Breaking News

Korsel Hadapi Krisis Kesuburan Terendah dalam Sejarah, Pemerintah Bakal Naikkan Tunjangan Tahun Depan

Bayi. Foto: Ilustrasi/ Thinkstock

WELFARE.id-Korea Selatan (Korsel) tengah menghadapi krisis kesuburan terendah dalam sejarah, bahkan di dunia. Pemerintah Korsel bahkan harus mengucurkan dana dari USD200 miliar selama 16 tahun terakhir untuk meningkatkan populasi.

Rata-rata jumlah anak di Korsel 0,79. Angka ini jauh di bawah angka minimal untuk mempertahankan populasi yang stabil yakni 2,1. Korsel bakal menghadapi kekurangan pekerja di tengah populasi yang kian menua. Pemerintah Korsel tidak tinggal diam. 

Presiden Korsel Yoon Suk Yeol mengaku akan menaikkan tunjangan hingga KRW700 ribu (sekitar Rp8,2 juta) pada 2023 dan KRW1 juta (sekitar Rp11,8 juta) pada 2024. Saat ini, orang tua mendapatkan tunjangan hingga bayi berusia 1 tahun sebesar KRW300 ribu (sekitar Rp3,5 juta). 

Para ahli meyakini solusi yang ditawarkan pemerintah hanya menyasar satu dimensi saja. Pasalnya, anak tak cukup dilahirkan saja, tetapi juga perlu dirawat.

Kim Min Jeong, seorang ibu yang tengah hamil anak kedua, berkata tidak terlalu peduli akan janji pemerintah. "Mereka telah mengganti nama dan menggabungkan tunjangan. Tetapi untuk orang tua seperti kami, tidak ada manfaat lagi," ujar Kim, melansir cnn, Senin (5/12/2022).

Ia menuturkan, dirinya tidak bisa bekerja lagi karena harus menjaga anak pertamanya. Ia dan sang suami tidak mampu membayar biaya penitipan anak.

Sementara itu, program IVF atau bayi tabung tidak ditawarkan pada perempuan lajang. Ibu tunggal memang mendapat pandangan miring.

"Seolah-olah mereka telah melakukan sesuatu yang salah dengan hamil di luar nikah. Mengapa harus dalam pernikahan Anda dapat membesarkan anak?" keluh Profesor Hukum Cho Hee-kyoung yang kerap menulis kolom isu sosial.

Dari sini, tampaknya hak untuk memiliki anak hanya ada untuk pasangan yang telah menikah. Namun Korsel tidak melegalkan pernikahan sesama jenis. 

Hal ini mempersulit pasangan yang ingin memiliki anak lewat adopsi. Di sisi lain, semakin banyak kawula muda Korsel yang memilih melajang. 

Penulis Lee Jin Song mengatakan, ada lelucon yang umum berkembang di Korsel. "Jika Anda tidak berkencan saat berusia 25 tahun, Anda akan berubah menjadi burung bangau, artinya jika anda lajang, Anda bukan manusia lagi," ujarnya. (tim redaksi)

#korsel
#koreaselatan
#krisispopulasi
#tunjanganuntukorangtua
#biayahidupmahaldikorsel

Tidak ada komentar