Breaking News

Bisnis Diprediksi Masih Moncer hingga 2023, Berikut Daftar Perusahaan Batu Bara Terbesar di RI

Aktivitas di tambang batu bara. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, perusahaan produsen "si batu hitam" ini tentu tergiur dengan keuntungan yang bisa diraih. Bahkan, sejumlah perusahaan yang awalnya tak berminat "nyemplung" di bisnis ini pun banyak yang perlahan melebarkan sayap ke pertambangan batu bara.

Persaingan pun tak bisa dihindari. Tapi, pemain lama tak bergeming, karena mereka sudah merasakan enaknya bergelimang keuntungan dari bisnis ini.

Lantas, siapa saja "pemain lama" di sektor tambang batu bara? Dihimpun dari bisnis.com dan berbagai sumber lain, Senin (14/11/2022), berikut daftar perusahaan batu bara terbesar di Indonesia:

1. PT Indika Energy Tbk. (INDY)

Produksi batu bara INDY dilakukan melalui anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung (Kideco) dan sebagian kecil dari PT Multi Tambang Jaya Utama (MUTU). Pada 2021, Kideco tercatat mampu memproduksi sebanyak 35,7 juta ton batu bara. 

Adapun tahun ini, Kideco menurunkan target produksi batu baranya dari realisasi 2021 menjadi 34 juta ton. INDY merupakan bagian dari Grup Indika yang dimiliki oleh taipan Keluarga Sudwikatmono. Agus Lasmono Sudwikatmono kini menduduki posisi Komisaris Utama INDY.

2. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) 

Emiten batu bara kongsi Salim Group dan Bakrie Group ini menjadi emiten batu bara dengan produksi terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. BUMI mencatatkan realisasi produksi batu bara sebesar 78 juta ton tahun lalu. Pada 2022, BUMI menargetkan untuk memproduksi batu bara dengan jumlah serupa, yakni 78 juta ton. 

3. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) 

Dian Swastika Sentosa sejatinya merupakan perusahaan Grup Sinar Mas, yang memiliki berbagai lini usaha. Bisnis batu baranya disumbangkan oleh PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) dan  Golden Energy and Resources Ltd. (GEAR). 

Selain memiliki tambang batu bara di Indonesia, GEAR mengakuisisi aset tambang di Australia, yakni Stanmore Coal. DSAA secara grup memproduksi sebanyak 33,9 juta batu bara sepanjang tahun 2021. 

Pada 2022, DSSA menargetkan untuk memproduksi sejumlah 40 juta ton batu bara. Konglomerat di baliknya tentu saja Keluarga Widjaja, yang didirikan mendiang Eka Tjipta Widjaja. Kini, sang putra Franky Oesman Widjaja menjadi Komisaris Utama DSSA.

4. PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) 

Perusahaan batu bara yang dikelola kakak Menteri BUMN Erick Thohir, Garibaldi Thohir, ini memproduksi batu bara dengan volume 52,7 juta ton pada 2021, dari target 52-54 juta ton. Tahun ini, entitas Grup Saratoga yang sebagian sahamnya dimiliki Sandiaga Uno tersebut, menargetkan dapat mencapai produksi batu bara sebanyak 58 juta-60 juta ton batu bara.

5. PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) 

PTBA menjadi satu-satunya emiten BUMN produsen batu bara yang masuk dalam daftar ini. PTBA pada 2021 tercatat memproduksi sebanyak 30,04 juta ton batu bara. Tahun ini, PTBA menargetkan untuk memproduksi sejumlah 35,5 juta ton batu bara. 

6. PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) 

Emiten milik konglomerat Dato' Low Tuck Kwong ini memproduksi sebanyak 37,6 juta ton batu bara pada 2021. Pada 2022, BYAN berencana memproduksi sejumlah 37 juta-39 juta ton batu bara. 

Low Tuck Kwong kini menjadi orang terkaya ketiga di Indonesia, berkat peningkatan saham BYAN secara signifikan. Total kekayaannya per Sabtu (12/11/2022) mencapai USD10,4 miliar atau setara Rp161,2 triliun. 

7. PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) 

Emiten batu bara kalori tinggi, ITMG tercatat memproduksi sejumlah 18,2 juta ton batu bara dari beberapa tambang miliknya pada 2021. Pada tahun ini, ITMG berencana untuk memproduksi sekitar 17,5 juta-18,8 juta ton batu bara. 

Sekitar 65,14 persen saham ITMG dipegang oleh Banpu Minerals (Singapore) Private Limited. Adapun, induk usaha utama ITMG adalah Banpu Public Company Limited, sebuah perusahaan yang didirikan di Kerajaan Thailand. Chairman Banpu ialah Chanin Vongkusolkit. 

8. PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) 

Emiten batu bara Grup Sinar Mas yang 30 persen sahamnya saja diakuisisi PT ABM Investama Tbk. (ABMM) ini memproduksi sejumlah 29 juta ton batu bara pada 2021. Tahun ini, GEMS menargetkan produksi batu bara sebesar 36 juta-40 juta ton. GEMS merupakan entitas DSAA. 

9. PT ABM Investama Tbk. (ABMM) 

ABMM memproduksi sebanyak 13,22 juta batu bara sepanjang tahun 2021. Pada 2022, ABMM menargetkan produksi batu bara yang tidak terlalu tinggi dari capaian tahun lalu, yakni di sekitar 13 juta-14 juta ton. 

ABMM, yang sebagian sahamnya dimiliki investor kawakan Lo Kheng Hong, merupakan bagian dari Grup PT Tiara Marga Trakindo (TMT) atau Grup Trakindo. Almarhum Achmad Hadiat Kismet Hamami, sebagai founder pertama mendirikan PT Trakindo Utama pada Desember 1970. 

Putra Achmad Hadiat Kismet Hamami, Rachmat Mulyana Hamami, kini menjabat sebagai Komisaris Utama ABMM. Grup TMT memegang sekitar 53,56 persen saham ABMM. (tim redaksi)

#produsenbatubaraterbesardiindonesia
#perusahaanbatubara
#emitenbatubara
#tambangbatubara
#batubara

Tidak ada komentar