Breaking News

Sering Kecelakaan, Amankah Jalan Tol di Indonesia

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Meski memiliki tingkat keamanan dan kenyamanan yang lebih tinggi dibanding jalan umum, peristiwa kecelakaan masih sering terjadi di berbagai ruas jalan tol. Di bulan Septermber 2022 saja, terjadi 5 kecelakaan di jalan tol. Kecelakaan tersebut terjadi terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.  

Sementara itu, PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebagai salah satu pengelola jalan tol misalnya, mencatat sepanjang tahun 2021 terdapat 790 kasus kecelakaan atau rata-rata mencapai 79 kasus per bulannya di ruas-ruas tol kelolaan. Adapun angka kematian atau korban meninggal akibat kecelakaan tersebut mencapai 77 orang. 

Terbaru, satu orang tewas akibat kecelakaan di ruas Jalan Tol Cipali Kilometer 91, wilayah Desa Caracas, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (11/10/2022). 

Kasat Lantas Polres Subang AKP Lucky Martono mengatakan, kecelakaan terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. "Satu orang meninggal dunia atas nama Achmad Chairul (46), warga dari Kampung Karapitan Nomor 19, RT 007, RW 004, Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta. Sedangkan dua penumpang lainnya mengalami luka berat," katanya. 

Korban selamat maupun luka kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Abdul Radjak, Purwakarta Lucky mengatakan, kecelakaan bermula saat mobil Suzuki XL 7 beromor polisi B 2232 KZE yang dikemudikan Abdul Rahman (49), melaju dengan kecepatan tinggi. Abdul yang membawa dua orang temannya diduga mengantuk. 

Kendaraan itu kemudian menabrak bagian belakang truk kontainer nomor polisi A 9929 BB yang berada di depannya. Truk dikendarai oleh Nursan (41). "Kedua kendaraan datang dari arah Jakarta menuju arah Cirebon. XL7 nomor polisi B 2232 KZE, berpenumpang tiga orang, melaju dengan kecepatan tinggi. Pengemudi kurang antisipasi dan kendaraan hilang kendali sehingga menabrak bagian belakang kendaraan kontainer nomor polisi A 9929 BB," tandasnya. 

Setelah menabrak truk, mobil tersebut oleng dan masuk ke bahu jalan. Mobil mengalami rusak parah di bagian depan dan belakang. "Posisi akhir kendaraan kontainer normal di bahu jalan dan kendaraan XL7 di median menghadap timur," katanya. 

Menanggapi hal itu, pengamat Transportasi dan Tata Kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan, pembangunan atau konstruksi jalan tol di Indonesia dinilai sudah baik. 

Menurutnya, dalam pembangunan setiap jalan tol sudah diuji dari berbagai aspek. "Untuk konstruksi jalan tol ada dicek baik aspek konstruksi, maupun penggunaan dan pemanfaatannya, jadi setiap tikungan, rambu-rambunya, penerangan jalannya semua dicek," tukasnya. 

Selain itu, setiap jalan tol juga wajib memenuhi standar pelayanan minimal. Apabila jalan tol tidak memenuhi standar pelayanan minimal maka jalan tol itu tidak dibenarkan untuk mendapatkan izin untuk menaikkan tarif. "Jadi tol itu harus mulus minimal, yang menjadi persoalan adalah bagaimana menggunakan jalan tol secara benar," tambahnya. 

Yayat mengungkapkan, masalah yang paling mensadar adalah tol luar kota atau tol dengan panjang perjalanan lebih dari 2 jam. Sebab, hal ini punya tingkat risiko kelelahan pengemudi. 

Banyaknya kabar duka yang belakangan terjadi di jalan tol, Yayat menyampaikan, hal itu menjadi catatan bagi pihaknya. "Ada orang-orang yang punya peran penting di negara ini tapi meninggal di jalan tol, kecelakaan lalu lintas ini harus kita kurangi dengan meningkatkan kesadaran penggunanya untuk lebih berhati-hati khususnya menempuh perjalanan panjang," katanya. 

Ia menambahkan, pengemudi sering mengabaikan atau menyepelekan rasa lelah atau ngantuk yang dialaminya, dengan beralasan sudah dekat, nanggung, dan lainnya. Terlebih jika pengemudi melakukan perjalanan melalui jalan tol pada malam hari, di mana hal ini memiliki risiko mengantuk atau kelelahan lebih tinggi. 

Risiko perjalanan meningkat ketika jalan tol kurang penerangan di malam hari atau tingkat konstruksi yang berbeda. Selain itu, Yayat menjelaskan, apabila pengemudi atau pengguna jalan tol berada di jalan tol dengan dua ruas, berisiko memiliki antrean panjang. "Orang-orang kadang berkeinginan memotong karena terlalu lama menunggu," tukasnya. 

Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Danang Parikesit mengatakan, jalan tol yang beroperasi di Indonesia sudah melalui uji laik fungsi dan laik operasi. 

Hal itu dilakukan untuk memastikan semua spesifikasi teknis persyaratan dan perlengkapan jalan yang ada di ruas jalan tol sesuai dengan standar manajemen dan keselamatan lalu lintas terpenuhi dengan baik. 

Salah satu faktor yang menjadi item pengecekan adalah skid resistance, baik perkerasan kaku (beton) maupun perkerasan flexible (aspal) dengan mengikuti Peraturan Menteri PUPR No 16 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol. 

Lebih lanjut Danang menyampaikan, pedal rem pada kendaraan, umumnya tidak bisa dihentikan secara mendadak dan langsung berhenti di lajur Jalan Tol. Sehingga menurutnya, pengemudi wajib mengetahui aturan mengenai waktu dan jarak tertentu untuk bisa berhenti di lajur Tol. 

Danang mengatakan, di setiap area Jalan Tol juga sering diberikan imbauan mengenai ‘Jaga Jarak Aman Kendaraan Anda’. "Hal itu agar ketika mobil menginjak rem secara mendadak masih terdapat ruang untuk mengurangi kecepatan sampai mobil bisa berhenti dengan aman dan menjaga jarak mobil di belakangnya juga,” katanya. 

Adapun terkait pagar beton, ia mengatakan penentuan pagar pembatas beton pada sisi jalan telah dibuat dengan mempertimbangkan rIsiko fatalitas ketika terjadi kecelakaan. Menurutnya, beberapa jenis pagar pengaman memiliki kriteria defleksi/lentur yang berbeda dan digunakan sesuai dengan peruntukannya. 

Ia mengingatkan agar saat berkendara di jalan tol untuk memperhatikan aturan berkendara yang telah ditentukan. Batas kecepatan di jalan bebas hambatan yakni 60-100 kilometer per jam, sesuai dengan rambu lalu lintas yang terpasang. 

Indonesia Toll Road Watch (ITRW) merilis tiga ruas jalan tol trans Jawa yang paling rawan kecelakaan. Dari tiga ruas itu salah satunya adalah Tol Semarang - Batang. Selain itu ada juga ruas Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang). Ruas-ruas itu disebut sering terjadi kecelakaan maut karena berbagai faktor. 

Tips aman dan selamat saat berkendara di jalan tol 

1. Beristirahat jika lelah 

Ketika terjadi kecelakaan tunggal, maka Yayat dan timnya memeriksa penyebab utamanya, jika ternyata disebabkan karena human error, maka dirinci kembali apakah karena mengantuk/kelelahan atau faktor kendaraan. "Kalau karena faktor kendaraan, seharusnya setiap operator jalan tol yang bertanggungjawab dalam konteks pelayanan dan melihat bahwa ada indukasi angka kecelakaan tinggi maka seharusnya diperhatikan itu faktor kecelakaannya apa," jelasnya. 

Sementara, jika penyebab kecelakaan didominasi oleh faktor-faktor human error atau kelelahan/mengantuk maka disarankan pengemudi untuk mementingkan kondisi kesehatannya terlebih dulu. 

2. Jangan minum obat yang membuat kantuk dan jangan memaksakan diri mengemudi 

Yayat mengatakan, para pengguna jalan tol utuk perjalanan antar kota seharusnya memperhatikan kondisi kesehatannya. 

Misalnya, pengemudi mengalami kondisi kesehatan kurang sehat, maka seharusnya tidak menggunakan obat-obatan yang membuat kantuk atau jangan memaksakan diri. 

3. Jangan mengemudi di atas kecepatan 100 km/jam 

Selain itu, jika ruas jalan tol tidak terlalu padat, jangan memancing dengan melaju dengan kecepatan tinggi. Ia menjelaskan, untuk kondisi jalan tol yang lengang, pengemudi bisa melaku maksimal dengan kecepatan 100 kilometer per jam, sedangkan pada jalur padat kurang dari itu. 

4. Pahami aturan jalan tol 

Bagi mereka yang baru pertama kali mengemudi melalui jalan tol, penting untuk mengetahui dan memahami ruas jalan tol, seperti pembatas jalan, rambu-rambu, aturan berisitrahat, dan lainnya. "Jika pengemudi sudah berencana akan mengemudi dalam perjalanan jauh, dia harus bawa supir cadangan atau orang lain, agar saat lelah bisa bergantian," ujarnya. 

5. Konsentrasi pada jalan 

Kemudian, pengemudi diwajibkan fokus dan terjaga saat mengemudi kendaraan. Karena dia memiliki tanggungjawab keselamatan bagi penumpang. 

Yayat mengatakan, pengemudi jangan asyik bermain ponsel atau sosial media ketika mengemudi. "Jangan bermedia sosial saat menyetir, jangan dibawa bercanda," pungkasnya. (tim redaksi) 

#kecelakaandijalantol
#jalantol
#amankahjalantoldiindonesia
#transportasi
#keselamatanberkendara
#tipsamanberkendara
#tipsberkendaraditol

Tidak ada komentar