Breaking News

Kasus Dugaan Penyalahgunaan Importasi Garam, Eks Menteri KKP Susi Pudjiastuti Segera Dipanggil Kejagung

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti. Foto: Istimewa/ Net

WELFARE.id-Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mengusut kasus dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan wewenang dalam penentuan kuota, pemberian persetujuan, pelaksanaan, dan pengawasan impor garam di Kementerian Perdagangan (Kemendag) tahun 2016 hingga 2022. 

Kejagung menjadwalkan, pemeriksaan terhadap mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pemberian fasilitas impor garam industri pada 2016 sampai 2022. 

Susi dimintai keterangan salah satunya terkait pengeluaran kuota kebutuhan impor garam dalam negeri. "Minggu depan tunggu Bu Susi tuh mau datang," tutur Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Andriansyah di Kejagung, Kamis (6/10/2022). 

Susi dinilai cukup tahu tentang proses dan latar belakang penggunaan atau dasar pengeluaran kuota kebutuhannya. "Karena, memang beliau orang yang paling berkompeten saat itu dan diduga hitungan-hitungannya itu tidak dipertimbangkan. Sehingga terjadi impor yang berlebihan," jels Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung Kuntadi.

Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga akan memanggil Dirjen Industri Kimia di Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Meski begitu, dirinya belum merinci lebih jauh perihal identitas dan status kedudukannya saat ini.

"Ya kita sedang menelusuri semua lah siapa yang tahu dan memahami proses-proses impor kemarin," imbuhnya. Kapuspenkum Kejagung Ketut Sumedana menyampaikan, pihak Kemendag diduga meloloskan kuota impor garam sebanyak 3,7 juta ton atau senilai Rp2 triliun lebih tanpa pertimbangan stok garam lokal.

"Bahwa pada 2018 terdapat 21 perusahaan importir garam yang mendapat kuota persetujuan impor garam industri sebanyak 3.770.346 ton atau dengan nilai sebesar Rp2.054.310.721.560, tanpa memperhitungkan stok garam lokal dan stok garam industri yang tersedia. Sehingga mengakibatkan garam industri melimpah," tutur Ketut dalam keterangannya, Juni lalu.

Ia menambahkan, para importir kemudian mengalihkan garam industri menjadi garam konsumsi. Dengan perbandingan harga yang cukup tinggi, sehingga mengakibatkan kerugian bagi petani garam lokal dan kerugian perekonomian negara.

"Tim Penyelidik telah melakukan permintaan keterangan kepada beberapa orang yang terkait dan mendapat dokumen-dokumen yang relevan. Setelah dilakukan analisa dan gelar perkara, disimpulkan bahwa terhadap perkara impor garam industri telah ditemukan adanya peristiwa pidana. 

Sehingga dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan untuk mengumpulkan bukti-bukti dan membuat terang peristiwa tersebut, serta menemukan siapa yang bertanggung jawab atas perbuatan tersebut," paparnya panjang lebar.

Adapun ketentuan Pasal yang disangkakan dalam kasus tersebut yaitu primair Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, subsidiair Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 


"Pada 2018 Kementerian Perdagangan menerbitkan aturan impor garam industri pada PT MTS, PT SM, dan PT UI tanpa melakukan verifikasi, sehingga menyebabkan kelebihan impor garam industri," tutur Jaksa Agung ST Burhanuddin di Kejagung, sebelumnya.

Ia menyayangkan imbas dari kasus tersebut nyatanya merugikan para petani garam dalam negeri dan UMKM. Ia pun memastikan perkara tersebut akan diusut tuntas.

"Yang lebih menyedihkan lagi, garam ini yang tadinya khusus diperuntukkan untuk industri, dia dicetak menggunakan SNI. Artinya lagi yang seharusnya UMKM yang mendapatkan rezeki di situ, dari garam industri dalam negeri, ini mereka garam impor dijadikan sebagai industri Indonesia yang akhirnya dirugikan adalah para UMKM, ini yang sangat menyedihkan," bebernya. (tim redaksi)

#importirgaram
#kejagung
#kejaksaanagung
#industrigaram
#umkm
#merugikanpetanigaram
#garamimpor
#mantanmenterikkp
#susipudjiastuti

Tidak ada komentar