Breaking News

PHK Marak, 240 Ribu Orang di AS Ajukan Klaim Tunjangan Pengangguran

Warga AS mengantre untuk mendaftar tunjangan pengangguran di Frankfort, Kentucky. Foto: AP

WELFARE.id-Ancaman resesi di tengah belum selesainya pandemic COVID-19 membuat banyak perusahaan di Amerika Serikat (AS) melakukan pengurangan karyawan. 

Akibat terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) membuat pengangguran di Negeri Paman Sam itu melonjak. 

Bukti, jumlah pengangguran di AS yang mengajukan tunjangan melonjak hingga 240 ribu orang pada pekan lalu. Jumlah itu tertinggi sejak 13 Agustus 2022 lalu.

Departemen Tenaga Kerja AS menyatakan angka tersebut adalah capaian dari penghitungan mingguan pada 19 November 2022 lalu. 

Angka tersebut melonjak tajam sebanyak 17 ribu dari pekan sebelumnya yang mencapai 222 ribu orang.

Sementara itu, dalam dua pekan berturut-turut, jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran meningkat 1,55 juta pada 12 November 2022.

Jumlah klaim tunjangan pengangguran ini meroket tajam akibat pasar tenaga kerja yang sangat ketat. Bahkan kondisi ini diperparah usai masa lockdown pandemi berakhir.

Kondisi itu semakin parah lantaran perusahaan besar di bidang teknologi juga mulai melakukan PHK massal. Meski demikian, PHK massal itu belum tercermin dalam klaim tunjangan pengangguran minggu lalu.

Kepala Ekonom Raymond James Eugenio Aleman menilai banyak pekerja yang di-PHK ditanggung oleh pembayaran pesangon. 

Aleman mengatakan dia sedang mencari tanda-tanda peningkatan pengangguran dari industri lain. Sebab, industri lain kebanyakan tidak memiliki pesangon ketika di-PHK. ”Dan itu masih belum terjadi hari ini," katanya seperti dilansir dari CNN, Kamis (24/11/2022).

Mark Zandi, kepala ekonom untuk analitik Moody, mengatakan rata-rata klaim tunjangan pengangguran awal mingguan di bawah 215 ribu tahun ini. Sementara 240 ribu klaim untuk minggu lalu merupakan peningkatan dari rata-rata itu.

"PHK sangat buruk bagi mereka yang kehilangan pekerjaan, tetapi itu berarti pasar kerja mendingin, yang sangat penting untuk menurunkan inflasi dan mencegah kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh Federal Reserve," ujar Zandi.

Zandi juga mengatakan dia memperkirakan akan melihat lebih banyak PHK di 2023. Pasalnya, perusahaan besar di tiap sektor mulai mengurangi gaji para pegawainya. (tim redaksi)


#resesi
#phk
#pandemicovid19
#amerikaserikat
#perekonomianmemburuk
#pengurangankaryawan

Tidak ada komentar