Breaking News

Biaya Sangat Tinggi, Pembangunan MRT dan LRT di Kota Tangsel Masih Wacana

Kemacetan parah di Pasar Serpong, Kota Tangsel karena kendaraan pribadi dan belum ada transportasi publik. Foto: net

WELFARE.id-Ternyata selama ini gembar-gembor pembangunan transportasi publik terintegrasi seperti MRT (mass rapid transport) dan LRT (light rail transit) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) masih wacana.

Memang selama ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) telah merencanakan terciptanya transportasi publik terintegrasi di kota penyangga ibu kota tersebut. Tujuannya memudahkan mobilitas masyarakat.

"Ini wacana dulu yang kita coba hidupkan kembali. Ini kan sudah lama dikaji, hanya memang terakhir ini terkait dengan persoalan siapa yang akan mendanai program ini," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangsel Bambang Noertjahjo, Senin (17/10/2022).

Dia juga mengatakan biaya pembangunan transportasi tersebut dinilai sangat tinggi. Selain itu, menurutnya juga, perjalanan untuk pembangunan transportasi itu dinilai butuh waktu yang panjang.

"Bukan hanya tinggi (dananya), tapi sangat tinggi. Sudah ada penurunan level, awalnya kita bicara MRT menjadi LRT cari yang lebih efisien. Hanya ini perlu pembahasan yang menurut saya mungkin agak panjang selain bicara soal pendanaan tapi juga para pihak yang kita ingin ajak serta untuk menyukseskan ini," ungkapnya lagi.

Hal itu terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang pembangunannya. Salah satu yang terpenting adalah mengenai ketersediaan lahan yang cukup luas.

"Transportasi publik sasarannya adalah publik, berarti mau tidak mau harus bawa track-nya ke area publik berkumpul. Nah ini biasanya akan membutuhkan sarana infrastruktur minimal lahan yang akan kita gunakan sebagai pembuatan station (stasiun) misalnya. Ini yang harus kita pikirkan, banyak hal," paparnya juga. 

Bambang juga menambahkan, pihaknya juga tengah melakukan pengkajian mengenai transportasi publik yang lebih memadai di daerah itu dengan angkutan kota (angkot). 

Saat ini Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangsel masih melakukan pengkajian terkait pembaruan trayek. "Dishub saat ini sedang melakukan pengkajian, apakah akan melakukan penambahan trayek apakah akan justru menghilangkan trayek, ini masih dikaji. Dan kita berharap kajian itu bisa selesai segera agar kita bisa tepat juga mengambil kebijakan mau ngapain," jelasnya.

Dishub Kota Tangsel juga telah menyampaikan akan menyelesaikan kajian terkait hal itu pada tahun ini. Sehingga pada 2023, transportasi publik yang lebih memadai dapat segera direalisasikan.

"Yang utama dalam kajian itu hasil output-nya seperti penambahan trayek, pembaharuan trayek, perpanjangan trayek, dan terkait BRT (bus rapid transit) yang ada," ujar Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Tangsel, Muhammad Syaiful.

Syaiful menyebut akan menciptakan angkutan umum yang terintegrasi di Kota Tangsel antara angkot dan BRT. Selain itu, pihaknya juga menggandeng para pengembang perumahan untuk menyediakan angkutan umum di wilayah pengembang perumahannya.

"Memang kami mencari pengembang-pengembang untuk mengembangkan angkutan umum di wilayahnya juga sehingga jadi feeder-feeder angkutan yang ada. Nanti semua akan terintegrasi," ungkapnya juga.

"Tahun ini kita berharap kajiannya selesai. Tahun depan atau 2023 kita berharap aturan-aturannya pun sudah bisa dimasukkan," tandasnya. (tim redaksi)


#kotatangsel
#transportasipublik
#mrt
#lrt
#sekdatangsel
#dishubtangsel
#kemacetan

Tidak ada komentar