Breaking News

Resesi Global 2023 Mirip Krisis 1970, RI Harus Ambil Ancang-Ancang dari Sekarang

Resesi ekonomi. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Menteri Keuangan Sri Mulyani serta sejumlah lembaga internasional mulai dari Bank Dunia (World Bank), Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), hingga Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) telah memperingatkan risiko terjadi krisis keuangan serta resesi global pada 2023. 

Meski pandemi COVID-19 sudah mereda, meletusnya perang Rusia vs Ukraina telah menyebabkan ekonomi di sejumlah negara  dengan ekonomi terbesar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan kawasan Eropa melambat.

Kondisi tersebut kemudian memaksa bank sentral di dunia serentak menaikkan suku bunga, sebagai respon terhadap tingginya inflasi yang memicu terjadinya resesi. Yang paling baru, bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebanyak 75 basis poin (bps) menjadi 3,25 persen. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam berbagai kesempatan turut menyinggung soal resesi yang diperkirakan terjadi pada 2023. Dia menilai kondisi saat ini dapat dipastikan memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi, termasuk di Indonesia. 

"Bank Dunia menyampaikan, kalau bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrim dan secara bersama-sama, maka dunia akan mengalami resesi pada 2023,” katanya dalam konferensi pers APBN Kita, dikutip Sabtu (8/10/2022).

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 sebesar 5,3 persen. Menurutnya, proyeksi tersebut cukup realistis dengan mempertimbangkan dinamika pemulihan dan reformasi struktural untuk mendorong kinerja perekonomian yang lebih akseleratif.

"Kinerja ekonomi pada 2023 terutama akan ditopang oleh pulihnya konsumsi masyarakat, investasi, dan perdagangan internasional," ungkap SMI. Bank Dunia melalui studinya menyampaikan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan bakal dihantui resesi global dan krisis keuangan khususnya negara berkembang pada 2023. 

Hal tersebut, dipicu oleh langkah bank sentral yang secara serentak melakukan pengetatan kebijakan moneter sebagai respon terhadap inflasi. Presiden Grup Bank Dunia David Malpass menilai, kebijakan yang sinkron di banyak negara justru dapat memperparah dan memperketat kondisi keuangan.

Bahkan mempertajam perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat tajam kemungkinan akan berlanjut lantaran lebih banyak negara jatuh ke dalam resesi.

"Kekhawatiran mendalam saya adalah bahwa tren ini akan bertahan, dengan konsekuensi jangka panjang yang menghancurkan orang-orang di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang," ungkapnya. 

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, kondisi krisis ekonomi yang dialami dunia saat ini lebih mirip resesi 1970 ketimbang krisis 1998 dan 2008.

"Kondisi krisis saat ini lebih mirip resesi 1970 dibandingkan dengan (krisis moneter) 1998 dan 2008. Tahun 1998, krisisnya regional hanya kawasan Asia. Sementara tahun 2008 penyebabnya adalah kredit perumahan AS atau krisis sektor keuangan," kata Bhima, melansir tempo.co, Sabtu (8/10/2022).

Sementara, pada 1970, dunia dilanda krisis minyak karena perang teluk. Berbagai negara di dunia mengalami gejolak inflasi. 

Di Indonesia, krisis itu juga sekaligus menandai transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Maka itu, pemerintah harus pasang kuda-kuda untuk mengantisipasi krisis. 

Misalnya dengan menjaga stabilitas stok pangan nasional dengan mengurangi ketergantungan impor beberapa komoditas yang rawan terimbas melemahnya kurs. Stok pangan yang dimaksud ialah gula, garam, daging sapi, gandum, dan bawang putih.

Selanjutnya, pemerintah perlu mendorong perluasan pasar ekspor ke negara alternatif. "Dorong perluasan pasar ekspor ke negara alternatif. Kita tidak bisa berharap pada permintaan Tiongkok atau Amerika lagi. 

Karena kedua negara menunjukkan tanda resesi yang serius. Alternatif negara dikawasan Afrika utara dan timur tengah nampaknya potensial,” sarannya.

Ia juga mengimbau, agar pemerintah mendorong capital control, terutama syarat devisa hasil ekspor tambang dan perkebunan untuk dikonversi ke rupiah. Kemudian, pemerintah diminta melakukan stress test terhadap konglomerasi keuangan dan debitur kakap yang memiliki exposure risiko terhadap resesi global.

"Jangan lupa, perkuat dukungan UMKM untuk jaga konsumsi domestik dan serapan tenaga kerja," imbaunya.

Tips mengelola keuangan di ambang resesi global

Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi Universitas Gadjah Mada (UGM), I Wayan Nuka Lantara, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sambil melakukan revisi pada rencana keuangan yang sebelumnya telah dibuat. Menurutnya, upaya penyiapan dana darurat penting dilakukan, namun juga perlu disertai upaya pada dua hal lainnya.

Pertama, kata Wayan, berupaya mencari alternatif tambahan penghasilan selain dari gaji tetap. "Misalnya, memanfaatkan hobi untuk bisnis, berjualan online, dan tetap rutin berinvestasi," kata dia seperti dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada, Sabtu (8/10/2022).

Kedua, lakukan identifikasi ulang pada pos-pos pengeluaran. Di saat yang sama sembari mencari celah untuk melakukan penghematan pada pos-pos pengeluaran yang kurang penting atau yang bisa ditunda.

Ia menambahkan, bahwa investasi juga bisa menjadi salah satu cara efektif untuk melawan dampak negatif inflasi. Pilihan investasi yang cocok untuk mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi global adalah menggeser bobot dana investasi kita lebih banyak pada aset investasi yang tergolong aman (safe haven).

Ia mencontohkan jenis investasi yang aman dilakukan antara lain deposito, emas, surat berharga yang diterbitkan oleh negara. Jika ingin melakukan investasi di saham, ia menyarankan sebaiknya invetasi pada saham-saham yang bergerak pada sektor industri yang defensif, tetap bisa bertahan meskipun ada krisis.

"Misalnya saham perusahaan yang bergerak di industri consumer goods, kesehatan, bank, energi dan utilitas," sarannya. (tim redaksi)

#krisisekonomi
#resesiglobal
#inflasi
#kenaikansukubungabank
#investasisaham
#safehaven
#bijakkelolakeuangan

Tidak ada komentar