Breaking News

Krisis Ekonomi di Inggris Kian Nyata, Muncul Fenomena Kelaparan hingga Kenaikan Jumlah PSK

Gelandangan di London, Inggris. Foto: Istimewa/ Justin Tallis/ AFP/ Getty Images

WELFARE.id-Krisis ekonomi di negeri monarki Inggris makin nyata dan mendalam. Mulai dari masalah perdagangan, krisis energi, inflasi meroket, dan kemiskinan yang merajalela. 

Menurut hitungan S&P Global Ratings, Inggris saat ini sudah masuk resesi setahun penuh. Dalam laporan mereka, S&P memprediksi bank sentral Inggris, (Bank of England/BoE) akan menaikkan tingkat suku bunga dari saat ini 2.25% menjadi 3.25% pada Februari 2023, sebagai upaya untuk memperbaiki situasi dan menurunkan tingkat inflasi ke level 2%.

Krisis Inggris bukan semata dipicu oleh kebijakan kontroversial Perdana Menteri (PM) Liz Truss yang menakuti pasar dengan paket stimulus ekonomi pemotongan pajak senilai USD48 miliar, tanpa pengurangan belanja negara. 

Mayoritas ekonom sepakat bila persoalan Inggris lebih struktural, serius, dan jauh lebih dalam dari sekadar yang tampak seperti inflasi tinggi dan pound sterling jeblok.

Sebuah penelitian menyebutkan, jutaan warga Inggris saat ini menghadapi kemiskinan. Melansir The Guardian, Senin (24/10/2022), analisis dari lembaga think tank Resolution Foundation juga menunjukkan, keluarga di Inggris akan melihat daya beli mereka dipangkas rata-rata sebesar Euro3.000 atau sekitar Rp44 juta pada akhir tahun depan.

Studi tersebut menunjukkan, lonjakan tagihan energi akan memotong pendapatan rumah tangga di negara tersebut sebesar 10% dan mendorong tambahan 3 juta orang ke dalam kemiskinan. Lembaga itu memperingatkan adanya prospek standar hidup “mengejutkan” dan “mengerikan.” 

Mereka mencatat bahwa tanpa dukungan pemerintah yang serius, penurunan pendapatan rumah tangga biasa akan dua kali lebih parah daripada krisis keuangan global dan lebih buruk dari 8 tahun. Persentase penurunan yang mengikuti kejutan harga minyak tahun 1970-an.

Peneliti juga menambahkan, penurunan terbesar dalam standar hidup Inggris setidaknya dalam satu abad karena harga naik lebih cepat daripada upah. Laporan tersebut memproyeksikan bahwa pendapatan rata-rata yang disesuaikan dengan inflasi akan terus turun hingga setidaknya pertengahan tahun 2023.

Hal itu membawa pendapatan riil kembali ke level mereka pada 2003. Standar hidup akan turun 5% pada tahun keuangan 2022-2023 saat ini dan pada 6% lebih lanjut pada tahun 2023-2024. Masih menurut lembaga tersebut, penurunan seperti ini belum pernah terlihat di Inggris sejak Perang Dunia II.

Kenaikan harga pangan dan energi yang menyebabkan beberapa kalangan memutuskan untuk menjadi pekerja seks komersial hingga anak-anak terpaksa memakan karet. Berdasarkan laporan terbaru menyebutkan, anak-anak yang kelaparan bahkan mengunyah karet atau bersembunyi di taman bermain saat berada di sekolah. 

Hal itu disebabkan karena keluarga mereka tak mampu menyediakan makan siang. Satu sekolah di Lewisham, London Tenggara, memberitahu badan amal Chefs in Schools tentang seorang anak yang 'berpura-pura membawa kotak makan yang kosong'.

Anak itu sendiri diketahui tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan makanan sekolah gratis dan tidak ingin teman-teman mereka mengetahui bahwa tidak ada bekal yang dibawa dari rumah. 

Melansir Observer, Senin (24/10/2022), kelompok bantuan amal masyarakat juga mengatakan, minggu ini bahwa mereka berjuang untuk mengatasi permintaan baru dari keluarga yang tidak mampu memberi makan anak-anak mereka.

"Kami mendengar tentang anak-anak yang sangat lapar sehingga mereka makan karet di sekolah. Anak-anak datang karena belum makan apapun sejak makan siang sehari sebelumnya. Pemerintah harus melakukan sesuatu," kata Kepala Eksekutif Chefs in Schools Naomi Duncan.

Di Inggris, semua anak sekolah berhak atas makanan sekolah gratis. Namun, hanya anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan kurang dari 7.400 pounds (Rp120,5 juta) per tahun yang memenuhi syarat, dan masih ada 800.000 anak yang tidak termasuk dalam daftar penerima makanan gratis itu.

Inggris sendiri saat ini dilanda krisis biaya hidup. Hal ini didorong oleh lonjakan harga energi dan pangan pasca perang Rusia-Ukraina yang mengakibatkan inflasi cukup tinggi di negara itu. 

Pada Agustus 2022, tingkat inflasi di Inggris masih berada di level 9,9% secara year-on-year. Untuk inflasi inti, yang tidak termasuk energi yang mudah menguap, makanan, alkohol dan tembakau, naik 0,8% secara bulan ke bulan dan 6,3% secara year-on-year.

Ini juga akhirnya mengubah perilaku beberapa warga. Bahkan, ada sejumlah besar wanita Inggris yang memutuskan untuk menjadi pekerja seks komersial (PSK). Data terbaru English Collective of Prostitution, yang dikutip akhir bulan lalu, di awal musim panas negara itu saja, pada Juni dan berakhir September, ada tambahan jumlah PSK hingga 1/3.

Sementara itu, untuk mengatasi krisis terbaru ini, Perdana Menteri (PM) Liz Truss berencana menerapkan subsidi energi untuk membatasi tagihan energi rumah tangga tahunan di angka 2.500 pounds atau Rp42,7 juta per tahun. Ini nantinya diharapkan mampu untuk menekan biaya hidup yang semakin tinggi.

Untuk memuluskan hal ini, Truss akan menebar bantuan hingga 100 miliar pound atau setara Rp1.700 triliun. Bantuan ini nantinya akan mengkompensasi harga gas dan bahan bakar lainnya yang dibayarkan perusahaan energi untuk menghasilkan tenaga listrik. (tim redaksi)

#kemiskinandiinggris
#inflasi
#resesi
#pminggrisliztruss
#krisispangan
#krisisenergi
#krisisekonomi

Tidak ada komentar