat memengaruhi jumlah pengunjung. Juga memengaruhi okupansi mal," katanya. 

Dengan pencabutan PPKM oleh Presiden Joko Widodo pada 30 Desember 2022 lalu, Nidia berharap hal itu jadi angin segar bagi nasib mal-mal yang kini sepi. Dan bisa kembali menaikkan tingkat kunjungan masyarakat dan okupansi pusat perbelanjaan. "Tentunya harapan kita semua begitu (mal semakin ramai setelah aturan PPKM dicabut)," harapnya. 

Terpisah, Pakar Marketing dan Managing Partner Inventure, Yuswohady mengatakan, ada tiga faktor yang membuat pusat perbelanjaan mal sepi ditinggal pengunjung. Pertama, digital disruption alias adanya perkembangan digital membuat belanja online semakin di depan. "Perilaku masyarakat cenderung berubah dengan kehadiran teknologi aplikasi belanja online," katanya. 

Kedua, pandemic disruption. Munculnya pandemi COVID-19 semakin mempercepat mal sepi bak kuburan karena saat itu pemerintah melarang konsumen datang ke tempat keramaian seperti mal. 

Ketiga, millenial disruption. Yuswohady menyebut saat ini milenial semakin malas datang ke mal untuk belanja karena sudah dimanjakan dengan aplikasi-aplikasi belanja online. "Jadi generasi milenial dengan sendirinya itu belanja sudah nggak fisik terutama untuk item-item tertentu, itu mereka pilih lebih belanja secara online," ucapnya. 

Meski begitu, penyebab mal sepi bak kuburan dinilai bukan semata karena persoalan triple disruption. Sumber persoalan sebenarnya disebut datang dari mal-mal itu sendiri yang dianggap malas mengikuti perkembangan jaman. "Mereka tak mampu merespons triple disruption sehingga tak relevan lagi di pasar. Siapa yang beradaptasi survive karena beberapa mal lain seperti Grand Indonesia, Mal Kelapa Gading, atau Mal Kokas masih tetap ramai. Sementara yang tidak akan hilang ditelan jaman," katanya. 

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, mengatakan, untuk dapat melakukan alih fungsi maka pengelola perlu melakukan due diligence. Artinya, antara pengelola dan investor melakukan uji tuntas atau audit untuk mengantisipasi risiko akan keputusan tersebut. "Terkait alih fungsi, pengelola harus melakukan due diligence untuk melihat peluang yang ada, mengingat pengelola perlu mempertimbangkan zonasi ruang, fasilitas penunjang, peluang usaha, dan tentu saja biaya redesign ruangan," imbuhnya. 

Dia menuturkan, pusat perbelanjaan yang kesulitan untuk meningkatkan traffic, maka pengelola perlu mencari inovasi, mengingat ruang ritel saat ini berkembang tidak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga ruang interaksi sosial. "Memasuki tahun 2023, konsumen ritel diberikan alternatif dengan model ruang ritel baru berkonsep alfresco, yang mengusung konsep makan bersama di luar ruangan," jelasnya. 

Pada 2023, Syarifah memperkirakan secara umum, pascapencabutan PPKM, akan ada peningkatan traffic pengunjung di pusat perbelanjaan, dengan asumsi kapasitas tidak lagi dibatasi dan berlaku . 

Apalagi, dia melihat masih ada beberapa pusat perbelanjaan yang cenderung menahan kenaikan harga sewa, guna meningkatkan permintaan okupansi dari para tenant. Meski, tak menutup kemungkinan akan ada kenaikan jika pasokan mulai terbatas. "Namun, saat ini diindikasikan adanya peningkatan service charge pada beberapa pusat perbelanjaan, karena meningkatnya biaya maintenance listrik, air bersih, dan lain-lain," tuturnya. 

Senada, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja mengatakan, pusat perbelanjaan di era digitalisasi ini harus memberikan fungsi lain, lebih dari sekadar tempat belanja bagi masyarakat. "Pusat Perbelanjaan harus dapat menyediakan dan memberikan journey atau experience kepada para pelanggannya. Bukan lagi hanya sekadar menyediakan ataupun memberikan sarana belanja saja," ungkapnya. 

Menurutnya, kini mal harus dapat memiliki dan menyediakan tempat ataupun fasilitas untuk pelanggan melakukan interaksi sosial dengan sesamanya.  Artinya, selain belanja, mal diarahkan untuk menjadi pemenuhan kebutuhan masyarakat akan interaksi sosial. Dalam hal ini, mal perlu menyediakan fasilitas tempat yang dapat menyatukan atau mempertemukan antarindividu. "Namun tentunya tidak semua Pusat Perbelanjaan memiliki kemampuan untuk secepatnya melakukan perubahan, termasuk tentunya juga dalam hal pembiayaan," pungkasnya. (tim redaksi) 

#mal
#malsepi
#pusatperbelanjaan
#pusatperbelanjaansepi
#mallegendaris
#mallegendarissepi

Tidak ada komentar