Breaking News

Stok di Gudang Sisa 800 Ribu Ton, NFA Desak Bulog Serap Lebih Banyak Beras dari Petani

Beras Bulog. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Badan Pangan Nasional (NFA) meminta agar Perum Bulog segera menambah pasokan cadangan beras pemerintah (CBP) yang digunakan untuk melakukan operasi pasar beras. 

Pasalnya, pasokan CBP yang tersedia di gudang hanya sekitar 800 ribu ton atau di bawah dari batas aman yang ditentukan pemerintah. 

"Minimal itu 1,2 juta ton sampai 1,5 juta ton. Ya harus ditambah. Harus ditambah. Pokoknya sampai akhir tahun," kata Kepala NFA Arief Prasetyo Adi usai meninjau pasokan dan harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), dikutip Selasa (4/10/2022). 

Ia menjelaskan, pemerintah telah memberikan fleksibilitas harga acuan pembelian gabah dan beras petani lebih tinggi. Hal itu agar Bulog dapat menyerap lebih banyak produksi petani untuk dijadikan CBP dan mampu bersaing dengan para produsen beras swasta.

Harga acuan gabah kering panen (GKP) di petani oleh Bulog diatur sebesar Rp4.450 per kg dari harga normal Rp4.200 per kg. Selain itu, harga gabah kering giling (GKG) di penggilingan menjadi Rp5.550 per kg dari Rp5.250 per kg.

Pemerintah juga menaikkan harga acuan GKP di gudang Bulog menjadi Rp5.650 per kg dari Rp5.300 per kg dan beras di gudang Bulog Rp8.800 per kg dari sebelumnya Rp8.300 per kg. Fleksibilitas harga itu berlaku hingga 30 November 2022.

Badan Pangan juga meminta kepada Bulog untuk terus melakukan operasi pasar beras medium. Tercatat, selama September Bulog telah menggelontorkan beras hingga 200 ribu ton dari biasanya hanya 30 ribu-40 ribu ton.

Kendati pasokan cadangan beras Bulog berada pada level yang rawan, ia tetap menjamin ketersediaan beras untuk masyarakat hingga akhir tahun ini. Ia mencatat, stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang saat ini mencapai 42 ribu ton per hari.

"Itu aman, karena Jakarta ini mendistribusikan 30 persen beras ke nasional. Semua makan nasi, semua ada," yakinnya.

Namun, Arief juga tak menampik ihwal adanya tren kenaikan harga beras saat ini. Menurutnya, kenaikan harga lebih diakibatkan oleh peningkatan biaya produksi seperti pupuk, logistik, hingga bahan bakar. 

Pemerintah juga baru saja menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 30 persen yang dinilai akan berdampak pada kenaikan harga-harga secara keseluruhan. "Pasti itu akan dikonversi ke harga beras. Tapi tidak serta merta kenaikan 30 persen harga beras naik 30 persen. Tidak begitu. Biaya produksi mesti dihitung ulang," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Supply Chain Bulog Mokhamad Suyamto mengatakan, pihaknya terus melakukan penyerapan gabah untuk mengejar target volume 1,2 juta ton. Ia menyebut, dengan fleksibilitas harga yang baru, Bulog memiliki daya tawar lebih untuk membeli gabah petani. 

Adapun saat ini rata-rata penyerapan gabah dan beras oleh Bulog mencapai 2.000 ribu ton per hari. (tim redaksi)

#bulog
#cadanganberas
#gabah
#beraspetani
#stokberas
#pasarberasindukcipinang
#badanpangannasional

Tidak ada komentar