Breaking News

Kasus "Cucu" Omicron Mulai Bermunculan, Kenali Karakteristik Covid Subvarian XBB

Tes swab. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Singapura sedang dilanda penyebaran virus Covid subvarian Omicron XBB. Transmisi XBB pun sudah terjadi antarnegara, dimana warga Indonesia ada yang tertular XBB sepulang dari berlibur ke Singapura.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril mengatakan, dari 12 kasus XBB yang tercatat di Indonesia, 2 pasien tertular usai perjalanan ke Singapura. "Sedangkan 10 kasus lagi dari transmisi lokal," paparnya, dikutip Sabtu (5/11/2022).

Dokter spesialis mikrobiologi klinik konsultan, Angky Budianti mengatakan, subvarian XBB, merupakan turunan dari Omicron SARS-CoV-2 atau B.1.1.529. Ia memiliki kekhasan pada kecepatan penyebaran, namun mayoritas gejala yang dilaporkan bersifat ringan.

"Memang Omicron ini termasuk juga XBB, lebih khas pada kecepatan penyebaran dan ada kemungkinan bisa imun escape. Soal imun escape ini masih dalam proses pengawasan oleh WHO. 

Meskipun demikian, mayoritas klinisnya itu lebih ringan,” kata dokter dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ini dalam webinar yang diikuti di Jakarta, dikutip Sabtu (5/11/2022).

Dia menjelaskan, mutasi pada virus sebetulnya merupakan hal yang normal. Itu adalah cara mempertahankan hidupnya dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan tempat virus tersebut hidup.

Pada Omicron, varian ini memiliki 32 titik mutasi, dimana yang terbanyak terdapat pada bagian gen yang mengkode protein spike. Dengan demikian, varian Omicron termasuk di dalamnya subvarian XBB, memiliki kekhasan penyebaran yang cukup cepat dibanding varian sebelumnya.

Mayoritas klinis yang ditunjukkan pasien yang terinfeksi XBB umumnya bergejala ringan, yaitu gejala infeksi saluran napas atas seperti batuk, pilek, demam, dan kadang nyeri menelan atau sakit tenggorokan. Dia juga menjabarkan, subvarian XBB yang masih sesama varian Omicron tidak memiliki perbedaan yang terlalu bermakna. 

Hal tersebut berbeda jika dibandingkan dengan varian Delta dengan tingkat penyebaran yang cepat dan bergejala berat, sehingga banyak pasien yang dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia. "Tapi, kalau sesama varian Omicron, perbedaannya tidak terlalu bermakna seperti XBB ini,” ujarnya.

Subvarian XBB pertama kali dilaporkan di India pada Agustus lalu. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 27 Oktober 2022, prevalensi XBB di seluruh dunia sekitar 1,3 persen dan sudah ditemukan di 35 negara.

Varian Omicron, lanjutnya, sebetulnya sudah mempunyai beberapa subvarian atau turunan, yaitu BA.1, BA.2, hingga BA.5. Sementara XBB merupakan rekombinan dari dua turunan BA.2, yakni BA.2.10.1 dan BA.2.75. 

Dalam bahasa awam, Angky mengibaratkan XBB sebagai “cucu” dari Omicron. Selain XBB, Angky juga menyoroti BQ.1 yang merupakan turunan dari BA.5. Subvarian BQ.1 memiliki prevalensi cukup besar sekitar 6 persen atau lebih banyak dibanding XBB dan sudah menyebar di 65 negara.

BQ.1 memiliki kemampuan untuk menghindari sistem imun tubuh (imun escape). Namun, hingga saat ini masih belum ada data yang tersedia mengenai beratnya penyakit dan kemampuan BQ.1 untuk bersembunyi dari sistem imun tubuh.

Sementara itu, kemampuan BQ.1 untuk bersembunyi dari vaksin (vaksin escape) masih dalam tahap penelitian. Namun, proteksi vaksin terhadap infeksi BQ.1 kemungkinan berkurang dan proteksi terhadap beratnya penyakit tidak ada dampak yang besar.

Angky mengatakan XBB dan BQ.1 masih tetap dalam pengawasan WHO. Hal-hal yang diawasi, termasuk bagaimana tingkat kecepatan penyebarannya, manifestasi beratnya penyakit, kemampuannya bersembunyi dari vaksin, hingga apakah terdapat perbedaan karakteristik yang bermakna jika dibandingkan dengan varian Omicron yang asli.

"Semoga saja ini tidak jadi varian of concern baru, tapi tetap menjadi subvariannya dari Omicron,” kata Angky. Ditanya mengenai efektivitas vaksinasi COVID-19, dia menilai vaksinasi masih memiliki efektivitas yang cukup tinggi untuk mencegah gejala berat yang mungkin ditimbulkan dari infeksi varian Omicron, termasuk subvarian XBB.

“Untuk vaksin, data sampai saat ini efektivitasnya masih cukup tinggi sebetulnya untuk mencegah penyakit yang berat dan juga mencegah kematian terhadap variant of concern yang ada, yaitu Omicron,” akunya.

Dia mengatakan, bahwa perlindungan vaksin memiliki tingkatan yang berbeda-beda pada setiap individu, bergantung status imun orang tersebut. Hingga saat ini, imbuhnya, belum ada vaksin yang bisa 100 persen efektif bisa mencegah penyakit sehingga protokol kesehatan masih diperlukan.

Dia menyebutkan, di negara maju sudah menerapkan vaksin pengulangan (booster) yang berisi virus SARS-CoV-2 yang dilemahkan dengan varian Delta dan varian Omicron atau disebut vaksin bivalen. 

Vaksin tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap XBB sebagai bagian dari varian Omicron, terutama pelindungan terhadap kemungkinan gejala berat.

"Saya masih belum tahu apakah nantinya masuk juga ke Indonesia vaksin bivalen tersebut. Namun dengan adanya vaksin bivalen, akan membuat kita bisa kemungkinan tercegah dari infeksi subvarian-subvarian Omicron ini. Akan lebih tinggi kemampuannya untuk mencegah. Begitu juga nanti kalau misalnya muncul varian-varian yang lain,” terangnya lagi.

Dia kembali menjelaskan, mayoritas kasus yang ditemukan umumnya tetap bergejala ringan, kemungkinan kebutuhan terhadap vaksin pengulangan dapat berkurang. Namun orang-orang dengan ketahanan imun yang kurang baik, mungkin akan membutuhkan vaksin pengulangan setiap satu tahun atau beberapa tahun sekali. (tim redaksi)

#viruscovid19
#covid19
#omicronsubvarianxbb
#imuntubuh
#gejalaringan
#penularancepat
#vaksinasicovid19

Tidak ada komentar