Breaking News

Alami Krisis, Afrika Selatan Padamkan Listrik 12 Jam Sehari

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa (dw)

WELFARE.id-Afrika Selatan sedang mengalami krisis energi akut. Bahkan, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa terpaksa membatalkan perjalanannya ke Davos pekan ini, karena masalah krisis energi yang berdampak pada pemadaman listrik bergilir di negara tersebut.  

Dalam akun Twitternya, Vincent Magwenya, juru bicara mengatakan, Ramaphosa mengganti perjalanannya ke Forum Ekonomi Dunia di Swiss untuk pertemuan darurat tentang krisis energi yang sedang berlangsung. 

Afrika Selatan mengalami krisis energi yang berimbas pada pemadaman listrik mencapai 12 jam sehari. pemadam itu dipicu oleh pembangkit listrik tenaga batu bara tua yang rusak. Selain itu, negara tersebut juga tidak memiliki dana untuk membeli solar demi menghidupkan generator darurat. 

Warga Afrika Selatan telah mengalami pemadaman listrik selama bertahun-tahun. Namun, rekor terburuk terjadi pada 2022 dengan 205 hari pemadaman listrik bergilir. 

Sepanjang tahun ini, pemadaman terjadi setiap hari. Situasi kembali memburuk pekan lalu ketika BUMN listrik negara itu, Eskom, mengatakan akan menerapkan lebih banyak pemotongan karena kerusakan di 11 unit pembangkit berbahan bakar batu bara. 

Load Shedding atau pelepasan beban dinaikkan ke level 6 persen. Hal ini memerlukan penghapusan daya senilai 6.000 megawatt (MW) dari jaringan untuk menyeimbangkan kembali permintaan dan pasokan. 

Hal ini dapat mengakibatkan pemadaman selama 4,5 jam sekaligus dan total 12 jam sehari untuk rumah tangga dan bisnis. Peningkatan pemadaman terjadi pada Selasa (17/1/2023) lalu. Meski demikian, Eskom mengingatkan pemadaman listrik dapat meningkat lagi dalam waktu singkat. "Karena armada pembangkit listrik tenaga batubara yang tidak dapat diandalkan," katanya. 

Sebagai informasi, Eskom telah memenuhi pasokan listrik negaranya dari armada pembangkit listrik tenaga batu bara yang telah digunakan secara berlebihan dan kurang terawat selama bertahun-tahun. 

Perusahaan juga disebut-sebut hanya punya sedikit cadangan energi. Masalah ini seharusnya bisa terselesaikan dengan dibangunnya dua pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di dunia, Medupi dan Kusile, di provinsi Limpopo dan Mpumalanga di Afrika Selatan. 

Namun 15 tahun setelah konstruksi dimulai, pembangkit ini hanya menghasilkan sekitar setengah dari akumulasi kapasitas mereka, yakni 9.600 MW, karena adanya kerusakan, cacat teknis, hingga kecelakaan. 

Utang Eskom pun melesat ke angka USD22,7 miliar atau setara Rp342,77 triliun (kurs Rp15.100) dan menempatkannya ke dalam posisi keuangan yang genting. Tragedi pencuriam listrik di kota-kota miskin hingga para pelanggan yang tak bayar listrik pun memperburuk keadaan. 

Perusahaan telah kehilangan uang selama bertahun-tahun dan bergantung pada dana talangan pemerintah. Bahkan pada Maret 2022, dilaporkan kerugian perusahaan mencapai USD723 juta atau setara Rp10,91 triliun. (tim redaksi) 

#krisisenergi
#afrikaselatan
#krisisenergiafsel
#pemadamanbergilir
#eskom
#presidenafrikaselatan

Tidak ada komentar