Breaking News

Guru Indra Kenz Divonis 10 Tahun dan Denda Rp1 Miliar, Nasib Uang Korban Belum Jelas

Terdakwa Fakar Suhartami Pratama alias Fakarich dalam kasus Binomo. Foto: Istimewa/ Dok.Poskota

WELFARE.id-Fakar Suhartami Pratama alias Fakarich, 31 tahun, divonis 10 tahun penjara dan denda sebesar Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Guru trading Indra Kenz itu dinyatakan bersalah dalam kasus penipuan via aplikasi Binomo.

Vonis dibacakan majelis hakim yang diketuai Marliyus dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (2/11/2022). Putusan itu lebih tinggi dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya meminta kepada majelis hakim agar Fakarich dihukum 8 tahun penjara.

Majelis hakim menyatakan perbuatan Fakarich terbukti melanggar Pasal 45A Ayat (1) juncto Pasal 28 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). 

"Mengadili menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana dengan sengaja menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, yang menyebabkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik," sebut Marliyus.

Majelis hakim juga menyatakan terdakwa bersalah melanggar Pasal 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). 

"Terdakwa menerima atau menguasai transferan atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana," imbuhnya.

Sebelumnya, dalam dakwaan JPU Chandra Naibaho disebutkan, kasus ini berawal pada 2019. Saksi Brian Edgar Nababan selaku customer support Binomo diminta perusahaan Rusia 404 Group untuk menghubungi Fakarich.

Tujuannya, menawarkan untuk membuat konten video mempromosikan Binomo dengan bayaran Rp20-30 juta. Terdakwa selanjutnya menerima, lalu membuat konten video untuk mempromosikan Binomo di Hotel Adimulia, Kota Medan.

Usai membuat konten video, Fakarich menerima pembayaran Rp25 juta dari Binomo, selanjutnya konten itu diunggah di media sosial YouTube, Instagram, dan website pribadinya. Sehingga membuat orang menjadi tertarik untuk bermain Binomo.

"Kursus trading yang diajarkan terdakwa di antaranya saksi Gentur Ratih Ayu Widari, Debora Novina Ambarita, Johan Christian Lumbantobing, T Ibrahim Oaedi, dan Said Fuad Abbad," terang Chandra. Untuk mempermudah orang-orang mengakses Binomo, Fakarich mendaftar sebagai afiliator. 

Setiap orang yang mengikuti kelas milik terdakwa bernama Fakar Trading Binomo diwajibkan membayar sejumlah uang. "Orang yang telah terdaftar dalam kelas kursus diminta nomor ponsel, dimasukkan ke dalam grup Telegram yang dikelola terdakwa," tuturnya.

Grup mempermudah terdakwa memotivasi dan tutorial untuk bermain Binomo seperti menebak nilai yang terdapat di dalam, apakah naik atau turun. Pemain yang ingin bermain Binomo harus deposit terlebih dahulu minimal Rp140 ribu.

"Peserta kursus yang diselenggarakan terdakwa tetap lebih banyak mengalami kekalahan dalam bermain Binomo," tutur JPU lagi. Terdakwa dinilai memberikan harapan palsu menjadi kaya secara instan terhadap para korban. 

Padahal Binomo tidak mempunyai izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) Kementerian Perdagangan. "Pemain tanpa sadar mempertaruhkan uangnya secara untung-untungan," tuturnya lagi.

Dalam kasus ini Fakarich tidak sendirian. Indra Kenz selaku muridnya juga turut menjadi tersangka dalam kasus Binomo dan dituntut 15 tahun dengan denda Rp10 miliar.

Tersangka lain, Brian Edgar Nababan, Wiki Mandara Nurhalim, Vanessa Khong, Nathania Kesuma, dan Rudiyanto Pei. Dalam kasus ini total kerugian dari 118 korban mencapai Rp72,139 miliar.

Nasib para korban

Sayangnya, hingga kini belum ada kejelasan tentang ganti rugi terhadap korban. Dikutip dari wartakotalive.com, pada Maret 2022 lalu, Dirtipideksus Bareskrim, Brigjen Whisnu Hermawan berharap, barang bukti yang ditemukan penyidik akan dijadikan ganti rugi bagi korban.

Terakhir pada Juni 2022, Kasubdit II Dittipideksus Bareskrim Polri, Kombes Pol Candra Sukma Kumara menyampaikan, bahwa aset yang telah disita dari Indra Kenz telah mencapai Rp67 milliar. "Penyitaan aset berupa barang dan aset dengan nilai sekitar Rp67.141.043.715," kata Chandra Sukma Kumara kepada wartawan, kala itu.

Aset yang disita berupa dokumen, tanah dan bangunan, barang, serta uang tunai. (tim redaksi)

#binomo
#binaryoption
#investasibodong
#indrakenz
#fakarich
#korbanbinomo
#kerugiankorbanbinomo

Tidak ada komentar