Breaking News

Tahun Depan Dunia di Ambang Resesi, Jahja Setiaatmadja: Indonesia Bebas Resesi 2023

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja. Foto: net

WELFARE.id-Meski sejumlah lembaga keuangan dunia memprediksi akan terjadinya resesi tapi Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja menilai Indonesia tidak akan masuk ke jurang resesi. 

Sejumlah faktor positif, termasuk kinerja cemerlang ekspor komoditas sejumlah sumber daya alam, kinerja sektor perbankan yang mumpuni dinilai menjadi faktor pendorong tidak akan terjadinya resesi.

Optimisme Jahja berdasarkan beberapa hal. Pertama, kinerja ekspor komoditas CPO, aluminium dan komoditas tambang mineral lainnya yang terus membaik lantaran tingginya permintaan dari pasar global seperti Tiongkok, Uni Eropa, Korea Selatan yang fokus membangun mobil listrik.

Di satu sisi, pemerintah juga memberlakukan kebijakan pelarangan ekspor mentah mineral demi menggenjot hilirisasi. Hasilnya investasi mengalir deras. Salah satunya di Morowali, Sulawesi yang menarik investasi triliunan rupiah untuk pembangunan smelter.

”Tahun 2023 kalau saya jujur masih optimis. Kita bersyukur sama Tuhan itu semua (bahan baku baterai mobil istrik) ada di Indonesia. Mereka butuh kita. Ada beberapa pengamat yang rada sinis bilang ini kok Tiongkok semua masuk di Sulawesi harta kita digali habis. Bukan itu saya lihat. Mereka itu bisa investasi triliunan rupiah satu smelter itu triliunan," katanya. 

Ditambahkan juga, reproses bahan mineral tersebut memberi nilai tambah. Mulai dari pajak hasil ekspor, serapan tenaga kerja lokal sebagai additional buying power yang timbul dimasyarakat. 

Di Sulawesi, ratusan ribu tambahan tenaga kerja terampil didatangkan dari Jawa yang turut melakukan spending ke perekonomian lokal.

”Negara lain yang gak punya tambang mineral itu benar-benar susah. Kalau berdasarkan bahan konsumsi saja berat karena daya beli masyarakat masih rendah. Jadi untuk ekspansi produk–produk manufaktur biasa juga masih berat,” katanya juga. 

”Makanya saya cukup optimis ya. Ya bukan optimis kita bisa meledak hebat tapi jauh lebih baik dari negara tetangga. Saya sih bilang Indonesia gak akan masuk resesi,” tambah Jahja lagi.

Dari sisi industri jasa keuangan, likuiditas perbankan nasional juga masih aman, di tengah kondisi strength US dolar. Nilai tukar rupiah memang terdepresiasi dari Rp14.200 perdolar AS ke Rp15.800 perdolar AS bahkan mendekati Rp16.000 perdolar AS. 

Namun secara umum hanya terdepresiasi sekitar 8-9 persen, lebih baik dari negara lain seperti Japanese Yen yang terdepresiasi 30 persen, Poundsterling, Euro, Australian dolar terdepresiasi sekitar 20-30 persen.

”Ya memang dolar AS-nya menguat, gila naiknya sekian banyak persen gak heran dolar AS menguat sekali kan. Logisnya memang begitu. Jadi kalo perbankan sih oke lah saya pikir," tandas Jahja lagi. (tim redaksi)


#jurangresesi
#optimisme2023
#presidendirekturptbca
#jahjasetiaatmadja
#sumberdayaalam
#mobillistrik
#hilirisasiindustri

Tidak ada komentar