Breaking News

Gerebek Pabrik Uang Palsu di Sukoharjo, Polisi Temukan Upal Siap Edar Miliaran Rupiah!

Uang palsu pecahan Rp100 ribu. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Polres Sukoharjo berhasil membongkar tempat pembuatan uang palsu di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dalam pengungkapan tersebut, polisi berhasil menyita barang bukti uang palsu pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu dengan total senilai Rp1,26 miliar.

Uang palsu tersebut dibuat di tempat percetakan buku dan kertas yang berlokasi di Kampung Larangan Kelurahan Gayam Sukoharjo. Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, mengatakan, pengungkapan pabrik uang palsu di wilayahnya merupakan hasil pengembangan dari kasus uang palsu yang didalami Polres Mesuji, Lampung, beberapa waktu lalu.

"Ini pengembangan dari yang didalami Polres Mesuji. Ada distribusi upal di Lampung hasil droping dari Jawa Tengah, yakni Sukoharjo. Akhirnya kita melakukan joint investigation atau penyelidikan bersama dengan penyidik dari Polres Mesuji," ujar AKBP Wahyu, dikutip Rabu (3/11/2022).

Dalam kasus tersebut, polisi berhasil mengamankan lima pelaku yang berperan sebagai pembuat dan pengedar uang palsu. Kelima tersangka adalah T (40) warga Pemalang sebagai operator mesin, S (52) warga Kemayoran sebagai tukang sablon, TH (53) warga Semarang yang berperan sebagai tukang desain, scan dan membuat pelat, P (47) warga Bandung sebagai pemasar/marketing, dan IM (39), warga Karanganyar dengan peran sebagai pimpinan percetakan yang mendanai serta memerintahkan para pelaku yang lain untuk membuat uang palsu.

"Ada lima orang berhasil kita amankan, punya peran masing-masing. Dari tukang desain, sablon, operator mesin sampai marketing," ulasnya.

Selain uang palsu, polisi juga menyita barang bukti berupa mesin cetak asal Jerman, kertas impor, komputer, alat sablon, hingga alat hitung uang. 

Kronologi peristiwa

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Lutfi menambahkan, awal pengungkapan kasus adalah pengembangan dari penangkapan di wilayah hukum Mesuji, Lampung. Dimana ada tiga orang yang diamankan untuk rangkaian kasus yang sama di Mesuji. 

Sedangkan di Jawa Tengah ada empat temuan kasus yang tersebar di sejumlah daerah. Awalnya, pada 7 Oktober 2022 ditemukan peredaran 26 uang palsu yang diedarkan Sarimin di Banyumas, penyelidikan dikembangkan dengan menangkap Sofiudin bersama Rp40 juta uang palsu pada 12 Oktober di Semarang. 

Penelusuran berikutnya, mengamankan Rp385 juta upal dari Rino di Klaten. Tersangka Jefri Susanto di Jakarta kemudian menyerahkan diri ke Polres Sukoharjo, merupakan pemilik percetakan uang palsu Irvan Mahendra.

"Pengembangan jaringan juga dilakukan dibeberapa wilayah hukum seperti di Polda Jawa Timur ada satu daftar pencarian orang (DPO), Polda Jawa Barat satu orang DPO dan tiga DPO di Mesuji, Lampung berhasil ditangkat," beber Ahmad Lutfi.

Menurut Kapolda, uang palsu yang beredar sejak Agustus lalu dicetak di Sukoharjo. Tepatnya di percetakan milik Irvan Mahendra di Kampung Larangan, Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. 

Sekali cetak, 'pabrik uang' uang yang berada satu kompleks dengan rumah dinas Bupati Sukoharjo ini mampu membuat 500 lembar uang palsu. Para pelaku menggunakan 11 mesin cetak yang diimpor dari Jerman dan kertas bahan uang yang didatangkan juga dari luar negeri.

"Alat yang digunakan semakin canggih, produk yang dihasilkan juga semakin bagus. Jadi, uang palsunya memang sangat identik," tambahnya.

Adapun modus pencetakan dan peredaran uang palsu oleh para pelaku, lanjut Ahmad Lutfi, sudah menggunakan sistem marketing dalam mengedarkan produk uang palsunya. Jadi, ada yang mencetak, pengedar, kurir yang mencari pembeli dan membelanjakan secara langsung. 

Selain itu, upaya mengedarkan uang paslu juga dilakukan menjual dengan perbandingan Rp300 ribu per Rp1 juta. "Ada yang ditransfer melalui bank dan juga setor tunai. Yang jelas motif para pelaku adalah desakan kebutuhan ekonomi," ujarnya.

Kelima tersangka pembuat uang palsu akan dijerat dengan Undang-undang RI Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang. Dan pasal 27, pasal 26, pasal 37, dan atau pasal 36, dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling banyak Rp10 miliar. (tim redaksi)

#pabrikuangpalsu
#uangpalsu
#peredaranuangpalsu
#upal
#poldajateng
#distribusiupal

Tidak ada komentar