Breaking News

Bank Dunia: Banyak Negara Masuk ke Jurang Resesi Tahun Depan, Indonesia Termasuk?

Uang dolar dan rupiah. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Bank Dunia memproyeksi banyak negara akan jatuh ke jurang resesi 2023, karena suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara semakin tinggi.
Melansir AFP, Sabtu (17/9/2022), bank sentral di sejumlah negara memang terus menerus menaikkan suku bunga acuan demi meredam lonjakan inflasi.

Kenaikan suku bunga acuan akan menghambat proses pemulihan ekonomi global. Tak heran, Bank Dunia memprediksi ekonomi dunia melambat menjadi 0,5 persen pada 2023 mendatang.

"Pertumbuhan global melambat tajam dengan kemungkinan perlambatan lebih lanjut karena lebih banyak negara jatuh ke dalam resesi," ungkap Presiden Bank Dunia David Malpass. Ia khawatir, tren perlambatan ekonomi akan berlangsung dalam jangka panjang. 

Untuk itu, Malpass mendesak seluruh negara untuk fokus meningkatkan produksi agar pasokan kembali melimpah, sehingga inflasi bisa ditekan. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) juga sudah mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen pada Agustus 2022.

Sementara, The Fed sudah berkali-kali menaikkan suku bunga acuan sejak awal tahun ini. Terakhir, bank sentral AS mengerek bunga acuan sebesar 75 basis poin menjadi 2,25 persen hingga 2,5 persen pada Juli 2022 lalu.

Di tengah ketidakpastian dunia dan ancaman resesi global, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual masih optimistis, Indonesia tak akan jatuh ke jurang resesi pada tahun 2023. Namun, ia tidak menampik, akan ada potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik tahun depan.

"Memang ada potensi perlambatan ekonomi Indonesia tahun depan. Namun, tidak sampai resesi,” yakinnya.

Sebab, menurut hitungannya, pertumbuhan ekonomi pada 2023 berada di kisaran 4,8%-5% secara tahunan. Ini melambat dari perkiraan pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 yang sebesar 5,1%-5,3%

Ia menduga, Indonesia tak akan terlalu terpengaruh perlambatan ekonomi global. Pasalnya, kekuatan pertumbuhan ekonomi Indonesia ada pada perekonomian domestik, yaitu konsumsi rumah tangga.

Dengan demikian, untuk menjaga otot perekonomian tetap kuat, ia mengimbau pemerintah untuk benar-benar menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Selain itu, dengan masih bergulirnya mobilitas masyarakat, David yakin konsumsi rumah tangga masih akan tumbuh baik.

Selain itu, lanjutnya, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi juga masih tumbuh mumpuni tahun depan. Ini karena reformasi struktural yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia mampu menarik minat para investor untuk menanamkan modal ke dalam negeri.

BIla melihat sektor usaha dalam negeri pun, ia masih yakin akan prospek pertumbuhan beberapa sektor usaha, seperti industri manufaktur. Namun, ia mengimbau pemerintah memberikan berbagai insentif untuk dunia usaha, seperti insentif bea masuk, peralatan mesin, maupun insentif pajak. (tim redaksi)

#ancamanresesiglobaltahundepan
#ancamanresesi
#inflasitinggi
#sukubungaacuantinggi
#insentifbagiduniausaha
#bankdunia
#worldbank

 

Tidak ada komentar