Breaking News

Antisipasi Perlambatan Ekonomi Tahun Depan, Sri Mulyani Andalkan APBN 2023

Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Foto: Hafidz Mubarak/Antara 

WELFARE.id-Kondisi dunia yang tak menentu terkait krisis pangan, energi, inflasi dan dampak perang Ukraina dan Rusia, membuat ancaman terjadinya perlambatan perekonomian tahun depan makin nyata. 

Tapi, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyakini kalau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen fiskal bisa menjadi bantalan untuk menghadapi potensi perlambatan ekonomi pada 2023.

Menurutnya juga, pemerintah bersama DPR RI telah membuat APBN 2023 untuk menghindari risiko dari pasar yang sangat tidak pasti akibat konflik geopolitik dan tekanan inflasi.

"Pengalaman selama pandemi, DPR RI bersama dengan pemerintah telah membuat APBN menjadi fleksibel dan responsif," kata Sri Mulyani di sela-sela Pertemuan IMF-WB di Washington DC, AS, Selasa (11/10/2022) waktu setempat.

Dia juga menjelaskan kehadiran APBN dengan defisit anggaran yang kembali di bawah tiga persen PDB tersebut, dapat mendukung pemulihan ekonomi nasional pascapandemi. 

Sehingga berpotensi menjadi penguat sektor konsumsi maupun investasi. ”Menarik capital inflow bisa menimbulkan dampak yang menetralisir dampak outflow yang disebabkan kenaikan suku bunga The Fed," paparnya juga. 

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) terbaru, IMF memperkirakan perekonomian global berada pada kisaran 3,2 persen pada 2022, dan melambat hingga 2,7 persen di 2023, atau menurun 0,2 persen dibandingkan outlook pada Juli 2022.

Sementara itu, Economic Counsellor IMF Pierre-Olivier Gourinchas menjelaskan sebagian besar negara perekonomiannya mengalami kontraksi hingga tahun depan.

Bahkan, sejumlah negara perekonomian terbesar seperti Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Tiongkok (China, Red) juga akan melanjutkan tren perlambatan tahun depan.

"Terdapat tiga tantangan yang mempengaruhi perlambatan, konflik di Ukraina, tekanan inflasi, dan pelemahan ekonomi di Tiongkok," kata Pierre-Olivier Gourinchas dalam jumpa pers World Economic Outlook (WEO) di Washington DC.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menilai ketahanan ekonomi Indonesia saat ini masih baik dan kinerja pertumbuhan berada di jalur yang benar, meski IMF menurunkan proyeksi global dalam laporan terbarunya.

Penyebabnya antara lain ekspor komoditas yang masih menjadi primadona serta adanya penguatan industri hilirisasi atau olahan barang hasil mineral yang berorientasi ekspor.

”Kita punya nikel, tembaga atau copper yang dulu tidak boleh ekspor karena harus melalui smelter dulu, sekarang kita sudah dapat hasilnya, dan harganya mencapai 10 kali lipat," papar Dody. (tim redaksi)


#ekonomi
#perekonomiandunia
#perlambatanekonomi
#menterikeuangan
#srimulyani
#apbn2023

Tidak ada komentar