Breaking News

Sosok Founder Vitol Group, Penyedia SPBU Vivo di Tanah Air

Salah satu SPBU Vivo yang ramai diperbincangkan karena menjual BBM lebih murah dari Pertamina yang disubsidi pemerintah. Foto: net

WELFARE.id-Di tengah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), riuh di media sosial seperti TikTok, Instagram dan Facebook, terkait fakta bahwa SPBU Vivo menjual BBM lebih murah dari Pertalite yang disubsidi pemerintah. 

Banyak warganet yang menyarankan agar masyarakat beralih untuk mengisi bahan bakar di SPBU bukan milik Pertamina tersebut. Siapakah pemilik SPBU Vivo yang merupakan penjual BBM asing tersebut? 

Jaringan SPBU Vivo berada di bawah bendera PT Vivo Energy Indonesia, perusahaan sektor hilir minyak dan gas bumi, yang resmi beroperasi di Indonesia sejak tahun 2017 lalu. 

Perusahaan penyalur BBM ini sejatinya masih terafiliasi dengan Vitol Group, raksasa minyak yang berbasis di Swiss.Dikutip dari laman resminya, Vitol Group sudah memiliki jaringan di lebih dari 40 negara. Perusahaan multinasional ini memperdagangkan 367 juta ton minyak mentah dan produk turunannya. 

Mengutip dari Bloomberg, Vitol lahir di tengah ambisi sederhana. Berawal pada Agustus 1966, dua orang pemuda Belanda, Henk ViĆ«tor dan Jacques Detiger, menginvestasikan 10.000 gulden Belanda (sekitar USD2.800 saat itu) untuk memulai perusahaan Rotterdam dengan tujuan membeli dan menjual produk minyak olahan di Rhine. 

Adapun, uang tersebut merupakan pinjaman dari ayah Vietor dan kedua rekan kerja itu setuju untuk membayar tingkat bunga tahunan sebesar 8 persen. Rekening pertama perusahaan menunjukkan keuntungan kecil dan neraca 200.000 gulden. 

Bisnis itu berkembang seiring persaingan. Tahun 1960-1970, produsen besar yang mengendalikan kontrak jangka panjang bangkrut. Pedagang kecil, termasuk Vitol pun mengambil kesempatan dengan mulai membeli dan menjual minyak di pasar spot yang baru lahir. 

Founder dan CEO Vitol Group, Ian Roper Taylor membangun bisnis Vitol hingga menjadi perusahaan penyalur BBM terbesar secara global ini mulai terbentuk pada tahun 1990.

Ketika itu, Detiger dan tujuh mitra lainnya menjual perusahaan tersebut seharga USD100 juta hingga USD200 juta (angka sebenarnya tidak diungkapkan) kepada sekitar 40 karyawan, termasuk Ian Taylor. 

Ian Roper Taylor yang lahir pada 7 Februari 1956 adalah seorang pengusaha dan dermawan Inggris yang merupakan ketua dan CEO The Vitol Group, pedagang energi independen terbesar di dunia. 

Dikenal dengan kepribadian penuh karisma dan otak bisnis cemerlang, Taylor kerap membawa perusahaan asal Belanda tersebut mencapai kesepakatan menguntungkan dengan pemerintah, perusahaan minyak nasional, pabrik penyulingan dan produsen. 

Taylor menjalani pendidikannya di King's School, Macclesfield hingga tahun 1974 dan kemudian melanjutkannya di Universitas Oxford hingga 1978 dengan jurusan Politik, Filsafat dan Ekonomi. 

Melansir dari Bloomberg, sebelum bergabung dengan Vitol pada tahun 1985, Taylor lebih dulu memulai karir perdagangan minyaknya dengan Royal Dutch Shell pada tahun 1978. 

Lalu, setelah dia memilih keluar dari Shell, dia pun membawa perusahaan dari pedagang bahan bakar kecil Belanda, yakni Vitol Group menjadi perusahaan minyak independen terbesar di dunia, memindahkan lebih dari 7 juta barel minyak mentah dan produk minyak sehari. 

Taylor menikah dengan istrinya, Cristina (Tina) Alicia Hare pada 1982. Saat ini mereka telah dikarunia empat anak – dua putra dan dua putri. 

Taylor sangat mendukung pendidikan seni dan promosi atas inisiatif tertentu, sehingga Vitol mulai membuat hibah amal pada tahun 2002, dan pada tahun 2006 Yayasan Vitol didirikan, dengan Taylor sebagai ketua pertamanya. 

Tujuan yang dinyatakan adalah untuk memungkinkan anak-anak yang hidup dalam kekurangan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan mencapai potensi mereka dalam hidup. 

Karyawan Vitol didorong untuk mengidentifikasi proyek yang dapat memperoleh manfaat dari dukungan Yayasan. Sejak 2006 Yayasan Vitol telah mendanai lebih dari 2.000 proyek, dengan nilai gabungan sekitar £160 juta, di 124 negara di seluruh dunia. 

Taylor juga pemegang saham mayoritas di Harris Tweed Hebrides, produsen utama kain Harris Tweed, di mana Taylor diketahui sempat menyelamatkan bisnis itu pada tahun 2005 dari krisis keuangan. 

Berkat kedermawanannya, pada tahun 2011, Taylor pun menerima penghargaan Outstanding Emergency Partner perdana dari Save the Children. Taylor didiagnosis kanker pada 2014, dan setelah akhirnya menjalani Proton Beam Therapy (PBT) di Swiss pada tahun 2018. 

Dalam salah satu tindakan filantropi terakhirnya, Taylor pun menyumbangkan £4,5 juta melalui Taylor Family Foundation untuk membantu dana uji klinis skala besar di dunia yang terkenal Pusat Kanker Christie di Manchester. 

Pada Maret 2018, Russell Hardy pun diangkat sebagai CEO seluruh perusahaan, menggantikan Ian Taylor. Ian Taylor lengser dan meninggalkan jabatannya pada tahun 2018 akibat faktor kesehatan. 

Taylor berpulang di usia 64 tahun setelah bertarung dengan komplikasi penyakit kanker dan pneumonia pada Selasa (9/6/2020) waktu London. 

Russell Hardy sendiri merupakan seorang pengusaha Inggris, dan kepala eksekutif (CEO) Vitol, perusahaan perdagangan minyak independen terbesar di dunia. Di masa muda, Hardy memiliki gelar master di bidang teknik dari Imperial College London. 

Melansir dari Linkedin, sejak awal karir, dia memang telah bergabung di perusahaan dagang bahan bakar minyak, yakni BP. Namun, pada tahun 1993, Hardy meninggalkan BP dan bergabung dengan Vitol. 

Dia telah menjadi anggota komite eksekutifnya sejak 2007, dan CEO kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika sejak 2017. (tim redaksi)


#spbuvivo
#perusahaanminyak
#vitol
#perusahaanbelanda
#bbm
#bbmmurah

Tidak ada komentar