Breaking News

Subsidi GrabFood, Perusahaan Rugi Rp8,29 Triliun di Kuartal II/2022

Grab. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Secara setahun penuh pendapatan Grab diperkirakan mencapai USD1,25 miliar (Rp18,5 triliun) dengan kerugian ditaksir USD1,43 miliar (Rp21,16 triliun). Perusahaan teknologi asal Singapura, Grab Holdings, membukukan kenaikan insentif 28% secara tahunan (yoy) yang diberikan kepada pelanggan.

Dalam earning call untuk kuartal kedua (April-Juni) tahun ini, Grab menyebut bahwa insentif yang diberikan kepada pelanggan naik menjadi USD311,1 juta atau setara dengan Rp4,64 triliun (asumsi kurs Rp 14.900/USD). Sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu besar insentif kepada pelanggan adalah sebesar USD242,6 juta (Rp3,61 triliun). 

Bila dibandingkan dengan total transaksi, subsidi yang diberikan tersebut setara 6,2% total gross merchandise value (GMV) Grab yang pada kuartal kedua angkanya mencapai USD5,1 miliar (Rp76 triliun). Seluruh segmen bisnis perusahaan mengalami kenaikan jumlah subsidi, dengan porsi terbesar masih dicatatkan oleh segmen pengiriman. 

Bisnis pengantaran makanan menjadi salah satu ceruk bisnis baru yang diperebutkan oleh banyak pihak. Selain Grab yang saat ini masih memimpin pasar, terdapat Go-Food yang mengekor tidak jauh di belakang. 

Grab memberikan insentif khusus segmen pengiriman makanan hingga USD221 juta (Rp3,29 triliun) kepada para pelanggan pada kuartal II tahun ini. Angka tersebut naik 20% dari periode yang sama tahun lalu, namun turun 12% dari kuartal sebelumnya.

Akibat masih besarnya insentif yang diberikan, khususnya bagi pelanggan - dalam tiga bulan kedua tahun ini, total kerugian yang dicatatkan Grab mencapai USD572 juta (Rp8,29 triliun). Angka jumbo tersebut nyatanya membaik signifikan atau kerugian Grab berkurang 40% dari periode yang sama tahun lalu.

Padahal, kinerja keuangan Grab belum pulih benar. Pun demikian dengan kinerja sahamnya, bulan lalu.

Grab Holdings Ltd yang melantai di bursa Nasdaq telah terkoreksi 64% dari harga penawaran awal SPAC. Jika dibandingkan pesaingnya, GoTo yang melantai di bursa saham domestik, kapitalisasi pasar GoTo saat ini nyaris mencapai dua kali lipat dari yang dibukukan oleh Grab di Wall Street. 

Hingga akhir perdagangan Selasa (24/8/2022), valuasi Grab tercatat sebesar USD13,82 miliar atau setara dengan Rp205 triliun (asumsi kurs Rp14.800/USD). Sedangkan GoTo tercatat nyaris mencapai Rp390 triliun.

Grab secara resmi mulai melantai di AS lewat jalur IPO non konvensional, dengan kesepakatan awal SPAC memberikan penilaian USD40 miliar bagi perusahaan tersebut. Kedua perusahaan masih mencatatkan kinerja negatif hingga kuartal terbaru yang telah dirilis kepada investor. 

Pada kuartal pertama 2022, rugi tahun berjalan Grab tercatat sebesar USD435 juta (Rp6,44 triliun) turun 35% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Kerugian fantastis tersebut masih sedikit lebih baik dari yang dibukukan oleh GoTo dengan rugi bersih kuartal pertama 2022 mencapai Rp6,47 triliun.

Sementara itu, dari segi pendapatan, Grab mencatatkan kinerja top line yang dua kali lebih besar dari GoTo. Pendapatan Grab tercatat sebesar USD228 juta (Rp3,74 triliun), berbanding dengan Rp1,50 triliun yang dicatatkan oleh GoTo.

SmartEstimate Refinitiv atas laporan sejumlah analis memperkirakan pendapatan Grab untuk kuartal kedua (April-Juni) sebesar USD274 juta, lebih baik dari kuartal pertama. Adapun kerugian diperkirakan juga mengalami perbaikan menjadi USD345 juta.

Kinerja keuangan Grab 2021

Perusahaan teknologi asal Singapura Grab Holdings Ltd mengumumkan kinerja keuangannya sepanjang 2021. Grab tercatat masih mengalami kerugian hingga tahun lalu.

Grab membukukan pendapatan senilai USD675 juta, meningkat 44 persen secara year-on-year (yoy) dari USD469 juta pada 2020. Pendapatan ini meningkat karena pertumbuhan dari segmen pengantaran dan layanan keuangan.

Meski demikian, kerugian Grab pada 2021 membengkak 30 persen menjadi USD3,55 miliar atau setara Rp51,07 triliun (kurs Rp14.385), dari USD2,74 miliar di 2020. Kerugian ini mencakup USD1,6 miliar beban bunga nontunai terkait dengan saham yang dapat ditukarkan, yang dihentikan setelah pencatatan saham Grab dan sebesar USD353 juta merupakan pengeluaran terkait pencatatan publik.

Kerugian Grab untuk kuartal IV/2021 saja mencapai USD1,1 miliar yang mencakup USD311 juta beban bunga nontunai terkait dengan saham preferen. Sementara itu, Gross Merchandise Value (GMV) Grab tumbuh 29 persen yoy, menyentuh angka USD16,1 miliar yang merupakan rekor bagi perseroan. 

Lalu, average monthly transacting users (MTUs) untuk 2021 sebesar 24,1 juta, lebih rendah 2 persen akibat lockdown di kuartal III/2021. Rata-rata pengeluaran per pengguna, yang didefinisikan dengan GMV per MTU, meningkat 31 persen yoy ke USD666. 

Hal ini mencerminkan loyalitas yang lebih besar dan semakin kuatnya user base perseroan. Group CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan mengatakan, tahun lalu, merupakan tahun terkuat perseroan. 

Bahkan saat menghadapi kondisi pandemi yang lebih berat dengan varian Delta dan Omicron. "Kami mencapai pertumbuhan yang luar biasa baik dalam GMV maupun pendapatan, sambil terus meningkatkan margin EBITDA yang disesuaikan dari tahun ke tahun," ujarnya.

Menurutnya, orang Asia Tenggara semakin mengandalkan superapp Grab untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Ia menyebut, sebanyak 56 persen pengguna Grab menggunakan dua atau lebih layanan Grab dan rata-rata pembelanjaan pengguna di Grab tumbuh 31 persen pada 2021.

"Kami berharap 2022 akan menjadi tahun yang menentukan bagi Grab. Karena kami bersiap meluncurkan layanan digibank kami di Singapura," harapnya.

Chief Financial Officer Grab Peter Oey menuturkan, pihaknya berencana untuk berhati-hari dan disiplin dalam mengalokasikan modal. Pasalnya, pihaknya ingin menggandakan peluang pertumbuhan jangka panjang dari bisnis on-demand, periklanan, dan layanan keuangan Grab.

"Kami tetap fokus pada jalur kami menuju profitabilitas dan akan terus meningkatkan ekonomi unit kami," ulasnya. (tim redaksi)

#grab
#kinerjaperusahaan
#kinerjakeuangan
#kinerjasaham
#sahamgrab

Tidak ada komentar