Breaking News

Presiden Jokowi Pertimbangkan Beli Minyak Rusia, Begini Respons Pengamat

Kilang minyak. Foto: Ilustrasi/ Shutterstock

WELFARE.id-Presiden Joko Widodo tengah mempertimbangkan mengikuti jejak India dan Tiongkok membeli minyak Rusia. Masuknya opsi tersebut dengan mempertimbangkan meningkatnya tekanan dan kenaikan harga energi saat ini, akibat perang Rusia dan Ukraina.

Melansir Financial Times, Selasa (13/9/2022), saat ini Jokowi belum mengambil keputusan final. "Semua opsi selalu kami pantau. Jika ada negara (dan) mereka memberikan harga yang lebih baik, tentu saja," kata Jokowi, ketika ditanya apakah Indonesia akan membeli minyak dari Rusia.

Pada awal bulan ini, Jokowi menaikkan harga bahan bakar bersubsidi sebesar 30 persen. Saat itu, pemerintah mengatakan bahwa kenaikan harga adalah "pilihan terakhirnya" karena tekanan fiskal. 

Kebijakan tersebut memicu aksi demonstrasi di Indonesia hingga hari ini. Namun, bagi Indonesia, membeli minyak Rusia juga bukanlah pilihan mudah.

Sebab, usaha untuk membeli minyak mentah Rusia dengan harga di atas batas yang disepakati oleh negara-negara G7 dapat membuat Indonesia terkena sanksi AS. Wacana pembelian minyak dari Rusia sebenarnya sudah diungkapkan sejak akhir Maret 2022 oleh PT Pertamina (Persero).

Saat itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan, manajemen akan mengimpor minyak mentah dari Rusia. Pasalnya, harga minyak dari Negeri Beruang Merah itu lebih murah di tengah konflik dan hujan sanksi dari negara-negara barat.

"Di saat harga sekarang situasi geopolitik, kami melihat ada opportunity untuk membeli dari Rusia dengan harga yang baik," ungkap Nicke dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR pada akhir Maret 2022. Kala itu, dia mengaku pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Bank Indonesia (BI) untuk mengimpor minyak dari Rusia.

Menurut dia, rencana ini tak akan berdampak negatif dari sudut pandang politik asalkan Pertamina membeli dari perusahaan yang tak dikenakan sanksi atas invasi Rusia ke Ukraina. "Untuk masalah ini, secara politik tidak akan masalah, sepanjang perusahaan yang kami deal ini tidak terkena sanksi," terangnya kala itu.

Namun, rencana itu batal. Manajemen beralasan stok minyak di kilang milik Pertamina sudah sesuai dengan jumlah kebutuhan di RI.

Menanggapi rencana RI untuk membeli minyak Rusia, Direktur Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira khawatir, rencana pembelian minyak dari Rusia bisa memberikan beberapa risiko bagi Indonesia. Ia memaparkan sebagai berikut:

1. Bisa membuat negara Eropa dan AS mengurangi impor dari Indonesia.

Ia mengatakan, kebijakan Indonesia mengimpor minyak Rusia bisa membuat Eropa dan AS mengurangi impor dari Indonesia. Maklum, berbagai negara di Eropa dan AS telah menjatuhkan banyak sanksi ekonomi untuk Rusia setelah menginvasi Ukraina.

"Perlu mengantisipasi, misalnya ketika negara-negara tujuan ekspor itu menemukan bahwa bahan baku yang dibeli oleh Indonesia mengandung minyak dari Rusia. Jadi ada konsekuensi bisa dihambat produk Indonesia masuk ke negara-negara lain," ungkap Bhima, melansir cnnindonesia.com, Selasa (13/9/2022).

2. Penurunan investasi

Tak hanya itu, jika pemerintah dan Pertamina mengimpor minyak dari Rusia, maka Eropa dan AS berpotensi mengurangi investasi di RI. Sebab, dua negara itu yang memberikan sanksi paling banyak untuk Rusia.

"Bisa berpengaruh ke investasi migas di Indonesia. Perusahaan asing di negara barat lebih berhati-hati untuk investasi kilang. Jadi malas karena Indonesia dinilai pro Rusia," jelasnya.

3. Gangguan pertumbuhan ekonomi

Jika ekspor dan investasi terganggu, bukan tak mungkin pertumbuhan ekonomi RI akan tertekan. Saat ini, ekspor dan investasi adalah dua komponen membentuk produk domestik bruto (PDB) di dalam negeri. (tim redaksi)

#minyakrusia
#rencanamembeliminyakrusia
#presidenjokowidodo
#presidenjokowi
#pertumbuhanekonomiri
#pertamina
#geopolitik

Tidak ada komentar