Breaking News

Didukung Dua Etnis Minoritas, Anwar Ibrahim Kembali Mencalonkan Diri Jadi PM Malaysia

Pemimpin oposisi Anwar Ibrahim (kiri) saat kampanye dalam Pemilu Malaysia. Foto: Bernama

WELFARE.id-Salah satu politisi kawakan Malaysia, Anwar Ibrahim kembali maju dalam pemilihan umum Malaysia yang pada akan digelar pada 19 November 2022 mendatang. 

Ini merupakan upaya kesekian kalinya Anwar untuk menduduki posisi Perdana Menteri (PM) negeri jiran tersebut.  Pada 2020 lalu, Anwar hampir menduduki posisi tersebut setelah dua dekade menjadi pemimpin oposisi.

Namun, impiannya kandas karena aliansinya runtuh akibat pertikaian internal. Kini, ia kembali memperjuangkan impiannya yang sempat tertunda. Anwar kembali meyakinkan masyarakat untuk memilihnya pada pemilihan umum.

”Saya sangat optimis. Kami di sini untuk menekankan tata kelola dan antikorupsi, dan membersihkan negara ini dari rasisme dan fanatisme agama,” kata Anwar saat tengah berkampanye di Tambun, Malaysia barat pada Jumat (4/11/2022) seperti dikutip dari Reuters.

Anwar telah lama dikenal sebagai sosok yang kerap melemparkan guyonan untuk memperkuat kredibilitas kepemimpinannya. Anwar optimis mengenai peluang kemenangan koalisinya pada Pemilu 2022 ini. 

Aliansi Anwar akan berhadapan dengan dua aliansi kuat lainnya dalam pemilihan umum. Pertama, aliansi yang dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Ismail Sabri Yaakob yang juga petahana dan aliansi yang dipimpin mantan PM Muhyiddin Yassin.

Selain kedua aliansi tersebut, ada beberapa politisi dari partai lain yang turut mencalonkan diri sebagai perdana menteri seperti aliansi yang dibentuk oleh mantan PM  Mahathir Muhammad.

Jajak pendapat memprediksi persaingan ketat yang dialami antar aliansi karena tidak adanya partai politik atau aliansi yang dominan secara suara dalam pemilihan umum kali ini. 

Namun, Anwar banyak mendapat dukungan dari kelompok minoritas di Malaysia yaitu dari etnis Tiongkok (China, Red) dan India. Jumlah pemilih etnis minoritas itu hampir sepertiga keseluruhan pemegang hak pilih.

Meski diprediksi mendapat dukungan dari etnis India dan Tiongkok, titik lemah Anwar justru pada kelompok mayoritas Melayu. Kasus sodomi yang sempat menyebabkannya dipenjara adalah faktor minimnya dukungan dari kelompok mayoritas.

Jajak pendapat yang dilakukan Merdeka Center menunjukkan Anwar tertinggal beberapa poin presentasi di belakang kedua pesaingnya. Menyadari rendahnya persentase kemenangan ini dibandingkan pesaingnya, Anwar memahami pentingnya aliansi. 

Namun Anwar menegaskan tidak akan bekerja sama dengan koalisi Ismail atau Muhyiddin lantaran perbedaan yang ada di antara mereka. Selama ini, aliansi Muhyiddin terkenal mengutamakan kepentingan kelompok mayoritas etnis Melayu hingga menekankan pada penerapan hukum syariah.

"Bentuk koalisi apa pun akan menjadi kemunduran besar karena Anda memiliki koalisi yang pada dasarnya rasis atau fanatik muslim,” cetus Anwar. (tim redaksi)


#pemiluraya
#malaysia
#pemilihanperdanameteri
#anwaribrahim
#oposisimalaysia

Tidak ada komentar