Breaking News

Kasus COVID-19 Kembali Naik, Kematian di DKI Jakarta dan Jawa Tengah Paling Tinggi

Orang pakai masker. Foto: Ilustrasi/ Antara

WELFARE.id-Kasus COVID-19 di Jakarta kembali meningkat. Melansir situs corona.jakarta.go.id, Rabu (2/11/2022), lonjakan kasus terlihat meningkat sejak 25 Oktober. 

Pada periode 20-24 Oktober terdapat total penambahan kasus baru sebanyak 3.594 kasus atau rata-rata mencapai 718 kasus bertambah tiap harinya. Angka ini naik pada periode 25-29 Oktober menjadi 5.257 kasus atau rata-rata bertambah 1.051 kasus per hari. 

Sekretaris Perkumpulan Dokter Alumni SMAN 8 Jakarta Ngabila Salama yang juga Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengatakan, kenaikan kasus baru COVID-19 di Jakarta mengerek naik tingkat positif menjadi 4% atau mendekati batas ideal tingkat positif yang ditetapkan WHO sebesar 5%. 

"Kasus positif naik 38% dari minggu sebelumnya. Kematian naik 56% dari minggu sebelumnya, CFR (case fatality rate) pun naik menjadi 0,21% menandakan 'missing cases' di lapangan tinggi," kata dia kepada wartawan, dikutip Rabu (2/11/2022).

Dia menambahkan, CFR sama seperti pertengahan Juli 2022 saat puncak kematian omicron BA.2. CFR akan baik jika dapat ditekan kurang dari 0,1% atau maksimal 1 kematian per 1000 kasus positif. 

Sementara itu, kasus varian baru XBB di Jakarta telah ditemukan sebanyak 5 kasus dan naik proporsi genomiknya dari 1,4% menjadi 7% alam waktu 1 minggu. Untuk kasus subvarian BA.2.7.5 sudah ditemukan 17 kasus. 

"Varian XBB menyebabkan kenaikan kasus di beberapa negara dunia. Ada tren kenaikan kasus pada balita dan anak 6-18 tahun tetapi proporsi kasus positif pada anak tidak naik," sambungnya.

Dia menuturkan, upaya yang perlu dilakukan guna menekan penyebaran kasus COVID-19 serta tingkat kematian pasien COVID-19 yakni penelusuran genomik atau 'whole genomic sequencing' (WGS) yang harus ditingkatkan terutama kasus berat dan meninggal di RS. WGS juga diminta dilakukan secara acak terhadap kasus positif yang ada di tengah masyarakat. 

Masyarakat juga masih terus diimbau agar tetap menjaga kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan. Sementara itu, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tambahan kasus Covid-19 selama sepekan terakhir (25-31 Oktober) mencapai 20.415 atau melonjak 40,18% dibandingkan pekan sebelumnya (18-24 Oktober) yang menembus 14.563.

Kasus di atas 20.000 per pekan ini terbilang sangat tinggi jika dibandingkan pekan-pekan sebelumnya yang hanya di atas 10.000. Pada pekan pertama Oktober (4-10 Oktober), jumlah kasus tercatat 10.424 sementara pada pekan kedua (10-17 Oktober) tercatat 12.588 sementara pekan ketiga (18-24 Oktober) tercatat 14.563.

Melonjaknya kasus COVID-19 pada pekan lalu tidak bisa dilepaskan dari tingginya kasus di DKI Jakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Dalam sepekan terakhir, kasus COVID-19 di Jakarta bertambah 6.968, atau melonjak 37,2% dibandingkan pekan sebelumnya.

Kasus di Jawa Barat bertambah 2.798 pada pekan lalu atau naik 32,6% dibandingkan pekan sebelumnya.  Kasus di Jawa Tengah tercatat 1.524 pada pekan lalu atau melonjak 42% dibandingkan pekan sebelumnya.

Kasus Covid-19 melonjak setelah ditemukan varian XBB. Kementerian Kesehatan mengumumkan jika varian tersebut sudah terdeteksi di Indonesia pada 22 Oktober lalu.

"Peningkatan kasus gelombang XBB di Singapura berlangsung cepat dan sudah mencapai 0,79 kali gelombang BA.5 dan 0,46 kali gelombang BA.2," ujar Juru Bicara COVID-19 Kementerian Kesehatan M Syahril. Lonjakan kematian paling banyak pada pekan lalu dilaporkan dari Jawa Tengah. 

Provinsi tersebut melaporkan jumlah kematian sebanyak 50 jiwa, melonjak 28,2% dibandingkan pekan sebelumnya (39). Sementara itu, angka kematian di Jakarta melonjak 55% menjadi 14 jiwa pada sepekan terakhir. (tim redaksi)

#covid19
#subvarianxbb
#kasuscovidmelonjak
#tingkatkematiannaik
#prokes
#peningkatankasuscovid19

Tidak ada komentar