Breaking News

Indonesia Berencana Bikin Bank Emas, Ini Kata Ekonomi

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Pemerintah Indonesia berencana membentuk bank emas atau bullion bank. Rencana tersebut tertuang dalam Rancangan Undang-undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK). 

Adapun bullion bank atau bank emas adalah bank yang melakukan transaksi pembelian dan penjualan logam mulia, termasuk ekspor impor hingga proses penyimpanannya.

"Di dalam DIM (daftar inventarisasi masalah) pemerintah juga mengusulkan untuk memasukkan pengaturan mengenai kegiatan usaha bullion," ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR, dikutip Minggu (20/11/2022). 

Menurut Menkeu nantinya bank emas akan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bank emas dapat menjadi pilihan lain bagi investor untuk berinvestasi. "Oleh karena itu kita akan lihat aturan, kalau kebutuhan semakin banyak dari masyarakat misalnya simpanan dalam bentuk simpanan emas maka perlu diakomodasi," katanya. 

Wacana ini sempat mengemuka pada tahun lalu dan awal tahun ini. Rencana ini awalnya dilontarkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengingat ekspor komoditas emas di tanah air cukup baik. Catatannya saat itu, ekspor emas dan emas granule naik menjadi USD5,28 juta. Apalagi Indonesia memiliki lokasi tambang emas terbesar di dunia. 

Kemudian dengan dibentuknya bullion bank memiliki urgensi agar industri tidak lagi menitipkan emasnya di bullion bank Singapura. "Indonesia sebagai salah satu produsen emas yang terbesar di Asia. Ini tentunya bisa memanfaatkan produksi emas baik dari Grasberg maupun Lapangan Merdeka, sehingga kita tidak perlu memarkir emasnya di bullion bank Singapura," ucapnya. 

Rencana ini mendapat apresiasi oleh beberapa ekonom. Meski begitu, ekonom menyarankan supaya pemerintah dapat memasukkannya ke bursa pasar emas di London. "Regulasi harus jelas, mungkin ada baiknya masuk ke dalam anggota LBMA (London Bullion Market) agar lebih mendapatkan kepercayaan user (nasabah)," ujar Analis DCFX Futures Lukman Leong. 

Sebagai informasi, LBMA merupakan asosiasi pedagang logam mulia, dimana tugas mereka adalah mensertifikasi mutu dan standar produksi pabrik emas/perak di seluruh dunia. Batangan emas LBMA setidaknya harus memiliki standar kemurnian minimal 995,0 atau 99,5 persen. 

Adapun syarat untuk menjadi anggota LBMA kata Lukman minimal operasional bullion bank harus berjalan satu tahun terlebih dahulu. Dengan masuknya bullion bank menjadi anggota LBMA nantinya, keuntungan untuk mendapatkan akses pasar lebih besar, dan akan mudah dipercaya oleh calon investor. 

Lukman juga menjelaskan, dalam menjalankan operasional bank emas nantinya, Indonesia disarankan untuk bisa meniru skema bank emas di Singapura. Mengingat saat ini, menurut catatan pemerintah, banyak investor yang justru memarkirkan emasnya di Singapura. 

"Kalau untuk ditiru, hal seperti ini tujuannya untuk cutting cost, supaya tidak perlu diparkir di Singapura, sehingga bisa bersaing dalam hal biaya. Saya kira itu yang akan dilihat user (nasabah)," imbuhnya. 

Namun yang terpenting dalam membentuk aturan bank emas ini akan sangat tergantung pada kepercayaan calon investor atau nasabah itu sendiri. Sehingga perlindungan konsumen menjadi penting. 

Sementara itu, Analis Sinarmas Futures Ariston Tjendra menjelaskan, salah satu aktivitas bullion bank adalah tempat penyimpanan emas digital, dengan memastikan kualitas dan kuantitas fisik yang disimpan oleh para pedagang fisik emas digital. 

Ke depannya, kata Ariston industri perdagangan emas digital ini nantinya bisa menggunakan bank bullion baru tersebut untuk mendukung aktivitas transaksinya. "Pemerintah pastinya akan membuat bank ini sangat layak sebagai tempat penyimpanan emas. Ada banyak bank bullion yang bisa dijadikan standar acuan seperti bank-bank bullion yang menjadi anggota LBMA," jelasnya. (tim redaksi) 

#bankemas
#bullionbank
#indonesiabakanbukabankemas
#emas
#menkeu
#ruup2sk

Tidak ada komentar