Breaking News

Populasi Menua, Jerman Alami Krisis Tenaga Kerja Berkualitas

Para pekerja industri manufaktur mobil Jerman yang mulai menua. Foto: Reuters

WELFARE.id-Selain disibukkan dengan krisis energi lantaran distopnya pasokan gas dari Rusia dampak perang Ukraina, kini Pemerintah Jerman disibukkan dengan krisis baru di negaranya. 

Negara dengan ekonomi terkuat di Uni Eropa itu kini tengah mengalami krisis kelangkaan tenaga kerja. Akibatnya menambah daftar persoalan yang dihadapi oleh sektor manufaktur di negara maju tersebut. 

Minimnya tenaga kerja yang berkualitas disebabkan oleh populasi negara itu yang menua dan diperburuk oleh pandemi COVID-19 yang belum mereda sepenuhnya, membuat produsen manufaktur mengalami kekurangan staf.

Survei baru-baru ini menemukan 50 persen produsen manufaktur memangkas produksi. Ini menimbulkan kerugian hingga hingga USD85 miliar bagi Jerman atau setara Rp1.317 triliun per tahunnya.

"Semakin banyak perusahaan mengurangi bisnis mereka karena tidak ada cukup pekerja. Dalam jangka menengah dan panjang, masalah ini kemungkinan akan menjadi lebih buruk," terang pakar pasar tenaga kerja di Ifo Institute di Munich, Stefan Sauer, dikutip The Straits Times, Kamis (20/10/2022).

Hal ini menambah masalah yang dihadapi manufaktur Jerman setelah krisis dan naiknya harga energi. Beberapa produsen bahkan harus menutup pabrik atau mengalihkan produksi ke luar negeri.

Bahkan, produsen pesawat Airbus harus membatalkan rencana untuk memproduksi 720 jet A320 terlarisnya di Hamburg pada 2022. Perusahaan itu menyebut sebagian besar pembatalan ini dikarenakan kekurangan pekerja.

Kekurangan tenaga kerja memperbesar tekanan bagi industri di negara tersebut. Dengan permintaan pekerja yang tinggi dan inflasi melonjak menjadi 10,9 persen bulan lalu, staf sektor publik Jerman mencari kenaikan gaji 10,5 persen sementara pekerja logam menuntut 8 persen kenaikan.

Walau terlihat dapat memuaskan kebutuhan pekerja, kenaikan upah yang cepat dapat membantu memperkuat inflasi. Tren tersebut bahkan dapat mendorong Bank Sentral Eropa untuk menaikkan suku bunga kembali.

Meski begitu, seorang ekonom di UBS Group di Frankfurt, Felix Huefner, tetap memprediksi upah Jerman tumbuh 3,5 persen pada akhir 2023. 

”Harga energi yang tinggi dan kekurangan pekerja terampil tentu menjadi kendala bagi industri Jerman ke depan. Negara-negara seperti Prancis, yang memiliki demografi yang lebih baik, akan memiliki kapasitas produktif yang lebih kuat di masa depan," paparnya.

Sebelumnya, dalam ramalan terbaru Dana Moneter International (IMF), Jerman menjadi satu dari dua negara Eropa yang terancam resesi talun 2023. Satu lagi adalah Italia.

"Jerman dan Italia akan tergelincir ke dalam resesi tahun depan, menjadi ekonomi maju pertama yang mengalami kontraksi ekonomi setelah invasi Rusia ke Ukraina," tulis IMF dalam pembaruan World Economic Outlooknya.

Ekonomi negara Jerman diprediksi IMF akan menyusut 0,3 persen. Sementara perekonomian Italia akan berkontraksi 0,2 persen. (tim redaksi)


#jerman
#krisisekonomi
#krisisenergi
#krisistenagakerja
#sektormanufaktur
#populasimenua
#unieropa

Tidak ada komentar