Breaking News

Usai Alami Kenaikan, Harga Batu Bara 2023 Diprediksi Sentuh USD250 per Ton

Truk mengangkut batu bara di salah satu tambang di Kalimantan. Foto: net

WELFARE.id-Di tengah kelangkaan gas bumi dan kenaikan harga minyak bumi dampak perang Ukraina-Rusia, batu bara kini menjadi primadona untuk menggerakkan pembangkit listrik terutama di negara-negara Eropa.

Jadi jangan heran, harga batu bara masih berada pada tren menanjak saat ini. Namun, tren harga batu bara itu diprediksi tidak akan bertahan lama.

Executive Director Head of Indonesia Research & Strategy PT. J.P. Morgan Securities Indonesia, Henry Wibowo memperkirakan harga batu bara akan turun pada level USD250 per ton pada 2023 mendatang.

”Tidak mungkin harga batu bara tetap nangkring di harga USD400 per ton. Jadi kita forecast tahun ini harga batu bara USD300-350 per ton. Tahun depan kita ekspect USD250 per ton," ujarnya dalam Money Buzz - Indonesia's New Sources of Growth, Selasa (11/10/2022).

Tak dapat dipungkiri, Indonesia mendapat durian runtuh saat terjadi kenaikan harga komoditas energi ’emas hitam’ tersebut. Di satu sisi, Indonesia sebagai importir minyak mestinya terbebani dengan kenaikan harga pada komoditas minyak.

Namun, bersamaan dengan itu, harga batu bara naik jauh lebih tinggi. Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar, tentu Indonesia mendulang cuan melimpah dari kondisi tersebut.

"Kalau harga minyak naik itu sebenarnya tidak bagus untuk neraca dagang kita. Tapi karana harga batu bara naik lebih tinggi, kita diuntungkan,” ujar Henry juga. 

Menariknya, Henry mencermati saat ini harga batu bara masih naik kendati harga minyak turun. Umumnya, permintaan batu bara akan tinggi saat harga minyak naik. 

Namun, yang terjadi saat ini adalah harga minyak turun, yang biasanya disusul penurunan permintaan batu bara sehingga harganya juga akan landai.

"Jadi oil price-nya turun, tapi harga coal masih di atas. Jadi ada kemungkinan trade balance dan current account kita bisa melebihi ekspektasi,” pungkas Hery lagi.

Sebelumnya, pengoperasian kembali pembangkit batu bara di sebagian negara Eropa turut mengerek permintaan batu bara global. 

Akibatnya, Harga Batu Bara Acuan (HBA) pada Oktober 2022 mengalami kenaikan sebesar USD 11,75 per ton menjadi USD 330,97 per ton dari September 2022, yakni USD 319,22 per ton.

Kenaikan HBA Oktober ini dipengaruhi oleh naiknya rata-rata indeks bulanan penyusunan HBA, yaitu ICI naik 3,63 persen, Platts naik 4,41 persen, GNCC naik 3,98 persen, dan NEX naik 3,08 persen.

"Selain naiknya rata-rata indeks, negara-negara Eropa seperti Jerman, Belanda dan Belgia telah menghidupkan kembali pembangkit batu bara sebagai dampak dari pemangkasan gas oleh Rusia," ujar Kabiro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama, Kementerian ESDM, Agung Pribadi, Selasa (4/10/2022).

Faktor lain yang memengaruhi kenaikan HBA adalah adanya kendala pasokan gas alam di Eropa. "Adanya kebocoran jaringan gas yang terjadi di Laut Baltik sehingga harga gas melonjak," ungkap Agung juga.

Untuk diketahui, pergerakan Harga Batu Bara Acuan Oktober ini merupakan yang tertinggi sejak awal 2022. Sebelumnya HBA batu bara nilai tertinggi sebelumnya terjadi pada Juni dengan HBA terkerek hingga menyentuh angka USD323,91 per ton.

Faktor kondisi geopolitik Eropa imbas konflik Rusia-Ukraina serta krisis listrik di India akibat gelombang hawa panas masih menjadi faktor pengerek utama kenaikan harga batu bara.

Setelahnya, HBA cenderung fluktuatif mengalami kenaikan dan penurunan, lalu  HBA Agustus ada di angka USD321,59 per ton dan September lalu sebesar USD319,22 per ton. (tim redaksi)


#batubara
#hargaterusnaik
#krisisenergi
#perang
#rusia-ukraina
#hargagasnaik
#pembangkitlistrik

Tidak ada komentar