Breaking News

Seorang Pekerja Tewas Tergiling Mesin Pengaduk Saus

Suasana rumah duka tempat pekerja pabrik adonan roti milik SPC Group disemayamkan Senin (17/10/2022). Foto: Jang Hyeon-eun/Hankyoreh

WELFARE.id - Sebuah minuman kaleng dan beberapa permen berwarna-warni terlihat di depan potret seorang wanita muda.


Makanan ringan adalah satu-satunya benda yang memberi warna disalah satu ruangan rumah duka yang terlihat suram tersebut. Perempuan muda yang tergambar dalam potret itu adalah K, (23) pekerja adonan roti milik SPC Group di Pyeongtaek, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan (Korsel) yang
meninggal karena terseret masuk ke dalam mesin pencampur saus pada hari Sabtu (14/10/2022). Pacar K, yang beinisial B, (25) meletakkan camilan di depan fotonya. "Ini adalah favoritnya," ungkap B.

Perlu diketahui, SPC Group menjalankan berbagai merek seperti toko roti Samlip, Shany, Paris Baguette, dan Paris Croissant, serta jaringan donat Dunkin' Donuts dan jaringan es krim Baskin-Robbins yang beroperasi di Korsel.

Rumah duka yang dikunjungi Hankyoreh sebuah media lokal pada Senin (17/10/2022) pagi itu terlihat lenggang. Hanya beberapa orang, termasuk ibu K, kerabat dekat, dan pacarnya, yang ada di sana.

“Karena hari kerja 52 jam, kami harus pulang kerja lebih awal seminggu sekali, jadi (hari kecelakaan. red) saya berangkat kerja dulu. Biasanya kami berangkat bersama jam 8 pagi,” jelas pacar K. Mereka bekerja di pabrik yang sama.

Pada hari kecelakaan, mereka bekerja dalam shift yang melelahkan yaitu 12 jam mulai pukul 20 malam dan berakhir pukul 8 pagi keesokan harinya. Biasanya, setelah itu mereka akan menghabiskan waktu bersama. Namun, pada pukul 5 pagi, Sabtu (14/10/2022), B meninggalkan pabrik lebih awal karena alasan manajemen jam kerja.

Pacarnya, K secara tidak sengaja tertarik dan masuk ke dalam mesin pencampur saus sandwich pada pukul 06.20, setelah bekerja selama 10 jam.

"Jika ada setidaknya satu orang di sebelahnya, jika seseorang dapat menekan tombol darurat ... Tapi tidak ada yang menekannya dan mesin tidak berhenti," sesal sang pacar.

Kata-kata singkat yang dibagikan keduanya saat B meninggalkan pekerjaan lebih awal akhirnya menjadi perpisahan terakhir pasangan itu. Korban K memiliki impian membuka toko roti sendiri suatu hari nanti, ungkap B.

"Dia selalu suka membuat roti, dan sudah melakukannya sejak SMA. Dia ingin membuka toko roti sendiri nanti," cerita B sedih.

K mengambil jurusan pembuatan kue di sekolah menengah dan bekerja sebagai pembuat roti di toko Baguette Paris setelah lulus. Dia kemudian beralih pekerjaan untuk bekerja di SPC sebuah pabrik pembuat roti yang memasok bahan-bahan ke Paris Baguette, selama hampir tiga tahun.

Setelah beberapa bulan bekerja, mendiang K mulai bekerja di shift malam pabrik tersebut. Itu adalah pekerjaan berat yang mengharuskan pekerja mengangkat tas puluhan kilogram, sebagai catatan K termasuk salah satu pekerja yang ulet.

Namun, mimpi K untuk mengasah keterampilan dan membuka toko rotinya sendiri harus berakhir tragis di mesin pencampur saus.

“K adalah seorang gadis biasa berusia 20 tahun yang suka memakai make-up dan bekerja keras mendapatkan uang untuk membeli rumah,” ungkap kerabatnya.

Keluarga K menolak otopsi. Meskipun jasadnya sudah terbaring di peti mati hari itu, tanggal pemakaman belum dapat dipastikan. Anggota keluarga lainnya masih tidak percaya mengapa kecelakaan seperti itu dapat terjadi.

Dua hari telah berlalu sejak kematian K. Rumah duka masih penuh dengan karangan bunga, satu satunya datang dari Menteri Tenaga Kerja Korsel, Lee Jung-sik, namun tidak ada yang bisa memberikan jawaban atas pertanyaan keluarga yang ditinggalkan. (tim redaksi)


#pekerjatewas
#pabrikroti
#spcgrupkorsel
#koreaselatan
#kecelakaankerja

Tidak ada komentar