Breaking News

Era Suku Bunga Tinggi Diprediksi hingga Tahun Depan, Ekonom: Ongkos Kredit Pasti Tambah Mahal

Suku bunga tinggi. Foto: Ilustrasi/ iStockphoto

WELFARE.id-Menteri Keuangan Sri Mulyani mewanti-wanti era suku bunga tinggi atau kebijakan moneter ketat bakal berlanjut hingga tahun depan. Kondisi ini akan berdampak pada pasar keuangan Indonesia, terutama dari sisi Surat Berharga Negara (SBN).

Menurutnya, kenaikan suku bunga masih akan terjadi setidaknya hingga pertengahan tahun depan. Hal ini dilakukan oleh banyak bank sentral untuk menekan laju inflasi.

"Interest rate (suku bunga) yang tinggi ini berarti dampak ke ekonomi maju akan terasa sepanjang 2023. Dampaknya ke Indonesia kalau interest rate high, terjadi capital outflow. Ini yang sekarang sudah kita rasakan," jelasnya, dalam CEO Forum di Istana Negara, dikutip Sabtu (3/12/2022).

Dia menjelaskan, saat terjadi capital outflow atau asing membawa dananya keluar Indonesia, maka imbal hasil SBN akan kembali naik. Kenaikan imbal hasil dilakukan untuk membuat investor tertarik kembali menanamkan uangnya di dalam negeri.

Bila imbal hasil naik, maka dampaknya harus ditanggung oleh fiskal dengan membayar bunga lebih tinggi. Sehingga, kenaikan suku bunga dan inflasi betul-betul harus dimitigasi dampaknya, agar tidak menimbulkan shock terhadap APBN.

Maka itu, dia berjanji akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk mensinkronkan kebijakan yang bakal ditempuh. Sebab, tidak bisa hanya kebijakan moneter atau fiskal saja yang bekerja.

"Nah, ini Bank Indonesia harus adjust (menyesuaikan) dampaknya ke ekonomi tahun depan, seberapa resilience (tangguh) investasi kita tetap bertahap dalam kondisi kecenderungan suku bunga lebih tinggi dari tahun ini. Ini yang terus kami lihat," imbuhnya.

Sri Mulyani menambahkan, dirinya tidak mau salah mengambil langkah tanpa koordinasi dengan lembaga lainnya, karena bisa menghancurkan perekonomian negara. Hal ini pernah terjadi di Inggris.

"Kita perlu disiplin fiskal. Saat market sekarang turbulence, kalau kita nggak disiplin fiskal, confident (kepercayaan) bisa runtuh. Anda lihat di Inggris, salah fiskal posisi even ekonomi sekuat Inggris juga nge-gelempang," ulasnya.

Hal senada juga diungkapkan Ekonom Senior Raden Pardede. Ia mengatakan, tren suku bunga akan memasuki new normal interest rate. 

Salah satu yang perlu diwaspadai adalah cost bunga yang semakin tinggi. Apalagi, bank sentral AS (The Fed) diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 3,75% – 4%.

Dengan tren kenaikan yang demikian, ia memperkirakan, suku bunga The Fed tidak akan turun kembali di bawah 1% dalam 3 sampai 4 tahun ke depan. Kenaikan suku bunga The Fed turut mengerek naiknya suku bunga BI yang diperkirakan tidak akan kembali ke kisaran 3,5% dalam tiga tahun ke depan.

"Saya ingatkan tadi adalah bahwa ketegangan yang diakibatkan oleh kenaikan suku bunga ini bisa berakibat ke sektor lain dulu tidak langsung ke banknya kena. Lalu kemudian, akan menular ke bank,” ungkapnya sebelumnya, dikutip Sabtu (3/12/2022).

Seperti diketahui, Bank Indonesia pada 16-17 November 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Kebijakan ini untuk merespon The Fed yang kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 3,75% – 4% beberapa hari sebelumnya.

"Jadi ongkos bunga dan kredit akan naik ke level yang lebih tinggi. Tidak sama lagi seperti yang sebelumnya,” tambahnya.

Selain ongkos kredit yang semakin mahal, potensi penularan resesi global dan ketegangan di sistem keuangan, terutama akibat dari likuiditas dolar as yang mengering juga menjadi hal yang perlu diwaspadai. Kemudian, penurunan permintaan luar negeri terutama industri manufaktur padat karya dan ketidakpastian kebijakan pada tahun pemilu juga menjadi tantangan.

"Salah satu pertanyaan yang sulit dijawab adalah pembuatan kebijakan pada tahun pemilu. Tapi Berdasarkan pengalaman di tahun 2004 pengalaman pergantian pemerintah dari SBY ke Jokowi yang smooth, di 2024 juga saya pikir akan baik-baik saja,” yakinnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan, kenaikan suku bunga dipicu inflasi yang bakal tetap melonjak akibat kenaikan harga yang terjadi akibat imbas perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung berakhir. Kenaikan ini utamanya terjadi di bank sentral AS The Fed.

"Higher interest for longer, suku bunga yang tinggi akan berlangsung lama. Di AS kenaikan fed fund rate yang terakhir 75 bps menjadi 4 persen, kemungkinan Desember akan naik lagi jadi 50 bps sehingga 4,5 persen," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (21/11/2022).

Kenaikan bunga ini bahkan diprediksi banyak pelaku bisa kembali turun pada semester II-2023. Sebab, inflasi AS masih tinggi di atas 8 persen.

"Kami perkirakan akan naik lagi dari 4,5 persen menjadi 5 persen. Ada lagi yang memperkirakan 5,25 persen dan puncaknya di kuartal I dan kuartal II (2023) dan tidak akan segera turun, dan inilah higher for longer," imbuhnya.

Begitu juga dengan bank sentral Eropa yang diperkirakan bakal terus melanjutkan era suku bunga tinggi. Pasalnya, inflasi di Eropa mencapai 10 persen dan di Inggris mendekati 11 persen pada Oktober 2022.

"Di Eropa juga begitu, ICB bank sentral Eropa juga terus menaikkan suku bunga dan juga di Inggris. Inilah higher interest rate for longer dan tentu saja karena inflasinya dari sisi supply energi dan pangan belum tentu akan segera turun," jelasnya.

Lonjakan inflasi inilah yang membuat kebijakan banyak bank sentral makin hawkish. Kondisi ini membuat makin banyak negara diperkirakan jatuh ke lubang resesi di tahun depan.

"Sehingga kejar-kejaran antara menaikkan suku bunga dan inflasi tinggi ini yang kenapa disebut risiko stagflasi. Pertumbuhan yang stagnan atau cenderung menurun bahkan sekarang ada risiko resflasi, risiko resesi dan tingginya inflasi," paparnya panjang lebar. (tim redaksi)

#kenaikansukubunga
#imbaskenaikansukubunga
#interestrate
#bankindonesia
#menkeusrimulyani
#gubernurbiperrywarjiyo
#inflasi
#risikostagflasi
#risikoresesi

Tidak ada komentar