Breaking News

Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Dihidupkan Kembali di Eropa, Batu Bara RI Siap-Siap Diborong

Tambang batu bara. Foto: Ilustrasi/ Dok. Adaro Energy

WELFARE.id-Krisis energi Eropa yang dipicu penutupan saluran gas alam NordStrem 1 oleh perusahaan utilitas asal Rusia, Gazprom mengakibatkan batu bara kembali dipilih jadi sumber energi. Menghadapi musim dingin yang sebentar lagi melanda Eropa, sejumlah negara berlomba-lomba mengamankan cadangan energi mereka.

Berdasarkan data dari perusahaan konsultan energi dan gas, Rysrad Energy, pembangkit listrik berbahan bakal batu bara telah melonjak lebih dari 20% di sejumlah negara eropa seperti Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, dan Inggris. Ini merupakan tanda bahwa  negara-negara Eropa itu telah meningkatkan konsumsi batu bara tahun ini.

"Batu bara pasti kembali, dengan meroketnya harga gas alam dan kekeringan. Sekarang ini semua tentang bertahan hidup di musim dingin," kata Analis di Bank Swedia SEB, Ole Hvalbye, melansir Insider, Selasa (13/9/2022).

Seperti diketahui, harga gas alam Eropa meroket 300% tahun ini. Itu adalah capaian rekor tertinggi pada Agustus.  

Hal itu mendorong sejumlah perusahaan listrik di Austria, Belanda, dan Italia kembali melirik penggunaan batu bara. Bahkan, raksasa utilitas Jerman, Uniper Energy telah menghidupkan kembali PLTU hingga April 2023.

"Batu bara telah menjadi pilihan yang lebih murah bagi pembangkit listrik untuk sebagian besar tahun ini. Apalagi, didorong oleh situasi pasokan gas yang ketat di Eropa," kata Analis Rystad Energy Fabian Ronningen.

Ronningen memprediksi, batu bara bakal jadi pilihan yang lebih kompetitif untuk 2,5 tahun ke depan. Sejak mulai digunakan kembali di Eropa, harga batu bara global tercatat telah mencapai level tertinggi sejak 2008 lalu.  

Tercatat, harga batu bara Eropa telah meningkat sekitar 150% sejak awal tahun. Hvalbye mengatakan, hilangnya volume gas alam Rusia di Eropa menjadikan pasokan komoditas tersebut mengalir ke pasar energi global.

"Bahan bakar fosil lainnya seperti minyak dan batu bara mengalir dari pasar global ke Eropa karena harga yang sangat tinggi di sana. Akibatnya, harga batu bara Eropa dan Australia sekarang kira-kira lima kali lebih tinggi dari harga normal," kata Hvalbye.

Di sisi lain, Ronningen yakin UE akan mempercepat pengembangan energi terbarukannya, dan itu akan menyebabkan penurunan batu bara di Eropa paling lambat pada tahun 2024. "Dalam jangka pendek, kami melihat batu bara kembali. Jangka panjangnya tidak terlalu banyak," ucapnya.

Emiten pertambangan PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) menilai, permintaan batu bara pada paruh kedua tahun ini akan meningkat khususnya dari negara Eropa. Direktur Adaro Energy Hendri Tamrin mengatakan, meningkatnya permintaan dilatarbelakangi oleh terbatasnya pasokan gas dari Rusia. 

Selain itu, kondisi iklim Eropa yang mulai memasuki musim dingin juga disebut menjadi perhatian utama banyak pemerintah dari negara benua biru. "Ini tentunya akan meningkatkan permintaan batu bara khususnya mendekati musim dingin akhir tahun ini,” ujar Hendri dalam Public Expose 2022, dikutip Selasa (13/9/2022).

Meski demikian, Hendri mengatakan hal tersebut juga bergantung pada kebijakan setiap negara dalam memenuhi kebutuhan energi dan bahan baku industri. Manajemen ADRO menilai batu bara merupakan sumber daya energi paling murah dibandingkan komoditas energi lainnya seperti gas. 

Hal ini dapat dilihat dari kondisi geopolitik yang ada. Lebih lanjut, Hendri mengatakan bahwa batu bara merupakan komoditas energi yang sangat independen. 

Pihak ADRO lantas melihat ke depannya batu bara masih akan menjadi sumber energi yang dapat diandalkan. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat harga batu bara acuan (HBA) September 2022 turun ke angka USD319,22 per ton atau terkontraksi 0,74 persen dari posisi bulan lalu. 

Hal ini disebabkan karena susutnya nilai rerata indeks bulanan penyusun HBA. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menyontohkan, ICI turun 4,95 persen, Platts turun 4,54 persen, sedangkan GNCC dan NEX naik masing-masing 1,60 persen dan 1,39 persen.

Selain itu, Agung menambahkan, faktor lain yang turut mempengaruhi turunnya HBA itu berkaitan dengan upaya Tiongkok untuk terus meningkatkan impor batu bara dari Rusia dan Australia. 

"Peningkatan produksi batu bara Tiongkok dalam upaya mengatasi krisis listrik yang diakibatkan oleh gelombang panas dan kekeringan yang melanda PLTA-nya juga turut menjadi faktor turunnya harga batu bara dunia," jelas dia, sebelumnya.

Adapun, pergerakan HBA sejak awal 2022 sempat menyentuh nilai tertinggi pada Juni, di mana HBA terkerek hingga menyentuh angka USD323,91 per ton. Faktor kondisi geopolitik Eropa imbas konflik Rusia dan Ukraina, serta krisis listrik di India akibat gelombang hawa panas menjadi faktor pengerek utama. (tim redaksi)

#batubara
#kebutuhanbatubaraeropa
#ptadaroenergyindonesiatbk
#pembangkitlistrikdieropa
#tenagabatubara
#iklimgeopolitik
#krisislistrik

Tidak ada komentar