Breaking News

Makin Dini Si Kecil Terpapar Minuman Berpemanis, Kian Tinggi Risiko Obesitas dan Diabetes

Anak mengonsumsi minuman berpemanis buatan. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Semakin cepat anak terpapar minuman berpemanis buatan, makin tinggi risiko terkena diabetes dan obesitas. Dokter Spesialis Anak Kurniawan Satria Denta mengisyaratkan bahaya yang mengintai buah hati kita jika keseringan mengonsumsi minuman berpemanis buatan, apalagi minuman kemasan dan soda.

Namun ironisnya, fakta di lapangan mencatat, sekitar 42,6 persen balita di Indonesia sudah terpapar Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK). Kurniawan menyebut, hal itu sangat berbahaya.

"Semakin dini seseorang terpapar minuman berpemanis, semakin tinggi kemungkinan risikonya menghadapi kondisi obesitas," kata Kurniawan dalam Forum for Young Indonesians (FYI) bertajuk "Dunia Tipu-tipu Minuman Berpemanis Dalam Kemasan", dikutip Selasa (20/9/2022). Selain risiko obesitas atau kelebihan berat badan, ada risiko penyakit lain yang muncul sebagai ekses buruk MBDK.

Di antaranya, diabetes, penyakit jantung, ginjal, pembuluh darah, kanker, stroke, gangguan cemas, gangguan perilaku, dan demensia atau pikun. "Masih suka agak-agak lemot? Coba dikurangi gulanya," ujarnya dalam acara yang diselenggarakan Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI).

Bahkan, lanjut Kurniawan, bagi sebagian orang, konsumsi gula berlebih dapat membuat mereka resisten terhadap insulin. Akibatnya, jika terkena COVID-19 maka gejalanya lebih parah.

"Jadi yang namanya penyakit tidak menular sebenarnya tidak berdiri sendiri. Berbeda dengan penyakit menular," terangnya.

Keduanya berkesinambungan. Namun, ketika kita memiliki penyakit yang tidak menular, kita lebih rentan menghadapi penyakit menular yang lebih berat.

Gula adalah butiran-butiran kecil dari tebu. Apabila berpadu dengan gula sintetik bekerja dalam tubuh tidak hanya di level permukaan tapi hingga level molekuler, seluler.

"Hingga level terkecil dalam tubuh kita yaitu DNA," terangnya. Kinerja gula dalam tubuh yang mencapai level DNA membuat pengaruhnya menjadi sangat sistemik. 

Tak hanya membuat gigi berlubang, tapi jantung pun bisa berlubang akibat gula. "Pengaruhnya bisa jadi sangat sistemik, enggak cuma bisa bikin gigi bolong tapi juga bisa bikin jantungnya bolong. Tidak hanya bisa memporakporandakan ginjal, tapi juga bisa memporakporandakan hati atau liver kita," rincinya.

Ia mengistilahkan cara kerja gula dalam tubuh seperti tombol volume. "Apa yang diatur oleh gula adalah risiko-risiko kita terhadap diabetes," imbuhnya.

Ini sama halnya dengan gula dalam tubuh. Konsumsi gula berlebih diibaratkan seperti tombol volume yang dikeraskan.
 
Semakin banyak konsumsi gula, risiko diabetes makin besar. Sebaliknya, untuk meminimalisasi risiko diabetes maka konsumsi gula pun perlu dikurangi. (tim redaksi)

#konsumsigulasikecil
#minumanberpemanisdalamkemasan
#mbdk
#anakterpaparmbdk
#meningkatkanrisikodiabetes
#minumanberpemanis
#gigiberlubang
#risikopenyakitlain

Tidak ada komentar