Breaking News

Belajar dari Venezuela, Negara Kaya Minyak Bumi yang Akhirnya Bangkrut

Warga Venezuela saat negara bangkrut pada 2018 (reuters) 

WELFARE.id-Kebangkrutan negara yang dialami oleh Sri Lanka bukanlah yang pertama kali. Ada sejumlah negara di dunia mengalami krisis ekonomi yang sangat parah hingga mengalami kebangkrutan. Salah satu penyebabnya karena terlilit utang luar negeri dan tidak mampu membayarnya alias gagal bayar.  

Misalnya saja Venezuela, merupakan salah satu dari kisah kebangkrutan negara di dunia. Krisis ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Venezuela sudah mulai dirasakan sejak kepergian mantan Presiden Venezuela, Hugo Chavez pada 2013. 

Pemerintah Venezuela tidak mampu membayar seluruh utangnya pada 2017. Pemerintah dan perusahaan minyak negara ini akhirnya memutuskan meminta restrukturisasi terhadap pembayaran utang.  

Negara di Amerika Selatan itu tercatat memiliki utang kepada sejumlah negara, antara lain Tiongkok dan Rusia. Sementara itu, perusahaan minyak negara telah membayar utang sebesar USD1,1 miliar. Nominal ini adalah angka yang cukup besar bagi sebuah negara yang hanya memiliki dana sebesar USD10 miliar di bank mereka.  

Pada masa pemerintahannya, Chavez menerapkan berbagai kebijakan, salah satunya untuk menyetarakan ekonomi rakyatnya. Dengan hanya bergantung dengan penjualan minyak, Venezuela menjadi negara yang makmur dan kaya.  

Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak dunia terbesar di dunia. Walaupun begitu, ternyata hal tersebut merupakan awal kehancuran dari Venezuela. Pemasukan Venezuela 95 persen berasal dari penjualan minyak secara ekspor. 

Uang yang masuk sangat bergantung pada harga minyak dunia. Selain itu, kesenjangan masyarakat di Venezuela sangatlah terasa. Sejak Hugo Chavez menjabat di tahun 1999, Ia membuat kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk menyetarakan ekonomi rakyatnya. Sebagian besar perekonomian rakyat Venezuela ditopang oleh keuntungan yang didapat dari penjualan minyak, seperti pengadaan program sosial gratis, subsidi, dan berbagai usaha lainnya. Venezuela bahkan berani untuk memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, dan bergabung dengan Cina dan Rusia.  

Setelah masa kepemimpinan Hugo Chavez berakhir dan meninggal pada tahun 2013, Nicolas Maduro naik menggantikannya sebagai Presiden. Namun sayang, Kepemimpinan dari Maduro tidak berjalan dengan mulus.  

Di tahun 2016, harga minyak dunia turun sangat drastis dan menyebabkan pemasukan Venezuela menjadi minim. Kas negara menjadi kosong, bahkan defisit, guna untuk menjalankan berbagai program masyarakat.  

Maduro salah langkah. Ia malah mengambil keputusan untuk mencetak uang sebanyak mungkin, daripada untuk menambah lini produk ekspor. Hal ini menjadikan nilai tukar Bolivar Venezuela menjadi turun drastis dan terjadi inflasi hingga 1000 persen. 

Semenjak inflasi yang tidak terkendali dan jumlah pengangguran yang meningkat, banyak warga negara Venezuela yang meninggalkan negaranya dan menjadi imigran gelap ke berbagai negara. Di situasi tersebut, Maduro untuk kedua kalinya memenangkan pemilu yang diadakan pada tahun 2018.  Hal ini tentu saja membuat kelompok oposisi geram dan memprotes hasil pemilu yang dianggap curang. 

Venezuela pun diterpa gelombang unjuk rasa dan protes untuk mendukung kelompok oposisi yang berada di bawah kepemimpinan Juan Guaido. Guaido menuduh Maduro telah merebut kekuasaan dan melakukan kecurangan pada pemilu tahun lalu. Ia lalu menyatakan diri sebagai Presiden sementara Venezuela dan diakui oleh Amerika Serikat untuk memimpin masa transisi pemerintahan hingga pemilihan berikutnya berlangsung. 

Hal tersebut tentunya membuat dua kubu saling berhadapan kembali dan membuat bingung banyak orang. Venezuela yang berada di tengah krisis ekonomi, harus dihadapkan dengan masalah baru tentang krisis politik. 

Kebangkrutan di Venezuela juga menyebabkan rakyatnya harus sampai mengais-ngais bak sampah demi mendapat makanan. Menurut Badan Migrasi Kolombia, pada 2018 ada lebih dari satu juta warga Venezuela yang menyebrang perbatasan memasuki Kolombia awal tahun ini. Sisanya pindah ke negara lain. Mereka yang menyeberangi perbatasan itu kebanyakan pergi ke Ekuador, Peru, Chili, Amerika dan Meksiko. 

Menurut data dari PBB, tiap hari sekitar 5.000 orang Venezuela meninggalkan negara mereka dengan harapan memperoleh masa depan yang lebih baik di negara lain. Namun Presiden Venezuela Nicolas Maduro membantah angka tersebut dan meminta badan internasional itu memperbaiki kembali. (tim redaksi) 

#negarabangkrut
#venezuela
#hugochavez
#venezuelabangkrut
#minyakdunia

Tidak ada komentar