Breaking News

Dihantam Gelombang Tinggi dan BBM Naik, Nelayan di Kabupaten Lebak Empat Hari tak Melaut

Sejumlah kapal nelayan Binuangeun, Kabupaten Lebak yang disandarkan di dermaga akibat cuaca buruk. Foto: net

WELFARE.id-Sungguh memprihatinkan nasib nelayan di Kabupaten Lebak. Pasalnya, pesisir selatan Provinsi Banten sejak beberapa hari terakhir ini dilanda badai dan gelombang tinggi. Akibatnya, para nelayan sudah empat hari tidak melaut. 

Bila dipaksakan melaut, ancaman kecelakaan laut menimpa para nelayan tersebut. "Semua nelayan di sini tidak melaut akibat badai dan gelombang tinggi," terang Ketua Koperasi Nelayan Bina Muara Sejahtera Binuangeun, Kabupaten Lebak, Wading, Sabtu (17/9/2022).

Para nelayan Kabupaten Lebak tidak melaut akibat cuaca buruk di perairan selatan Banten yang berhadapan dengan Samudra Hindia. Selain itu juga, nelayan tidak melaut dampak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang berimbas biaya operasional meningkat.

Selain itu, lanjut Wading, belum tibanya musim ikan yang menjadi andalan ekonomi nelayan Lebak, seperti ikan tongkol, bayi tuna, dan tuna membuat nelayan menunda untuk melaut. 

Menurutnya juga, tiga andalan jenis ikan nelayan Kabupaten Lebak itu biasanya diekspor ke luar negeri dan menyumbangkan ekonomi bagi masyarakat pesisir Kabupaten Lebak.

Wading juga menuturkan, transaksi pelelangan ikan di saat cuaca normal sekitar Rp 4 miliar dengan jumlah tangkapan 200 ton per bulan. Namun, kata dia, kondisi nelayan saat ini tak melaut akibat cuaca buruk membuat omzet menurun. 

"Kami memiliki anggota sebanyak 620 nelayan dan kini terpukul dengan kondisi badai juga ditambah adanya penyesuaian kenaikan BBM. Nelayan makin sulit," kata Wading juga. 

Menurutnya lagi, nelayan pesisir selatan Kabupaten Lebak berharap pada pemerintah agar meninjau kembali kenaikan harga BBM. Pasalnya, biaya operasional dengan pendapatan tangkapan ikan tidak lagi sebanding. 

Biaya operasional melaut usai kenaikan BBM bisa mencapai Rp5 juta selama sepekan, namun pendapatan belum sebanding.  Apalagi, saat ini cuaca buruk dan belum musim ikan. 

"Kami berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan khusus untuk nelayan sehingga usaha melaut tetap berjalan," kata Wading.

Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Kapasitas Nelayan Kecil pada Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Rizal Ardiansyah mengingatkan, nelayan agar waspada gelombang tinggi di perairan selatan Banten. 

Pasalnya, laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, gelombang tinggi empat hingga enam meter berpeluang terjadi di Perairan Samudra Hindia pada 15-17 September 2022.

Pola angin wilayah selatan dominan bergerak dari timur-tenggara dengan kecepatan angin berkisar 10-25 knot dan kecepatan angin tertinggi terpantau di perairan selatan Banten. 

"Karena belum lama ini ada nelatan Binuangeun yang kapalnya diterjang gelombang saat melaut sehingga perahu miliknya rusak dan satu nelayan dilaporkan meninggal," tandas Rizal. (tim redaksi)


#nelayan
#tidakmelaut
#gelombangtinggi
#cuacaburuk
#pemkablebak
#lautselatanbanten

Tidak ada komentar