Breaking News

Cetak Rekor, Laba Adaro Energy Naik 352 Persen, Cuan Rp29,64 T

Ilustrasi (dok adaro) 

WELFARE.id-2022 menjadi tahun yang cemerlang bagi  PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Per 30 September 2022, perusahaan berhasil membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD1,9 miliar atau setara Rp29,64 triliun. Perolehan ini naik 352,21 persen dari laba bersih Januari-September 2021 yang senilai USD420,9 juta. 

Pertumbuhan laba bersih perseroan, turut ditopang kenaikan pendapatan usaha Adaro Energy sekitar 130 persen (yoy) menjadi USD5,9 miliar pada akhir kuartal III-2022. Manajemen mengungkapkan, peningkatan kinerja keuangan ADRO terutama didorong oleh kenaikan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) batu bara, hingga 106 persen (yoy). 

Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Indonesia Garibaldi Thohir menjelaskan, pada sembilan bulan pertama 2022, Adaro terus mengeksekusi strategi untuk meningkatkan produksi dan penjualan. "Karena kami mengejar peningkatan melebihi 10 persen (yoy) untuk dua komponen ini. Pendapatan, EBITDA dan laba bersih mencapai rekor tertinggi untuk sembilan bulan pertama dari setiap tahun sejak perusahaan didirikan 30 tahun lalu," jelasnya di Jakarta, dikutip Rabu (2/11/2022). 

EBITDA operasional ADRO naik 231 persen menjadi USD3,79 miliar dari USD1,14 miliar (yoy) berkat harga dan produksi yang masing-masing naik 106 persen dan 14 persen. Dengan begitu, margin EBITDA operasional perseroan meningkat 1.950bps, menjadi 64,2 persen dari 44,7 persen. 

Selain EBITDA, kinerja yang menyentuh capaian tertinggi Adaro Energy adalah kenaikan laba inti sebesar 262 persen (yoy) menjadi USD2,3 miliar. Hal ini yang Garibaldi sebut, mencerminkan kualitas laba. 

Terkait ASP yang meningkat, manajemen Adaro Energy menjelaskan, cuaca buruk, keterbatasan suplai, dan peristiwa geopolitik menopang harga dekat level tertinggi historis yang terjadi pada kuartal II-2022. 

Walaupun terjadi curah hujan yang tinggi dan tantangan pengadaan alat berat, ADRO berhasil meningkatkan produksi sebesar 14 persen (yoy) menjadi 45,4 juta ton dari 39,6 juta ton. 

Peningkatan produksi mendorong kenaikan penjualan batu bara dengan porsi yang sama yakni 14 persen menjadi 44,2 juta ton hingga 30 September 2022, dari 38,9 juta ton di periode sama tahun lalu. 

Selain itu, Adaro mencatat peningkatan pengupasan lapisan penutup periode ini yang stabil secara tahunan pada 173,5 Mbcm sepanjang Januari-September 2022 dari 173 Mbcm. Namun nisbah kupas ADRO turun 12 persen (yoy) menjadi 3,82x dari 4,36x. "Jika cuaca mendukung, nisbah kupas ini diperkirakan akan meningkat pada kuartal IV-2022, namun nisbah kupas sepanjang 2022 diperkirakan akan dicapai di bawah target yang ditetapkan sebesar 4,1x,” jelas Head of Investor Relations ADRO Bret Ginesky. 

Seiring pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan Adaro Energy naik 59 persen (yoy) menjadi USD2,54 miliar, yang utamanya disebabkan kenaikan pembayaran royalti akibat kenaikan ASP maupun biaya penambangan. 

Hal ini juga dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global. Di sisi lain, biaya kas secara umum ADRO, tidak termasuk royalti, naik 17 persen (yoy). 

Selanjutnya, beban usaha Adaro Energy pada sembilan bulan awal 2022 meningkat 78 persen (yoy) menjadi USD232 juta, disebabkan kenaikan 300 persen pada komisi penjualan. Kenaikan komisi penjualan menyumbangkan 67 persen (yoy) kenaikan beban usaha. Hal ini juga disebabkan karena harga batu bara yang lebih tinggi pada periode ini. (tim redaksi) 

#adaro
#adaroenergy
#energy
#perusahaaantambang
#emiten
#labaadaro

Tidak ada komentar