Breaking News

Ancaman Tsunami, BMKG Minta Warga Pesisir Selatan Banten Waspada

Nelayan mencari ikan di pantai pesisir Banten yang rawan tsunami. Foto: net

WELFARE.id-Cuaca yang tak menentu yang terjadi sejak akhir Oktober hingga awal November 2022 ini, membuat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbau bagi masyarakat pesisir selatan Provinsi Banten. 

BMKG meminta agar masyarakat selalu mewaspadai adanya potensi tsunami dengan ketinggian hingga 30 meter. "Kami minta warga pesisir selatan Banten tetap waspada, namun tidak panik berlebihan," terang Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kelas I Serang Tarjono, Sabtu (5/11/2022).

Menurut dia, sebetulnya pesisir selatan Banten berpotensi tsunami dan bukan hal yang baru, tetapi sudah lama berdasarkan hasil kajian keilmuan yang saat itu diungkap oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), BMKG dan instansi lain.

Potensi gelombang tsunami hingga 30 meter itu, lantaran laut selatan Jawa terdapat pertemuan lempengan Indo-Australia dan Eurasia. Kedua lempengan itu di laut selatan Banten kerap terjadi gempa tektonik di bawah magnitudo 5. 

Karena itu, masyarakat pesisir selatan Kabupaten Lebak dan Pandeglang, Banten, agar selalu waspada potensi gelombang tsunami tersebut.

"Kami minta warga jika terjadi gempa dahsyat, segera mengevakuasi mandiri ke tempat-tempat yang tinggi yang aman dan tidak menunggu sirine berbunyi. Ini untuk mencegah terjadinya korban," katanya.

Tarjono juga mengatakan berdasarkan hasil kajian keilmuan potensi gelombang tsunami itu dengan gempa magnitudo di atas 7 dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer. 

Masyarakat pesisir selatan Banten harus mengevakuasi secara mandiri jika terjadi gempa berkekuatan di atas magnitudo 7, karena berpotensi tsunami.

Untuk mengurangi risiko kebencanaan tsunami dan tidak menimbulkan banyak korban maupun kerusakan material, ia melaksanakan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat pesisir selatan Banten. 

Kegiatan itu bertujuan agar masyarakat pesisir dapat mengantisipasi ketika terjadi gempa dan tsunami dengan melakukan evakuasi secara mandiri ke tempat-tempat tinggi dan lokasi aman tanpa menunggu sirine.

BMKG juga melakukan kegiatan "Goes to School" juga Sekolah Lapang Gempa (SLG) untuk memberikan pengetahuan kepada siswa dan masyarakat bagaimana penyelamatan diri sendiri jika terjadi gempa dan tsunami. 

Selain itu, BMKG telah memasang tiga peralatan sirine di pesisir selatan Banten antara lain di Pantai Labuan, Pasauran dan Panimbang untuk mendeteksi awal gempa dan tsunami.

Namun, BMKG mengajak perusahaan swasta di selatan Banten agar memasang sirine secara mandiri. Sebab, PLTU Labuan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten telah memasang sirine dan bisa terkoneksi pada masyarakat pesisir.

Tombol operator sirine itu dipegang BPBD Banten dan jika terjadi gempa dahsyat akan berbunyi hingga radius 5 kilometer (km) jauhnya. "Kami berharap perusahaan swasta dapat melakukan pemasangan sirine di pesisir selatan Banten," cetusnya juga.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizky Pratama mengatakan pihaknya sudah memetakan jalur evakuasi di pesisir selatan untuk penyelamatan warga apabila terjadi gelombang tsunami. 

BPBD Lebak memetakan jalur evakuasi di pesisir selatan meliputi enam kecamatan, yakni Kecamatan Wanasalam, Malingping, Cihara, Panggarangan, Bayah, dan Cilograng.

"Kami memetakan 120 titik di enam kecamatan itu agar warga dapat memanfaatkan jalur untuk penyelamatan jiwa apabila terjadi bencana tsunami," terangnya. (tim redaksi)


#bencanaalam
#tsunami
#pesisirbanten
#provinsibanten
#bmkg
#bpbdlebak
#peringatandini

Tidak ada komentar