Breaking News

Mulai Berguguran, Masihkah Saham Emiten Properti Pantas Dilirik?

Cowell Development Tbk (net) 

WELFARE.id-Tiga emiten di sektor properti dinyatakan pailit. Emiten itu yakni PT Forza Land Indonesia Tbk (FORZ), PT Cowell Development Tbk (COWL) dan PT Hanson International Tbk (MYRX). Akibatnya, terjadi sentimen negatif pada saham-saham sektor properti. Hal ini akan membuat pelaku pasar akan semakin selektif untuk memilih saham. 

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, pihaknya selektif memberikan izin kepada perusahaan yang masuk ke bursa dengan berbagai faktor seperti substansi, legal dan administrasi. Setelah menjadi emiten, bursa melakukan pengawasan atas kinerja operasional dan keuangan. 

Dia menuturkan, apabila perusahaan menghadapi masalah hukum (legal issues) sebelum pailit, bursa mewajibkan perusahaan untuk segera menyampaikan keterbukaan informasi yang menjelaskan hal tersebut, terkait dengan dampak dan langkah yang dilakukan manajemen untuk menyelesaikan persoalan tersebut. "Kemudian notasi khusus diberikan dan suspensi dilakukan dalam hal sudah mengarah pada pailit. Hal ini dilakukan untuk melindungi kepentingan investor," kata Nyoman dalam keterangannya dikutip Senin (10/10/2022). 

Dia mengatakan, bursa akan melakukan delisting dan mengumumkan kepada direksi hingga pemegang saham saat pailit terjadi. "Bursa selanjutnya akan melakukan delisting, mengumumkan informasi jajaran Direksi, Dewan Komisaris dan pemegang saham pengendali yang tercatat pada saat pailit terjadi dan memasukkan ke dalam database Bursa. Di samping itu, Bursa juga melarang pihak-pihak tersebut untuk menjadi Direksi, Dewan Komisaris atau pengendali perusahaan yang akan tercatat di Bursa (pihak-pihak dalam catatan khusus)," terangnya. 

Lanjutnya, jika emiten delisting maka diwajibkan untuk melakukan pembelian kembali sahamnya. Menurutnya, hal itu untuk melindungi hak-hak investor. "Sesuai dengan POJK No. 3/POJK.04/2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal Perusahaan, perusahaan yang telah dilakukan delisting oleh Bursa, diwajibkan untuk melakukan pembelian kembali dan go private. Hal ini juga merupakan upaya untuk melindungi hak-hak investor di pasar modal," tambahnya. 

"Legal issue termasuk pailit adalah salah satu risiko yang dihadapi oleh investor di pasar modal. Untuk itu investor wajib mengetahui risiko-risiko industri dari perusahaan, memperhatikan setiap pengumuman dari perusahaan termasuk notasi dari Bursa sehingga dapat mengambil keputusan investasi dengan segera," sambungnya. 

Sementara itu, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, kejadian ini membuat pelaku pasar kian selektif memilih saham-saham properti mana aja yang masih memiliki kinerja fundamental yang baik dengan GCG yang benar. 

Dia menerangkan, secara umum saham-saham properti tergantung dari sentimen dan kondisi lapangan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, relaksasi pajak direspons positif oleh pelaku pasar. "Atau sentimen lain, misal, meski suku bunga acuan naik tapi KPR nggak naik sehingga daya beli rumah tetap ada. Nah, ini bisa jadi sentimen positif juga, atau sebaliknya, kalau ada sentimen negatif maka berimbas pada penurunan saham-saham properti secara umum," paparnya. 

Meski demikian, ia menilai sejumlah saham emiten properti masih memiliki prospek yang baik antara lain PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Metropolitan Land Tbk (MTLA). 

Sementara, Pengamat Properti Panangian Simanungkalit mengatakan, pailitnya ketiga perusahaan tersebut bukan karena kondisi pasar. Namun, karena masalah internal perusahaan. "Kepailitan ketiga pengembang ini lebih disebabkan karena masalah keuangan internal perusahaan. Artinya bukan karena kondisi pasar properti saat ini," imbuhnya. 

Ia pun mengatakan, sektor properti dalam tahap pemulihan. Ia menambahkan, saham-saham perusahaan properti mulai naik yang menjadi tanda adanya peningkatan penjualan dan laba. "Dan saya perkirakan kenaikan tingkat penjualan dan laba ini akan terus meningkat di kuartal III dan IV tahun ini. Salah satu pendorongnya adalah pertumbuhan PDB kuartal I dan II rata mencapai 5,3 persen. Dan ini masih akan berlanjut di kuartal III dan IV pada tahun ini," pungkasnya. (tim redaksi) 

#properti
#emitenproperti
#emitenpropertipailit
#prospeksahamproperti
#prospekemitenproperti

Tidak ada komentar