Breaking News

Pesanan dari India dan Eropa Antre, Sektor Batu Bara Masih Cuan hingga Akhir Tahun

Kapal tongkang pengangkut batu bara. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Tahun ini menjadi periode yang menggembirakan bagi emiten yang bergerak di bidang tambang batu bara. Bagaimana tidak, sejumlah emiten tambang batu bara mencetak kenaikan laba bersih hingga ratusan persen.

Sejumlah emiten batu bara kelas kakap, sebut saja PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Bayan Energy Tbk (BYAN) kompak mencetak pertumbuhan laba bersih hingga ratusan persen. Meski harga batu bara mulai kehilangan pijakan level tertingginya, PTBA tidak takut. 

"Misal, Rusia tawarkan batu bara lebih murah pun kami tidak takut, ujar Direktur Keuangan PTBA Farida Thamrin, dikutip Senin (7/11/2022). Bahkan, meskipun, Tiongkok lebih memilih mengambil batu bara Rusia, tidak akan mengurangi permintaan ke PTBA.

Sebab, kata dia, permintaan batu bara dari India sama tingginya dengan ekspor ke Tiongkok. Bahkan, lanjut Farida, muncul tren permintaan batu bara dari Eropa. 

"Para duta besar (dubes) datang langsung untuk meminta batu bara kami," ucapnya blak-blakan. PTBA sejauh ini memiliki cadangan terbukti sekitar 3 miliar ton baru bara. 

Ini setara dengan jangka waktu penambangan hingga 100 tahun lagi. Menanggapi cuan di sektor pertambangan batu bara, CEO Edvisor.id Praska Putrantyo menilai, kinerja keuangan emiten sektor tambang, khususnya batu bara, diperkirakan masih akan moncer hingga akhir 2022. 

Kenaikan harga rata-rata komoditas, seperti logam dan batu bara sepanjang tahun ini dibanding tahun lalu menjadi kontributor peningkatan pendapatan emiten di sektor ini. 

Ditambah, belum ada tanda-tanda berakhirnya perang antara Rusia-Ukraina serta kebutuhan komoditas energi, khususnya batu bara menjelang musim dingin menjadi sentimen penopang harga batu bara.

Sentimen kekhawatiran perlambatan bahkan resesi ekonomi pun memicu penurunan pada harga komoditas sekaligus membuat harga rata-rata komoditas tambang tahun depan berpotensi tertekan. 

Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan memperkirakan, harga batu bara akan tetap tinggi, didorong oleh larangan ekspor batu bara Rusia dan adanya permintaan yang lebih tinggi selama musim dingin.

Di sisi lain, kesenjangan harga antara Indonesian Coal Index  (ICI) dan harga batu bara Newcastle tampak semakin melebar. Salah satu penyebabnya adalah harga batu bara Rusia yang lebih murah. 

Batu bara Rusia saat ini membanjiri pasar Tiongkok dan India. "Meskipun ekspor Rusia ke Tiongkok dan India meningkat, kami meyakini Rusia telah mencapai kapasitas distribusi maksimumnya. Karena mereka memiliki keterbatasan kapasitas transportasi ke Asia," yakinnya, dikutip Senin (7/11/2022).

Sehingga, ia optimistis, Rusia masih belum dapat mengganti kembali semua penjualannya yang hilang akibat larangan ekspor Uni Eropa. Maka, cukup masuk akal bagi Rusia untuk meredakan perang harga. 

Jarak antara ICI dengan Newcastle masih bisa menyempit. Pun demikian dengan CGS CIMB Sekuritas.

Riset mereka menyebutkan, terlalu dini menyimpulkan bahwa harga jual batu bara akan anjlok dalam beberapa bulan ke depan. Apalagi, permintaan batu bara masih tinggi selama musim dingin dan rendahnya volume produksi batu bara selama musim hujan yang berakibat terhadap penurunan stok.

Hanya saja, CGS CIMB Sekuritas menyebutkan, kondisi berbeda cenderung terjadi setelah musim dingin. Permintaan batu bara diprediksi turun akibat perlambatan ekonomi global, sehingga bisa menekan harga jual komoditas tersebut.

"Kami memperkirakan, rata-rata harga jual batu bara tahun ini berada di level USD321 per ton dan diprediksi turun menjadi USD211 per ton pada 2023. Harga jual tersebut masih jauh lebih tinggi dari rata-rata harga jual batu bara pada 2021 sekitar USD135 per ton,” tulis riset CGS CIMB Sekuritas, dikutip Senin (7/11/2022).

Di sisi lain, terkait dampak pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) batu bara mulai 2023 mendatang lanjutnya, mereka menilai, justru bakal menguntungkan beberapa produsen batu bara. Di antaranya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan menjadi produsen batu bara yang paling diuntungkan didukung mayoritas penjualan batu bara untuk pasar domestik.

BLU Batu bara juga akan menguntungkan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) didukung porsi penjualan sebanyak 34% untuk pasar domestik, PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan porsi penjualan 23% untuk pasar domestik, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan porsi penjualan 25% untuk pasar dalam negeri.

BLU batu bara agen menjadi agen pemerintah untuk mengutip pungutan ekspor batu bara dan dana tersebut akan digunakan untuk membayar selisih harga jual batu bara untuk dalam negeri dengan ekspor. 

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan harga jual batu bara untuk pembangkit listrik mencapai USD70 per ton dan seilai USD90 per ton untuk sektor semen.

Berbagai faktor tersebut mendorong CGS CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi netral untuk saham emiten sektor batu bara. Sedangkan saham pilihan adalah UNTR direkomendasikan add dengan target harga Rp37.000, saham PTBA dengan rekomendasi hold target harga Rp3.750. Sementara ADRO direkomendasikan hold dengan target harga Rp3.750, dan ITMG direkomendasikan reduce dengan target harga hanya Rp37.000. (tim redaksi)

#emitenbatubara
#sektorbatubara
#tambangbatubara
#prediksisekuritas
#sahambatubara
#permintaanbatubaramasihtinggi
#permintaandarieropa

Tidak ada komentar