Breaking News

Masih Kinclong, Pesta Kenaikan Harga Batu Bara Masih Berlanjut hingga Akhir 2022

Aktivitas di tambang batu bara. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Cuan masih mengepul dari bisnis batu bara. Sejumlah taipan tercatat mencetak pertumbuhan laba bersih signifikan secara tahunan pada kinerja keuangan periode kuartal III/2022. 

Pesta kenaikan harga batu bara diproyeksi masih berlanjut hingga akhir 2022 sekaligus mengerek harga sahamnya. Optimistis itu masih berlanjut, meski dibayangi rencana pemerintah untuk menutup pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. 

Hal tersebut sempat disampaikan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina, memproyeksikan, saham emiten batu bara masih akan cerah hingga akhir tahun 2022. 

Oleh karena itu, Mirae Asset Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi saham energi, khususnya batu bara sebagai saham pilihan. Terlebih lagi jika mempertimbangkan kinerja keuangan perusahaan tambang batu bara yang positif hingga semester pertama tahun 2022.

"Kami tetap mempertahankan sektor ini karena memang ini yang performanya paling luar biasa," imbuhnya. Dia menyebutkan, ada empat saham sektor energi yang direkomendasikan Mirae Asset Sekuritas. 

Keempat saham tersebut adalah saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indika Energy Tbk (INDY). Setidaknya, ada tiga alasan utama mengapa saham energi layak dijagokan untuk saat ini. 

Alasan pertama tidak lain karena harga komoditas batu bara yang masih prima. Prospek harga batu bara juga dinilai akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini.

"Dengan kenyataan itu, kami melihat bahwa paling tidak sampai tahun ini, kinerja perusahaan batu bara akan tetap bagus," lanjut Martha. Alasan kedua, penghentian pasokan energi gas dari Rusia. 

Dia mengatakan, keputusan Rusia untuk menghentikan penyaluran gas ke Eropa membuat perusahaan pembangkit listrik harus mencari alternatif energi lain. Dalam hal ini, batu bara menjadi opsi yang dipilih untuk menggantikan gas.

"Keputusan Rusia yang menghentikan penyaluran gas ke Eropa ini juga membuat perusahaan pembangkit listrik di Eropa harus mencari sumber energi baru. "Energi lain selain gas, maka batu bara menjadi salah satu pilihan dan Indonesia berpotensi untuk menyuplai batu bara ke Eropa," imbuhnya.

Dia juga melihat, potensi lonjakan permintaan batu bara dari Tiongkok, India, Korsel, hingga Eropa jelang musim dingin. Pada akhirnya, permintaan yang tinggi akan mendongkrak harga batu bara.

Sementara, terkait opsi perusahaan batu bara dapat melakukan diversifikasi untuk menghadapi rencana penutupan PLTU batu bara, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM mengatakan, penutupan PLTU memang telah digadang sebelumnya dalam rangka memenuhi target penurunan emisi karbon.

"Dengan langkah penutupan ini tentu saja menjadi tantangan untuk emiten-emiten batu bara. Emiten batu bara saat ini dituntut untuk melakukan diversifikasi usaha nonbatu bara," kata Roger, dikutip Rabu (23/11/2022).

Ia melihat diversifikasi dari bisnis batu bara telah dilakukan oleh beberapa emiten seperti PT Indika Energy Tbk. (INDY), dan PT TBS Energy Utama Tbk. (TOBA) yang merambah kendaraan listrik. Selain kendaraan listrik, lanjutnya, emiten batu bara seperti PT Mitrabara Adiperdana Tbk. (MBAP) dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) mendiversifikasi bisnisnya ke energi baru terbarukan (EBT).

Lebih lanjut, ia melihat terdapat katalis positif pada saham batu bara dengan kinerja hingga kuartal III/2022 yang rata-rata di atas ekspektasi. Sementara itu, lanjutnya, katalis negatif datang dari tren penurunan harga batu bara yang terlihat signifikan memasuki kuartal IV/2022. (tim redaksi)

#emitenbatubara
#hargabatubara
#kinerjakeuanganemitenbatubara
#diversifikasibatubara
#sahamenergi
#perusahaantambangbatubara

Tidak ada komentar