Breaking News

BPOM Temukan Kandungan BPA Pada AMDK Galon di Enam Daerah Ini!

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan adanya kandungan Bisphenol-A atau BPA pada air minum kemasan galon (polikarbonat) di enam daerah di Indonesia pada Senin (12/9/2022). 

BPA adalah zat kimia pengeras plastik yang digunakan untuk memproduksi galon. Zat ini disebutkan dapat mengganggu sistem reproduksi dan sistem kardiovaskular hingga gangguan perkembangan otak. Selain itu, paparan BPA yang berlebih juga dapat memicu diabetes, penyakit ginjal, hingga kanker. 

Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Medan Martin Suhendri menyampaikan, pihaknya menemukan zat BPA ini dalam kadar berlebih (0,9 ppm per liter) yang terkadung pada air minum dalam kemasan galon. "Padahal ambang batas yang ditentukan sebesar 0,6 bagian per sejuta (ppm) per liter, pada periode 2021-2022," ujarnya dikutip Rabu (14/9/2022). 

Martin menyampaikan keenam daerah yang diduga tercemar BPA pada air minum kemasan galon, di antaranya Medan, Bandung, Jakarta, Manado, Banda Aceh, dan Aceh Tenggara "Hasil uji migrasi BPA pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang melebihi 0,6 ppm," katanya. 

Ia menjelaskan, tingginya kadar BPA ini sebanyak 3,4 persen ditemukan pada sarana distribusi dan peredaran. Sementara hasil uji migrasi BPA yang mengkhawatirkan, 0,05-0,6 ppm, menyebutkan 46,97 persen di sarana distribusi dan peredaran serta 30,19 persen di sarana produksi. 

Adapun uji kandungan BPA pada AMDK melebihi 0,01 ppm, 5 persen di sarana produksi serta 8,6 persen di sarana distribusi dan peredarannya. 

Sementara itu, BPOM Medan menduga tercemarnya AMDK galon dengan BPA yang berlebih ini disebabkan oleh proses pasca produksi. Hal itu seperti transportasi dan penyimpanan AMDK galon dari pabrik menuju konsumen melalui berbagai media dan ruang yang tidak sesuai prosedur. "Contohnya galon yang terkena panas atau dibanting-banting," tukasnya. 

Martin menyampaikan, hal itu diduga menyebabkan kandungan BPA dalam kemasan galon bermigrasi dalam air. ”Awalnya kandungnya BPA-nya zero, tetapi di lapangan meningkat karena penanganan yang kurang baik,” katanya. 

Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Dr. Evi Naria menyampaikan, jika BPA terminum, maka sistem ekskresi tubuh akan mengeluarkan BPA dalam waktu 6 jam. Namun orang minum bisa setiap jam sehingga kandungan BPA terakumulasi. 

Apalagi, BPA secara cepat dapat diserap sistem pencernaan dan meniru struktur dan fungsi hormon esterogen. Akibatnya, dapat memengaruhi proses tumbuh seperti perbaikan sel, perkembangan janin, tingkat energi dan reproduksi, hingga kesuburan. 

Selain itu, kandungan BPA berlebih bisa menganggu fungsi hati, kekebalan tubuh, dan otak. Kelompok populasi beresiko tinggi adalah bayi, anak-anak, dan ibu hamil. 

Dari alasan itu lah banyak negara melarang penggunaan BPA seperti, Perancis, Negara Bagian California di Amerika Serikat, Denmark, Malaysia, Australia, dan Swedia. Menurut Evi, untuk mengendalikan BPA, pihaknya merekomendasikan sejumlah pengendalian seperti, dibutuhkan regulasi, edukasi, dan studi tentang BPA. 

Kemudian, diperlukan prosedur operasi standar penanganan produk, pelabelan produk, pemeriksaan kode daur ulang pada wadah plastik, hingga penghindaran produk dari paparan suhu tinggi. "Penyimpanan pada suhu 23 derajat Celcius selama 24 jam membuktikan kadar BPA dalam air 0 ppm," ujar Evi. 

Atas hal itu, muncul tuntutan agar dilakukan pengawasan dan perbaikan sistem. Tujuannya agar 85 juta lebih konsumen AMDK galon tidak terpapar penyakit degeneratif di masa depan. (tim redaksi) 

#amdk
#galon
#galonterkontaminasibpa
#bpom
#zatkimiapengerasplastik

Tidak ada komentar