Breaking News

Terkendala Cuaca, Emiten Batu Bara Tetap Optimistis Kejar Target hingga Akhir Tahun

Pertambangan batu bara. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Sejumlah emiten pertambangan batu bara mulai menggenjot produksi di sisa tahun ini guna mengejar target produksi yang telah dipasang. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) misalnya, mencanangkan angka produksi batu bara di level 36,41 juta ton hingga tutup tahun 2022. 

Per semester pertama 2022, PTBA mencatatkan total produksi batubara sebesar 15,9 juta ton. Angka ini memang meningkat 20% dibandingkan realisasi produksi pada semester pertama 2021 yang sebesar 13,3 juta ton.

Hanya saja, realisasi produksi PTBA hingga enam bulan pertama 2022 hanya sebesar 43,66% atau masih kurang dari 50% terhadap target yang dipasang. Direktur Utama Bukit Asam Arsal Ismail mengatakan, realisasi produksi  ini sejalan dengan target internal, yakni 15,8 juta ton. 

Adapun emiten pelat merah ini akan mengejar produksi di semester kedua ini. "Dari sisi produksi kami masih on track,” terang Arsal kepada wartawan, dikutip Senin (5/9/2022).

PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) juga masih mempertahankan target produksi pada kisaran 58 juta ton sampai 60 juta ton batu bara untuk 2022. Target ini dipasang dengan perkiraan bahwa operasi pengambilan batubara akan meningkat pada paruh kedua 2022, seiring proyeksi perbaikan cuaca dan peningkatan ketersediaan alat berat. 

Untuk mengatasi hambatan dalam memperoleh alat berat, salah satu perusahaan anak, yakni PT Saptaindra Sejati (SIS), telah menunjuk satu kontraktor baru yang memiliki kapasitas peralatan untuk membantu pencapaian target produksi PT Adaro Indonesia. 

"Manajemen memperkirakan bahwa perusahaan akan dapat mencapai target produksi batu bara tahun 2022. Namun, karena cuaca buruk dan tantangan industri dalam mendapatkan alat berat, nisbah kupas tahun penuh 2022 mungkin akan lebih rendah daripada target," terang Bret Ginesky, Head of Investor Relations Adaro Energy.

Sebagai gambaran, ADRO memproduksi 28,01 juta ton batu bara pada semester pertama 2022. Jumlah ini naik 6% dari volume produksi pada periode yang sama tahun 2021 yakni 26,49 juta ton. 

Pada kuartal kedua sendiri, produksi batu bara ADRO naik 17% menjadi 15,9 juta ton dari sebelumnya 13,64 juta ton pada kuartal pertama 2021.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencanangkan volume produksi di rentang 78 juta ton sampai 83  juta ton batu bara pada 2022. Proyeksi ini naik dari realisasi di 2021 yang sebesar 78 juta ton batu bara.

"Dengan cuaca yang lebih kering dapat meningkatkan produksi, kinerja paruh kedua 2022 dapat secara signifikan lebih tinggi dari paruh pertama 2022," imbuh Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava. Adapun volume produksi batubara BUMI  pada semester pertama 2022 sebesar 34,5  juta ton, turun 14% dari sebelumnya 40.1 juta ton. 

Sejalan, volume penjualan BUMI juga turun 16% menjadi 33,8 juta ton dari sebelumnya 40,2 juta ton. Dileep menyebut, kinerja operasional BUMI terhambat oleh kondisi curah hujan karena La Nina. 

"Lebih banyak batu bara yang terekspos namun lebih sedikit yang ditambang karena hujan. Dalam cuaca yang lebih kering, (produksi) dapat meningkat," terang Dileep. 

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diproyeksikan mampu untuk mencapai target produksi sesuai dengan ekspektasi pada paruh kedua tahun ini. Target tersebut didukung optimisme cuaca yang lebih kondusif untuk penambangan batu bara.

Indo Tambang diproyeksikan membukukan volume produksi seabnyak 18,1 juta ton tahun ini dengan realisasi hingga semester I-2022 telah mencapai 7,6 juta ton. Sedangkan rata-rata harga jual diperkirakan mencapai USD147,9 per ton dengan cash cost diprediksi mencapai USD75,6 per ton.

Analis RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya dalam riset terbaru menyebutkan, ekspektasi cuaca kering yang bakal melanda Indonesia pada kuartal III-2022 akan mempercepat target produksi yang telah ditetapkan Indo Tambang. Kondisi cuaca yang kering berimbas terhadap peningkatan aktivitas produksi.

“Berdasarkan hasil diskusi kami dengan manajemen Indo Tambang, realisasi produksi tambang perseroan Indominco Mandiri, penyumbang 40% terhadap produksi tahunan, berjalan sesuai target hingga kini. Meskipun daerah tambang perseroan dilanda hujan pada kuartal I-2022,” terangnya dalam riset.

Selain faktor tersebut, ITMG memiliki faktor penopang kinerja dalam jangka panjang, yaitu hilirisasi batu bara. ITMG sebelumnya telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah untuk mengembangkan gasifikasi batu bara bawah tanah. 

Nantinya, cadangan batu bara di kedalaman ekstrem yang tidak dapat ditambang dengan metode open-pit akan dimanfaatkan untuk bahan bakar alternatif, seperti hidrogen dan amonia. Memang hingga kini, terang dia, perseroan belum menetapkan realisasi rencana tersebut. Hanya saja, percobaan telah menunjukkan dampak positif terhadap rencana tersebut. (tim redaksi)

#batubara
#kendalacuaca
#genjotproduksi
#cuacakering
#hujan
#realisasitarget
#kejartargetakhirtahun

Tidak ada komentar