Breaking News

Nilai Tukar Rupiah Anjlok Dibayangi Hawkish Pejabat The Fed, Gubernur BI Punya Jurus Stabilisasi

Mata uang Rupiah. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai, tren kenaikan suku bunga global dapat menjadi faktor negatif yang memberatkan nilai tukar rupiah. "Yang menjadi faktor negatif, tentu saja suku bunga global yang sangat-sangat tinggi, baik FFR (Fed Funds Rate) maupun US Treasury. Persepsi rasio yang sangat tinggi sehingga risiko-risikonya capital outflow masih tinggi," ungkapnya, dikutip Jumat (2/9/2022).

Di sisi lain, Perry melihat adanya faktor positif untuk mendukung stabilitas rupiah ke depannya. Faktor tersebut yaitu kondisi surplus neraca pembayaran dan transaksi berjalan, serta persepsi positif atas Indonesia. 

Melihat perkembangan ini, BI memperkirakan rupiah pada tahun ini akan berada di kisaran Rp14.600-Rp14.900 per dolar AS. Adapun, tahun depan nilainya akan berada di kisaran Rp14.800-Rp15.000 per dolar AS. 

Untuk mencapai sasaran ini, ia berjanji BI akan terus berkomitmen untuk melakukan fungsi stabilisasi. "Stabilisasi nilai tukar baik di spot, DNDF, maupun operasi bersama Ibu Menkeu jaga pasar SBN untuk daya saing," janjinya.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, pada Kamis (1/9/2022) kemarin melemah, seiring dengan pernyataan hawkish dari pejabat bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Rupiah kemarin pagi ambruk 31 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.874 per dolar Amerika.

"Dolar AS outlook-nya menguat dibalik masih terjaganya prospek kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve," kata analis Monex Investindo Futures Faisyal dalam kajiannya di Jakarta, kemarin. Dolar terkerek bersamaan dengan menguatnya prospek kenaikan suku bunga acuan The Fed. 

Khususnya, setelah adanya pernyataan yang cenderung hawkish dari Presiden Fed Cleveland, Loretta Mester. Mester mengatakan, bank sentral perlu menaikkan suku bunga di atas 4 persen pada awal tahun depan. 

Dolar juga menguat di balik permintaan terhadap aset safe haven yang likuid di tengah memanasnya ketegangan Amerika-Tiongkok, perihal masalah Taiwan serta memburuknya penyebaran virus COVID-19 di Negeri Tirai Bambu. (tim redaksi)

#posisidolarterhadaprupiah
#gubernurbankindonesia
#perrywarjiyo
#trenkenaikansukubungaglobal
#efekpersepsipositif
#asetsafehaven
#kebijakanthefed

Tidak ada komentar