Breaking News

Program Konversi Kompos Gas ke Listrik Digenjot, Gimana Nasib Pemakai Daya 450-900 VA?

Kompor listrik. Foto: Ilustrasi/ iStockphoto

WELFARE.id-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan, saat ini sedang dilakukan uji coba kompor listrik yang mencapai 300 ribu unit. Hal tersebut sejalan dengan rencana pemerintah menjalankan program mengkonversi LPG ke Kompor Induksi sebanyak 15,3 juta pelanggan.

Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, uji coba tersebut bakal dilakukan pada 3 kota. "Saat ini masih uji coba di 3 kota, masih dipelajari respons masyarakat serta aspek teknis dari kompor induksi tersebut," kata Dadan.

Ia melanjutkan, proses uji coba akan melihat kapasitas kompor yang tepat, sehingga masyarakat akan lebih nyaman dalam memasak. Dadan juga menjelaskan, bahwa uji coba yang dilakukan PLN saat ini adalah kompor listrik 2 tungku dengan kapasitas 1.000 watt.

"Uji coba ini dilakukan oleh PLN, jadi dibuatkan jaringan khusus di rumah untuk kompor," jelasnya. Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Irto Ginting buka suara terkait adanya rencana program migrasi kompor gas ke listrik. Ia menjelaskan belum ada arahan untuk mengurangi suplai gas 3 kilogram (kg) di daerah.

"Sementara belum ada arahan," ungkap Irto, dikutip Senin (19/9/2022). Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo membenarkan, program konversi kompor ini dilakukan PLN sebagai salah satu upaya mengurangi beban negara atas impor LPG yang naik tiap tahunnya 

Khususnya LPG 3 kg, selama ini gas tersebut merupakan subsidi yang masih dijual bebas sehingga tidak tepat sasaran dan menjadi beban APBN. "Melalui konversi kompor ini langsung bisa menyelesaikan tiga persoalan sekaligus. 

Mengurangi ketergantungan impor LPG dengan energi berbasis domestik, yaitu listrik dan juga mengurangi beban APBN yang selama ini untuk subsidi LPG ini," yakinnya.

Ia juga menyebut, langkah konversi kompor ini sejalan dengan misi KTT G20, yaitu transisi energi. Dengan menggunakan kompor induksi maka emisi gas buang jauh lebih rendah dibandingkan kompor LPG.

"Proyek migrasi tersebut akan dimulai di Solo dan Bali. Untuk itu kami melakukan 2 lokasi uji klinis yaitu di Solo 1.000 kompor induksi dan 1.000 lagi di Bali," ulasnya.

PT PLN (Persero) pada tahun ini mengejar target uji coba konversi kompor LPG ke kompor induksi atau listrik pada 300.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). PLN memastikan para KPM ini tak akan mengalami kenaikan tagihan rekening listrik. 

PLN selain akan memberikan kompor induksi dan juga utensilnya kepada KPM, nantinya PLN juga akan memasang mesin catat meter tersendiri yang khusus mencatat penggunaan dari kompor induksi ini. "Kami akan memasang MCB tersendiri dan jalur sendiri yang khusus untuk mencatat penggunaan kompor induksi yang diterima oleh para pelanggan ini," paparnya.

Untuk itu, kata dia masyarakat tidak perlu khawatir terkait perubahan daya listrik pelanggan. Para KPM yang mendapatkan program ini akan tetap berada di level daya 450 VA dan 900 VA sesuai dengan data penerima subsidi selama ini.

"Jadi kami pastikan tidak ada kenaikan daya. Ini tidak akan tersambung pada pola konsumsi listrik harian. Tagihannya juga nanti akan kami bedakan," janjinya.

Ia juga memastikan bahwa pelanggan listrik 450 VA dan 900 VA hari ini yang tercatat sebagai penerima subsidi listrik dan menjadi KPM dari program konversi kompor ini akan tetap menjadi penerima subsidi. "Tidak akan ada perubahan golongan atau dinaikan dayanya karena program ini," terangnya lagi.

Ia mengajak masyarakat untuk bisa beralih menggunakan kompor induksi ini. Sebab, kompor induksi ini terbukti lebih murah dibandingkan dengan LPG.

Dari sampling yang dilakukan PLN, pada pelanggan rumah tangga sebulannya membutuhkan 2 tabung dalam satu bulan atau setara dengan 6 kg. Dengan memakai kompor induksi, pelanggan rumah tangga hanya mengkonsumsi 46,7 kwh yang setara dengan 2,2 kg elpiji.

Sedangkan di kalangan industri UMKM, kebutuhan elpijinya 12 kg per bulan. Sementara itu, usai memakai kompor induksi pelanggan tersebut hanya menghabiskan 204,8 kwh atau setara dengan 9,5 kg elpiji. 

Harga keekonomian listrik untuk setara dengan kompor LPG ini sebesar Rp11.792 per kg. Sedangkan harga keekonomian LPG hari ini mencapai Rp20.000 per kg. 

Dengan perbandingan itu, maka lanjutnya, pemerintah sekaligus juga menghemat APBN atas beban subsidi. "Jadi, jika dihitung penghematan negara untuk rumah tangga sendiri saja per tahun pemerintah bisa menghemat Rp630 ribuan per pelanggan dan untuk Rp2,7 juta per pelanggan UMKM per tahun," rincinya. (tim redaksi)

#konversigaskelistrik
#penghematannegara
#pln
#bebansubsidi
#komporinduksi
#penerimasubsidilistrik
#kementerianesdm

Tidak ada komentar