Breaking News

61 dari 102 Pinjol Merugi, Oktober 2022 Kerugian Tembus Rp186,08 Miliar

Pinjaman online. Foto: Ilustrasi/ Shutterstock

WELFARE.id-Industri pinjaman online (pinjol) legal ternyata tengah "berdarah-darah". Biasa tuai untung, per Oktober 2022 mereka menelan kerugian hingga Rp186,08 miliar.

Jumlahnya terbalik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang untung Rp262,52 miliar. Jika dibandingkan Januari 2022 yang kerugiannya hanya sebesar Rp16,14 miliar, maka kerugian perusahaan pinjol berlipat-lipat lebih dari 10 kali lipat.

Kerugian bisnis pinjol ini sudah terasa sejak awal tahun hingga Oktober 2022. Bulan sebelumnya, kerugian pinjol sebesar Rp142,13 miliar.

Mengutip Statistik Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Selasa (6/12/2022), pendapatan operasional pinjol lebih kecil dibandingkan beban operasionalnya. Jumlah pendapatan operasional pinjol tercatat Rp7,071 triliun, sedangkan jumlah beban operasionalnya mencapai Rp7,123 triliun.

Beban operasional itu terutama berasal dari peningkatan beban ketenagakaerjaan yang meningkat menjadi Rp1,736 triliun atau dua kali lipat dibandingkan Mei 2022 lalu. Lalu, beban pemasaran juga meningkat menjadi Rp2,303 triliun.

Selanjutnya, beban umum dan administrasi mencapai Rp1,538 triliun, beban pengembangan dan pemeliharaan teknologi informasi Rp745,34 miliar. Lalu, beban keuangan sebesar Rp351 miliar dan beban kerja sama Rp288,23 miliar.

Begitu pula dengan pendapatan non operasionalnya yang hanya Rp233,64 miliar. Padahal, beban non operasionalnya naik lebih besar yaitu Rp330,20 miliar. 

Beban nonoperasional meningkat lebih dikarenakan laba (rugi) selisih kurs. Laporan kerugian bisnis pinjol juga diuraikan OJK.

Dari hasil kinerja 102 perusahaan penyelenggara yang terdiri dari 95 perusahaan pinjol konvensional dan 7 perusahaan pinjol berbasis syariah. Dari 102 pinjol tersebut mencatat total aset Rp5,260 triliun, dengan liabilitas Rp2,451 triliun.

OJK mengungkapkan, bahwa sebanyak 61 dari 102 penyelenggara pinjol terdaftar masih mengalami kerugian. Selain itu, 3 pinjol masih mencatatkan ekuitas yang negatif.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (IKNB OJK) Ogi Prastomiyono mengatakan, industri pinjol mempunyai potensi yang besar untuk tumbuh. Sebab, kondisi di lapangan, masih banyak masyarakat yang belum terlayani lembaga jasa keuangan (LJK) yang sudah ada seperti perbankan.

OJK pun berupaya menjadikan sektor pinjol terus berkembang dan berkelanjutan. "Bukan hanya euforia yang muncul, kemudian tiba-tiba hilang begitu saja," katanya dalam acara diskusi media, dikutip Selasa (6/12/2022).

Namun, menurutnya saat ini kondisi pinjol banyak yang belum stabil. OJK mencatat bahwa hingga saat ini jumlah pinjol yang terdaftar dan berizin mencapai 102 penyelenggara.

"Ada 61 yang masih rugi, ada 3 negative equity, ada 21 yang modalnya masih di bawah Rp25 miliar," ungkap Ogi. Untuk itu, OJK terus melakukan pembenahan. 

OJK misalnya mengeluarkan POJK Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (POJK LPBBTI/Fintech P2P Lending). "Aturan ini sangat ketat. Kita lihat mana yang survive dan mana yang tidak," katanya.

Salah satu poin penting ketentuan baru yang diatur dalam POJK LPBBTI ini adalah ketentuan permodalan saat pendirian. Penyelenggara LPPBTI harus didirikan dalam bentuk badan hukum perseroan terbatas dengan modal disetor pada saat pendirian paling sedikit Rp25 miliar. 

Selain itu, penyelenggara pinjol juga diwajibkan memiliki ekuitas paling sedikit Rp12,5 miliar. "Kenapa Rp25 miliar? Awalnya Rp2,5 miliar, dari situ masih ada yang survive setengahnya," ujarnya.

Menurutnya, bisnis model pinjol pada 2 tahun pertama akan rugi. "Maka kita alokasin 50 persen untuk menyerap tahun pertama," ungkapnya.

OJK juga menyoroti bunga yang diterapkan pinjol. "Komunikasi harus jelas (terkait bunga) 0,4 persen per hari diterjemahkan 144 persen. Jangka waktu konsumtif jangka pendek, ada 1-3 bulan. Akan tetapi ada juga sifat produktif 12-24 persen tergantung risiko," rincinya.

Upaya tersebut dilakukan OJK agar bisnis pinjol bisa berkelanjutan. Kemudian, ada fit and proper pengurus. Lalu, dilakukan penerapan risk manajemen, tata kelola, hingga audit di industri pinjol. (tim redaksi)

#pinjol
#pinjamanonline
#pinjolmerugi
#ojk
#pinjollegal
#pinjolberizin
#fintech
#financialtechnology

Tidak ada komentar