Breaking News

Baru 3 Bulan PTM, Lonjakan COVID-19 Anak Hampir Tembus 23 Ribu Kasus

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan protokol kesehatan di era new normal. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Dalam kurun waktu sekitar 3 bulan sejak Pembelajaran Tatap Muka (PTM) berjalan 100%, terjadi tren peningkatan kasus konfirmasi positif COVID-19 pada anak usia sekolah 7-18 tahun sebanyak 22.980 atau 33,81 persen. Peningkatan ini memberikan kontribusi terhadap penambahan kasus COVID-19 nasional sebesar 15.15 persen.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyoroti jumlah kasus positif virus corona (COVID-19) mencatat, jumlah itu lebih tinggi dari pada kumulatif kasus COVID-19 pada anak sepanjang Juli 2022, dengan 17.174 kasus atau memberikan kontribusi 14,48 persen pada kasus COVID-19 nasional. 

"Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 23 Agustus 2022, dari total 440.071 sekolah yang menyelenggarakan sekolah tatap muka, hanya 6.796 atau 1,54 persen yang melakukan active case finding," kata Satgas dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (17/9/2022).

Seiring dengan masih terjadinya penularan COVID-19, Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Retno Asti Werdhani menyarankan sekolah dan orang tua lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) dan melakukan testing pada anak yang bergejala COVID-19. 

"Anak tidak perlu masuk sekolah, apabila mengalami gejala demam, batuk, pilek ataupun diare. Serta memastikan bahwa anak tersebut tidak terinfeksi COVID-19," ujarnya dalam dialog virtual dilansir YouTube BNPB, dikutip Sabtu (17/9/2022).

Dia menambahkan, per 9 September 2022, cakupan vaksinasi COVID-19 pada anak usia 6-11 tahun masih lebih rendah dibandingkan cakupan vaksinasi pada anak kelompok usia 12-17 tahun. 

"Cakupan dosis pertama di Indonesia mencapai 79,94 persen atau 21.105.395 anak dan untuk vaksinasi dosis kedua baru mencapai 66,20 persen atau 17.475.772 anak," terangnya.

Saat di sekolah, lanjutnya, anak merupakan tanggung jawab guru atau pengawas sekolah untuk memberikan pengawasan dan pembinaan. "Tentunya sistem yang di sekolah perlu untuk dibuat bagaimana sistem monitoring terhadap anak-anak yang memiliki gejala. 

Misalnya, ada sistem pelaporan ke puskesmas kecamatan wilayah setempat apabila ada staf pendidik maupun anak didik mengalami gejala lalu edukasi-edukasi tentang COVID-19 secara berkala," imbaunya.

Dia juga menyarankan, orang tua dan pihak sekolah untuk proaktif melakukan pemeriksaan gejala, sehingga dapat dideteksi secara dini untuk memutus rantai penularan COVID-19. Belum lagi penyakit ISPA, yang merupakan masalah kesehatan paling banyak dialami anak Indonesia. 

Masih adanya COVID-19 dengan gejala khas seperti masalah pernapasan, tidak enak badan, demam tinggi, batuk, radang tenggorokan dan bersin-bersin, atau juga disertai diare, maka perlu segera dipastikan dengan tes COVID-19. 

"Bila memiliki gejala tersebut orang tua perlu proaktif untuk memeriksaan tes COVID-19, supaya kita memastikan positif atau tidak. Apabila positif bisa segera lakukan tracing dan memutus rantai penularan dan tidak ingin klaster keluarga itu terjadi," imbuhnya lagi.

Satgas juga menyoroti capaian vaksinasi pada kelompok umur 6-11 tahun yang masih rendah dibandingkan vaksinasi pada anak kelompok usia 12-17 tahun. Dengan demikian, Satgas meminta agar pihak sekolah mendukung kegiatan belajar mengajar tatap muka dengan mematuhi aturan secara tertib.

Aturan itu telah termaktub dalam Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2022 mengenai Diskresi Pelaksanaan Keputusan Bersama 4 (Empat) Menteri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease-19 (Covid-19) yang telah dirilis oleh Kemendikbud Ristek. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbudristek Anang Ristanto memastikan, aturan Kemendikbud Ristek soal PTM 100 persen sudah memuat protokol kesehatan dan prosedur penghentian PTM apabila ada peserta didik yang terkonfirmasi positif COVID-19.

"Sejak tahun ajaran 2022/2023 sudah dimulai pembelajaran tatap muka 100 persen. Jadi pembelajaran ini salah satu tujuan utamanya adalah untuk mencegah learning loss anak didik kita," kata Anang.

Maka itu, ia meminta orang tua agar tidak khawatir dan dapat mendukung pelaksanaan PTM dengan sepenuhnya. Ia mewanti-wanti agar seluruh pihak saling mengupayakan kedisiplinan protokol kesehatan, sehingga risiko penularan COVID-19 dan terbentuknya klaster baru dapat diminimalisir, khususnya pada lingkungan satuan pendidikan.

Ia melanjutkan, berdasarkan data dari Pusdatin Kemendikbudristek per 7 September 2022, hasil pemadanan DAPODIK dengan PeduliLindungi, dari 3,93 juta pendidik dan tenaga kependidikan yang datanya sudah disinkronisasi dengan PeduliLindungi, terhitung setidaknya 96 persen atau sekitar 3,77 juta orang sudah mendapatkan vaksinasi. 

"Untuk mengurangi kekhawatiran dari orang tua, kita terus melakukan sosialisasi dan memastikan dinas pendidikan melakukan tugas untuk mengontrol kesiapan protokol kesehatan, juga mensosialisasikan pada orangtua peserta didik terkait dengan pembelajaran tatap muka yang aman," yakinnya. (tim redaksi)

#pembelajarantatapmuka
#ptm
#kasuscovid19melonjakseiringptm
#protokolkesehatan
#prokes
#tracing
#testcovid19berkala
#cegahklasterkeluarga

Tidak ada komentar