Breaking News

7 PBF Jadi Tersangka Kasus Gagal Ginjal Akut, 2 Masih DPO

Obat sirup yang terkontaminasi kimia berbahaya penyebab gagal ginjal akut pada anak. Foto: Ilustrasi/ AFP via Getty Images/ Milan Berckmans

WELFARE.id-Bareskrim Polri dan BPOM telah menetapkan 7 pedagang besar farmasi (PBF) dan 2 perorangan yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus gagal ginjal akut anak, yang telah menewaskan ratusan anak. 

Dua korporasi yang dijerat sebagai tersangka oleh BPOM merupakan perusahaan farmasi PT Yarindo Farmatama dan PT Universal Pharmaceutical.

Sementara lima korporasi lainnya PT Afi Farma, CV Samudera Chemical, PT Tirta Buana Kemindo, CV Anugrah Perdana Gemilang, serta PT Fari Jaya Pratama ditetapkan tersangka oleh Bareskrim Polri. 

Perusahaan-perusahaan tersebut diduga mendistribusikan bahan baku obat sirup dengan kandungan propilen glikol (PG) yang sudah terkontaminasi etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) melebihi ambang batas. 

Dua zat kimia berbahaya tersebut diketahui melebihi ambang batas berdasarkan hasil tes uji laboratorium. 

"Selanjutnya, update penanganan perkara gangguan gagal ginjal akut untuk PT TBK, PT APG, dan PT FJP yang merupakan distributor bahan baku bukan penjual obat. Jadi sebutan mereka adalah pedagang besar farmasi atau PBF. 

Bahan baku PG milik ketiga korporasi tersebut sudah dilakukan uji lab, terhadap hasil uji lab yang positif sudah dilakukan penyitaan, sedangkan terhadap hasil uji lab yang negatif dibuat data-datanya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan kepada wartawan, dikutip Rabu (11/1/2023).

Ia melanjutkan, pihak yang bertanggung jawab dalam kasus gagal ginjal akut adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurutnya, BPOM bertanggung jawab mengecek dan menginspeksi pedagang besar farmasi.

"Kemudian sejauh ini BPOM adalah pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan pengecekan dan inspeksi terhadap para pedagang besar farmasi," imbuhnya. Ia juga menginformasikan, dua tersangka di kasus gagal ginjal akut masih diburu. 

Keduanya adalah Direktur Utama CV Samudera Chemical (CV SC) berinisial E dan direkturnya berinisial AR. "Perlu disampaikan juga, bahwa pencarian terhadap 2 tersangka CV SC masih terus dilakukan," janjinya.

Dalam kasus ini, Dittipidter Bareskrim Polri menetapkan satu tersangka baru di kasus gagal ginjal akut. Selain Direktur Utama CV Samudera Chemical inisial E, direkturnya berinisial AR juga ditetapkan sebagai tersangka.

Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Nurul Azizah mengatakan, penyidik hingga kini masih memburu kedua tersangka tersebut. "Kemudian dua orang yang telah ditetapkan sebagai pelaku, yaitu E selaku Direktur Utama CV SC dan AR selaku Direktur CV SC. Sampai saat ini keberadaannya belum diketahui," kata Nurul kepada wartawan, Selasa (27/12/2022) lalu.

Terbaru, Ramadhan juga memastikan, pencarian terhadap kedua pelaku tersebut masih terus dilakukan sejak ditetapkan sebagai tersangka pada November 2022. "Pencarian terhadap 2 tersangka CV CS masih terus dilakukan," ujarnya melalui keterangan video, dikutip Rabu (11/1/2023).

Lebih lanjut, E dan AR juga telah dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO), yakni teregister pada nomor B/12163/XI/2022/Bareskrim tanggal 25 November 2022 atas nama E, dan B/16164/XI/2022/Bareskrim tanggal 25 November 2022 atas nama AR. (tim redaksi)

#kasusgagalginjalakutpadaanak
#obatsirup
#terkontaminasiEGdanDEG
#etilenglikol
#dietilenglikol
#melebihiambangbatas
#DPO
#pedagangbesarfarmasi
#bahanbakuobatterkontaminasi
#bareskrimpolri
#BPOM

Tidak ada komentar