Breaking News

Kucing Liar Jadi "Kambing Hitam" Punahnya Spesies Endemik Australia, Diburu hingga Dimusnahkan

Kucing di Australia. Foto: Ilustrasi/ Dok. Australiageographic

WELFARE.id-Kucing yang bebas berkeliaran mungkin akan menjadi masa lalu di Australia. Australia sejak 2015 silam melakukan berbagai cara untuk menekan populasi kucing yang dinilai pemerintah mempercepat kelangkaan hewan endemik.

Tentu saja, keputusan Australia yang membabi buta melakukan pemusnahan terhadap kucing mendapat tentangan dari aktivis penyayang binatang. Awal tahun ini, semakin besar momentum di kalangan dewan kota yang menginginkan pemilik kucing menjaga peliharaannya itu di dalam rumah atau membawanya berjalan-jalan dengan tali kekang. 

Gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai organisasi penyelamat satwa, yang mengklaim bahwa kucing-kucing peliharaan telah berubah menjadi predator yang semakin baik. Kucing adalah binatang kesayangan banyak orang. 

Tetapi tak bisa dipungkiri, naluri pemburu mereka dapat membuat hewan ini berbahaya bagi makhluk liar yang lebih kecil. Contohnya, adalah burung hantu jenis boobook (Ninox boobook), yang menjadi korban serangan terbaru kucing. 

Melansir VoA, Rabu (21/9/2022), dokter hewan Maren Beeston yang merontgen sayap burung hantu mendapati akibat serius yang ditimbulkan oleh serangan itu. Ia mengatakan, boobook yang sudah diserang kucing biasanya akan menderita luka serius.

"Sayap yang patah ini sepertinya mengenai sendi, jadi kemungkinan besar kepulihannya tidak terlalu baik," katanya. Proposal ini menjadi bagian dari gerakan nasional oleh dewan kota untuk mendorong para pemilik membuat kandang kucing dan menjatuhkan denda jika hewan peliharaan mereka didapati berkeliaran di luar properti mereka.

Pamela Lanigan, seorang penangkar kucing jenis British shorthair, mendukung penuh rencana tersebut. Tetapi ia juga yakin bahwa sebagian besar serangan terhadap satwa liar disebabkan oleh kucing liar.

Ia ingin dewan lebih banyak menginvestasikan pendapatan dari biaya registrasi kucing untuk program pengebirian murah dan penyuluhan. "Kami ingin melihat lebih banyak kandang untuk hewan peliharaan. Kami ingin melihat lebih banyak informasi bagi pemilik hewan peliharaan yang mungkin tidak menyadari bahwa mereka dapat menciptakan semacam kandang untuk hewan-hewan peliharaan mereka," ucapnya.

Jadi jangan heran, jika kamu berkunjung ke Australia dan mendapati kucing yang dikandangkan di rumah. Beberapa negara bagian di Australia juga telah meminta para pemilik kucing untuk melakukan karantina terhadap kucing peliharaanya.

Negara bagian Australia meminta untuk kucing peliharaan mereka untuk mengunci di dalam rumah atau setidaknya di dalam kurungan. Karantina ini diperintahkan oleh negara bagian untuk menyetop serangan kucing kepada hewan lain di negara baik Australia.

Lewat berita ABC News, dikatakan, satu kucing sudah bertanggung jawab terhadap lebih dari 100 serangan hewan asli. Dalam laporan tersebut, sudah 450 hewan asli yang mendapat serangan kucing, kebanyakan adalah burung kecil dan quenda yang merupakan sejenis bandicoot.

Hewan-hewan ini akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan karena serangan kucing. Lebih lanjut dilaporkan bahwa sekitar 450 hewan asli, kebanyakan dari mereka burung kecil dan quenda (sejenis bandicoot), dibawa ke rumah sakit WA Wildlife dekat Perth setiap tahun setelah bertemu dengan kucing.

Ada juga laporan burung hantu boobook yang harus di-euthanasia karena mengalami patah tulang sendi sikunya setelah bertemu dengan kucing. Burung hantu tersebut ditemukan oleh salah satu pemilik kucing dan langsung dibawah ke rumah sakit untuk dilakukan pertolongan.

Dalam setahun, sudah 5.000 hewan yang dirawat di fasilitas rumah sakit khusus hewan karena serangan kucing liar. Hewan-hewan ini masuk ke wilayah yang didominasi oleh kucing dan menyebabkan serangan tersebut.

Jam malam kucing

Jadi untuk menyelamatkan hewan asli Australia, pihak berwenang sudah menerapkan jam malam kucing. Di Adelaide Hills, kucing sudah dilarang untuk pergi ke luar dari jam 8 malam sampai jam 7 pagi.

Di Victoria, para pemilik sudah diminta memelihara kucing di area tempat tinggal mereka atau akan dikenakan denda jika kucingnya keluar area.

Ibu kota Australia, Canberra, berencana untuk menempatkan semua kucing di bawah penguncian mulai pertengahan 2022.

"Genosida" kucing pada 2019

Pemerintah Australia melakukan berbagai cara untuk meneka populasi kucing liar yang dianggap menjadi ancaman bagi hewan endemik. Pada 2019 misalnya, pemerintah menjatuhkan sosis yang sudah dibubuhi racun dari udara di lokasi seluas ribuan hektar untuk membunuh jutaan ekor kucing liar.

Ini adalah salah satu cara yang digunakan pemerintah untuk memenuhi target membunuh 2 juta ekor kucing liar pada 2020 untuk melindungi spesies hewan asli Australia. Selain menggunakan makanan beracun, pemerintah juga memerangkap dan menembak kucing-kucing liar.

Mengutip harian The New York Times, kucing-kucing liar itu akan mati dalam waktu 15 menit setelah menyantap sosis beracun yang dibuat dari campuran daging kanguru, lemak ayam, bumbu, rempah, dan tentu saja, racun. Pesawat yang membawa sosis beracun buatan sebuah pabrik di dekat kota Perth, menjatuhkan 50 sosis di setiap kilometer tempat kucing biasa berkeliaran.

Dr Dave Algar, yang ikut membantu mengembangkan resep sosis maut itu, mengatakan bahwa dia menggunakan kucing peliharaannya untuk mencicipi sosis itu. Setelah kucing peliharaannya terlihat suka dengan sosis racikannya, barulah racun ditambahkan ke dalam resepnya.

"Sosis ini harus enak rasanya. Mereka adalah makanan terakhir para kucing," ujar Algar. Sejak dibawa para imigran dari Eropa, kucing bertanggung jawab atas punahnya 20 spesies asli Australia.

Demikian dijelaskan Gregory Andrews, komisioner nasional untuk spesies terancam punah kepada harian Sydney Morning Herald. Menurut Gregory, fakta itu membuat kucing liar menjadi ancaman terbesar terhadap spesies asli Australia.

"Kita harus memilih menyelamatkan hewan yang kita cintai dan menjadi ciri khas negara ini, seperti bilby, warru, atau burung betet malam," ujarnya. Diperkirakan, kucing liar membunuh 377 juta burung dan 649 juta reptil di Australia setiap tahun.

Angka ini diperoleh dari hasil sebuah studi pada 2017 yang diterbitkan jurnal Biological Conservation. Saat pemerintah Australia mengumumkan rencana pembunuhan massal kucing liar pada 2015, langkah ini banyak mendapat kecaman dari komunitas internasional.

Kala itu, lebih dari 160.000 orang menandatangani petisi untuk mendesak pemerintah Australia membatalkan rencana itu. Rencana ini juga dikecam para aktivis konservasi yang menyebut pemerintah hanya fokus terhadap kucing tanpa memperhatikan faktor lain seperti ekspansi manusia, penebangan hutan, dan pertambangan.

"Ada kemungkinan kucing dijadikan pengalih perhatian dari hal lain. Kita membutuhkan pendekatan yang lebih holistik dan mengatasi semua ancaman terhadap keanekaragaman hayati," kata Tim Doherty, pakar ekologi konservasi dari Universitas Deakin kepada CNN. (tim redaksi)

#kucingliar
#satwaendemikaustralia
#dianggapancaman
#pemusnahankucingdiaustralia
#komunitaspenyayangbinatang
#kecamaninternasional

Tidak ada komentar