Breaking News

Berbeda Arah dengan The Fed, Bank Sentral Tiongkok Justru Terus Turunkan Suku Bunga Pinjaman

Orang melintas di depan gedung People's Bank of China (PBOC). Foto: Ilustrasi/ Reuters

WELFARE.id-Berbeda arah dengan kebijakan Bank Sentral Amerika (The Fed) yang menaikkan suku bunga saat inflasi, People's Bank of China (PBOC) atau bank sentral Tiongkok justru menurunkan biaya pinjaman. PBOC malahan meningkatkan suntikan uang tunai untuk mengatasi kenaikan permintaan menjelang akhir kuartal.

Mengutip CNA, Selasa (20/9/2022), bank sentral Tiongkok menyuntikkan 2 miliar yuan atau setara USD286,54 juta (Rp4,29 triliun asumsi kurs Rp14.983 per dolar AS) melalui reverse repo 7 hari dan 10 miliar yuan lainnya melalui tenor 14 hari. 

PBOC mengatakan, injeksi uang tunai harian yang lebih tinggi, naik dari penawaran harian 2 miliar yuan sejak Juli, adalah untuk menjaga tingkat likuiditas stabil pada akhir kuartal.

PBOC juga melanjutkan operasi 14 hari untuk pertama kalinya sejak akhir Januari. Sambil menurunkan suku bunga alat likuiditas sebesar 10 basis poin menjadi 2,15 persen dari 2,25 persen.

Pengurangan tersebut merupakan langkah untuk mengejar keputusan bank sentral pada Agustus dengan memotong beberapa suku bunga utama. Termasuk suku bunga reverse repo 7 hari, untuk menghidupkan kembali permintaan kredit dan menopang perekonomian yang lesu.

Tanpa reverse repo yang jatuh tempo, PBOC menyuntikkan net 12 miliar yuan melalui instrumen likuiditas jangka pendek. Bank Sentral Tiongkok memangkas suku bunga pinjaman guna menopang pasar properti dan memperkuat sentimen bisnis serta konsumen. 

Langkah itu pun segera diikuti oleh bank-bank di Tiongkok yang menurunkan suku bunga. Melansir Bloomberg, bulan lalu, PBOC juga memangkas suku bunga pinjaman satu tahun menjadi 3,65 persen dari 3,7 persen.

Penurunan pertama sejak Januari dan lebih rendah dari penurunan 10 basis poin yang diperkirakan para ekonom. Sementara itu, suku bunga pinjaman lima tahu yang menjadi patokan untuk KPR turun 15 basis poin menjadi 4,3 persen setelah dipangkas dengan besaran yang sama pada Mei.

kepala analis China di Oversea-Chinese Banking Corp Ltd Tommy Xie mengatakan, pemangkasan suku bunga asimetris ini menggarisbawahi urgensi untuk menahan krisis sektor properti yang memburuk. "Penurunan suku bunga KPR akan membantu menstabilkan penjualan, terutama ketika ekspektasi rumah tangga sangat lemah,” imbuhnya.

Pemotongan suku bunga itu, menyusul kabar pekan lalu mengenai pembiayaan tambahan untuk menopang sektor real estat. PBOC dan dua kementerian lainnya mengatakan, pinjaman khusus akan ditawarkan melalui bank kebijakan untuk memastikan proyek properti yang macet akan diselesaikan.

Suku bunga pinjaman yang lebih rendah dapat membantu memacu permintaan pinjaman, meskipun tidak mungkin membalikkan penurunan tajam dalam kepercayaan konsumen dan bisnis yang dipicu oleh gejolak di pasar properti dan pembukaan kembali ekonomi yang terhenti di bawah kebijakan Zero Covid. Bank dibanjiri uang tunai, tetapi tidak mau atau merasa sulit untuk membiayai proyek. 

Sementara itu, Ekonom Credit Agricole Cib Hong Kong Xiao Jia Zhi mengatakan, langkah ini menunjukkan bahwa bank-bank Tiongkok ingin fokus pada penurunan suku bunga acuan untuk pinjaman KPR dan juga pinjaman belanja modal lainnya. Untuk meningkatkan permintaan kredit terkait sambil mempertahankan margin bunga bersih jangka pendek. (tim redaksi)

#banksentraltiongkok
#pboc
#sukubungapinjaman
#permintaankredit
#penurunansukubungaacuan
#inflasi
#sektorproperti

Tidak ada komentar