Breaking News

Kenali dan Lawan Kanker Ovarium, Ingat Kampanye 10 Jari

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Penyakit kanker masih terus menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Mengingat, salah satu penyakit tak menular (PTM) ini punya dampak fatal, alias bisa mengakibatkan kematian. Termasuk salah satunya kanker ovarium. 

Bukan hanya membahayakan jiwa, dari catatan data Riskesdas tahun 2018, prevalensi kasus kanker ovarium ini mengalami kenaikan hingga akhirnya bertengger di peringkat 3 yang membuat Indonesia jadi mempunyai peningkatan beban akibat penyakit tidak menular (PTM). 

“Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan prevalensi PTM mengalami kenaikan, jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, antara lain pada kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus dan hipertensi,” jelas Dr. Eva Susanti, S.Kp.,M.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan dalam webinar "AstraZeneca: Kampanye 10 Jari" dikutip Minggu (4/11/2022). 

“Kanker naik dari 1,4 persen pada Riskesdas 2013 menjadi 1,8 persen di data Riskesdas 2018. Sementara kanker ovarium berada di peringkat 3 dari sisi insiden dan tingkat kematian," sambungnya. 

Dokter Spesialis Onkologi dari RSUP Persahabatan dr. Oni Khonsa, Sp.OG, Subsp. Onk mengatakan, penyakit kanker tidak bisa disembuh namun dapat dikendalikan. "Kalau kanker itu definisinya bukan sembuh, dia sama seperti asma, hipertensi, diabetes, ada kekambuhan bila tidak dikontrol, jadi pengobatan ini biar lebih terkontrol," jelasnya. 

Lebih lanjut, dr. Oni mengatakan, kanker bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan layaknya tuberkulosis (TB). Kanker sendiri memiliki banyak jenis hingga tingkat keparahan yang berbeda. 

Menurut dr. Oni, kambuh atau tidaknya sel kanker sangat ditentukan dari pengobatan, terapi dan juga gaya hidup pasiennya. "Sesering apa kambuhnya? Itu sangat erat dengan stadium, jenis kankernya dan kondisi-kondisi lain penyerta pasien, bagaimana membuat pola hidup yang baik," tukasnya. 

Sementara itu, dr. Oni juga mengatakan, kista tidak selalu menjadi cikal bakal dari kanker. Hanya kista endrometrium saja yang bisa berkembang menjadi kanker. 

Meski demikian, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui ganas atau tidaknya jenis kista tersebut. "Mengarah ke ganas atau tidak dilihat dari tes, kista yang diduga jinak bisa berubah sifatnya. Ini bisa bertransformasi karena ada paparan karsinogen seperti dari zat kimia, rokok, vape," imbubnya. 

"Kalau ternyata waktu diperiksa kistanya masih eksis, terutama endrometrium maka hindari potensi karsinogen. Kista harus diambil dan dilihat jinak atau e
nggak tapi kalau nggak diambil harus dipantau terus," lanjutnya. 

Namun sayangnya, minimnya pengetahuan dan kesadaran, membuka peluang besar untuk banyak wanita untuk mengalami kanker yang satu ini. Maka dari itu, Kementerian Kesehatan RI diketahui tengah menggenjot edukasi tentang kanker ovarium yang diwujudkan dengan Program Kampanye 10 Jari. Apa itu? 

Enam faktor risiko kanker ovarium meliputi mulai dari mempunyai riwayat kista endometrium, memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan/atau kanker payudara, terjadinya mutasi genetik (misalnya BRCA), faktor paritas rendah, menjalani gaya hidup yang buruk, dan yang terakhir yakni pertambahan usia. 

Sedangkan empat tanda kanker ovarium sendiri, mulai dari mengalami perut kembung, berkurangnya nafsu makan berkurang, sering buang air kecil, dan ada rasa nyeri panggul atau perut. 

Mengingat gejala atau tanda-tanda dari kanker ovarium beragam, dan sulit ditebak secara pasti. dr. Oni mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan sadar akan pentingnya melakukan pemeriksaan sejak dini. "Jadi tanda -tandanya itu complicated ya karena bisa ngilu banget (di perut), jadi waspada,” pungkasnya. (tim redaksi) 

#kankerovarium
#kampanye10jari
#kemenkes
#cirikankerovarium
#kanker

Tidak ada komentar