Breaking News

Dihantui Bayang-Bayang Resesi dan Perlambatan Ekonomi, McKinsey Justru Optimistis Indonesia Berpeluang di 6 Hal Ini

Gedung pencakar langit. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Di tengah bayang-bayang resesi dunia saat ini, setiap negara tetap memiliki peluang ekonomi masing-masing. Senior Partner, Head of  Financial Services for ASEAN McKinsey and Company Guillaume de Gantes melihat enam peluang besar bagi Indonesia di tengah ancaman resesi tahun depan.

"Kami melihat enam peluang besar bagi Indonesia. Peluang nomor satu, kita bisa menjadi pemimpin dunia dalam solusi berbasis alam. Jadi kita bisa menjadi pemimpin dunia dalam benar-benar mendorong ESG dan perubahan lingkungan,” kata Guillaume dalam Capital Market Summit & Expo 2022, dikutip Sabtu (15/10/2022).

Ia melanjutkan, hal tersebut merupakan peluang besar bagi Indonesia. Selain itu, peluang nomor dua, yaitu rantai pasokan global. 

"Saat ini semua orang memandang ke Tiongkok sebagai rantai pasokan multi negara,” ucapnya. Namun sesungguhnya, Indonesia berpeluang menjadi Foreign Direct Invesment (FDI). 

Seperti diketahui, FDI merupakan penanaman modal yang dilakukan oleh swasta dari luar negeri. "Saya kira pertanyaan besar dan sangat penting bagi Indonesia adalah bagaimana kita bisa menjadi pertimbangan untuk FDI? Saat ini, empat negara telah memimpin dalam rantai pasokan baru. Indonesia berada pada rekor kecepatan di bawah empat negara tersebut,” akunya.

Peluang selanjutnya, yakni meningkatkan tabungan domestik jangka panjang. Sehingga, Indonesia dapat meningkatkan porsi investasi dalam produk domestik bruto (PDB), maupun investasi swasta.

"Peluang besar nomor tiga bagi Indonesia dalam pandangan kami benar-benar menopang basis konsumen yang sangat besar untuk meningkatkan tabungan domestik jangka panjang. 

Sehingga kita dapat meningkatkan porsi investasi dalam PDB, investasi swasta. Sebab, jika melihat saat ini, tabungan rata-rata warga Indonesia masih terbatas," ucapnya.

Kemudian, peluang nomor empat, yaitu menjadi ekosistem digital terbaik di dunia. Karena Indonesia memiliki populasi digital terbanyak di dunia. 

Selain itu, peluang nomor lima, yakni terus mempercepat modernisasi infrastruktur. Lalu, peluang nomor enam, Indonesia mendorong layanan ekspor. 

"Kelima terus mempercepat modernisasi infrastruktur dan keenam dan terakhir benar-benar mendorong ekspor jasa. Indonesia memiliki banyak penawaran layanan potensial termasuk pariwisata banyak layanan lainnya,” bebernya lagi.

Dengan demikian, Indonesia bisa mendorong ekspor jasa di ASEAN. Hal tersebut merupakan peluang yang sangat besar bagi Indonesia. "Jadi mendorong ekspor jasa di ASEAN menurut kami adalah peluang yang sangat besar,” tekannya. 

Sementara itu, Melansir data World Economic Outlook IMF Oktober 2022, dikutip Sabtu (15/10/2022), pertumbuhan ekonomi dunia di 2023 mengalami revisi minus 0,2 persen dari sebelumnya 2,9 persen menjadi 2,7 persen. Senada dengan itu, IMF pun turut mengoreksi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2023 minus 0,2 persen, dari 5,2 persen menjadi 5,0 persen. 

Namun secara angka, itu masih jauh lebih besar dibanding rata-rata dunia. Sebagai perbandingan dengan sejumlah negara adidaya dunia seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris, ekonomi RI masih jauh lebih unggul ketimbang dua negara tersebut, yang pada tahun depan bakal mengalami pelemahan tajam.

Pertumbuhan ekonomi AS diprediksi akan mengalami pertumbuhan ekonomi 1,1 persen di 2023, turun drastis dari 2,4 persen di 2022. Sementara Inggris lebih parah, dengan pertumbuhan ekonomi 0,3 persen di 2023 berbanding 3,6 persen di 2022.

Senada, Uni Eropa yang tengah terjebak konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina juga diperkirakan melemah jadi 0,5 persen pada 2023, dari sebelumnya 3,1 persen di 2022. 

Beberapa negara seperti Jerman dan Italia bahkan diprediksi perekonomiannya akan tumbuh minus sepanjang 2023, antara lain sebesar -0,3 persen untuk Jerman dan -0,2 persen untuk Italia.

Indonesia sendiri dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,0 persen di 2023 terbilang superior, dan hanya kalah dari India yang diperkirakan mencatat angka pertumbuhan 6,1 persen. 

Itu pun India mengalami koreksi minus 0,7 persen dibanding tahun ini, dimana pertumbuhan ekonominya di sepanjang 2022 diproyeksikan mencapai 6,8 persen.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, optimististis pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan bisa menyentuh angka 5,2 persen hingga akhir 2022 ini. 

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas 5 persen, dan di kuartal III dan kuartal IV Angka 5,2 persen bisa dicapai," ujar Airlangga kepada wartawan, awal pekan ini.

Menurutnya, capaian itu bisa diperoleh karena ditopang oleh berbagai komponen pendukung. Semisal, konsumsi rumah tangga akan tumbuh 5,5 persen YoY, lalu Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi naik 3,07 persen.

Sedangkan dari komponen pertumbuhan ekonomi lapangan usaha, pertumbuhan sektor transportasi disebutnya akan melonjak 21,27 persen. Di sisi lain, industri pengolahan tetap bakal jadi sumber utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara dari sektor riil, neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan menurutnya masih tumbuh positif. Dengan indeks keyakinan konsumen tercatat di atas 100, serta cadangan devisa masih sekitar USD130 miliar. (tim redaksi)

#pertumbuhanekonomi
#sektorriil
#peluangindonesia
#ancamanresesidunia
#peluangekonomiindonesia
#jasaeksporasean
#rantaipasokanglobal

Tidak ada komentar