Breaking News

BPS: Kenaikan Harga Komoditas Tambang Berikan Efek "Windfall" di Triwulan III-2022

Aktivitas pertambangan. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Kenaikan harga komoditas pertambangan memberikan windfall alias keuntungan tak terduga kepada perekonomian regional pada triwulan III-2022. 

"Di Sumatera Selatan misalnya, sumber pertumbuhan dari pertambangan pada triwulan III 2022 mencapai 0,9 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi tersebut yang tumbuh 5,34 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy)," urai Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono dalam Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, dikutip Selasa (8/11/2022).

Adapun sektor pertambangan merupakan sumber pertumbuhan ekonomi ketiga di wilayah Sumatera Selatan dengan andil 25,88 persen, setelah sektor perdagangan dan pengolahan. Komoditas utamanya adalah batu bara dan lignit.

Kemudian di Kalimantan Timur (Kaltim), lanjutnya, sumber pertumbuhan dari pertambangan mencapai 1,74 persen terhadap PDRB provinsi tersebut yang tumbuh 5,28 persen (yoy). Pertambangan merupakan sektor utama dalam perekonomian wilayah itu dengan andil 55,74 persen, serta komoditas andalan batu bara dan lignit.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), sumber pertumbuhan dari pertambangan mencapai 3,94 persen terhadap PDRB NTB yang tumbuh 7,1 persen (yoy). Pertambangan merupakan penyumbang utama dalam perekonomian wilayah dengan andil 19,7 persen, serta komoditas andalan tembaga.

Margo juga menambahkan, di Sulawesi Tengah (Sulteng) sumber pertumbuhan dari pertambangan mencapai 4,12 persen terhadap PDRB provinsi tersebut yang berhasil tumbuh 19,13 persen (yoy). Pertambangan merupakan sektor utama dalam perekonomian Sulteng dengan andil 15,41 persen dan komoditas andalan adalah bijih logam berupa nikel.

Selanjutnya di Papua, sumber pertumbuhan dari pertambangan mencapai 3,51 persen terhadap PDRB Papua yang tumbuh 5,78 persen (yoy). Pertambangan merupakan penyumbang utama dalam perekonomian wilayah dengan andil 36,14 persen, serta komoditas utamanya adalah bijih logam emas.

Ia mengungkapkan, sektor pertambangan secara nasional mampu tumbuh 3,22 persen (yoy) pada kuartal ketiga tahun ini, meski melambat dari triwulan II-2022 yang sebesar 4,01 persen (yoy). 

Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertambangan batu bara dan lignit yang tumbuh sebesar 9,41 persen (yoy), didorong oleh peningkatan permintaan dari luar negeri terhadap batu bara, serta kenaikan harga batu bara yang signifikan.

Kemudian pertumbuhan sektor itu juga didorong subsektor bijih logam yang tumbuh sebesar 9,03 persen (yoy), didorong oleh meningkatnya produksi tembaga dan emas di distrik mineral Grasberg, Papua. "Selain itu, terdapat pula peningkatan permintaan dari luar negeri terutama untuk komoditi emas dan tembaga," bebernya. (tim redaksi)

#sektorpertambangan
#topangperekonomian
#kenaikanhargakomoditaspertambangan
#windfall
#keuntungantakterduga
#bps
#komoditastambang

Tidak ada komentar