Breaking News

Apartemen Mewah di Pluit Didatangi Massa Tak Dikenal, Buntut Konflik Penghuni dan Pengelola Soal IPL

Puluhan massa tak dikenal mengepung apartemen mewah Pantai Mutiara, Jakarta Utara, Senin (12/9/2022). Foto: Istimewa/ Dok.Tribun

WELFARE.id-Puluhan orang tak dikenal mengepung apartemen mewah di Kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (12/9/2022) lalu. Selain melakukan pengepungan, mereka juga melakukan penyerangan dan pengrusakan di kantor pengelola apartemen tersebut. 

Belakangan, diketahui buntut penyerangan dan pengrusakan itu lantaran adanya konflik antara penghuni dan pengelola Apartemen Pantai Mutiara. Saat ini, Polres Metro Jakarta Utara dan Polsek Metro Penjaringan tengah melakukan mediasi antara kedua belah pihak. 

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan mengatakan peristiwa itu terjadi pada Senin (12/9/2022). Zulpan menyebut cekcok kedua pihak di apartemen itu telah terjadi sejak tahun lalu.

"Permasalahan antara pengurus dengan warga penghuni sudah terjadi sejak 2021. Ketika itu warga mempertanyakan keabsahan pengurus menunjuk PT SMR sebagai pengelola Apartemen Pantai Mutiara," kata Zulpan dalam keterangannya, dikutip Kamis (15/9/2022).

Permasalahan kedua pihak ini terus meruncing. Hal ini diduga dipicu pengelola menaikkan biaya iuran pengelolaan lingkungan (IPL) hingga membuat beberapa penghuni protes. "Terdapat beberapa warga yang menolak membayar IPL sebagai bentuk protes. 

Kemudian pihak pengelola mematikan air dan listrik kepada penghuni yang tidak membayar IPL setelah dilayangkan surat peringatan 1, 2, dan 3," terangnya lagi.

Kesal listrik dan aliran air dimatikan, sejumlah penghuni diduga menyegel kantor pengelola pada Minggu (11/9/2022). Tindakan itu direspons oleh pengelola yang mengerahkan pihak luar untuk membuka kantor pengelola yang disegel warga.

"Setelah air dan listrik diputus kemudian warga menyegel kantor pengelola. Pengelola lalu mengerahkan karyawannya (bukan karyawan APM) untuk membuka segel kantor pengelola," tutur Zulpan. Kapolsek Penjaringan Kompol Ratna Quratul Aini menambahkan, proses pembukaan segel kantor pengelola itu sempat diwarnai keributan. 

Polisi menyatakan tak ada penyerangan yang terjadi di lokasi. "Bukan penyerangan, tetapi pengelola membuka kantor pengelola yang disegel oleh warga karena ada ketidakpuasan warga dengan Pengurus dan pengelola APM," jelas Ratna.

Dia menyebut, kedua pihak yang terlibat keributan telah dimediasi pada Senin (12/9) malam. Dia mengatakan situasi di apartemen telah kondusif.

"Sudah dimediasi, sudah sepakat kedua belah pihak. Saat ini sudah kondusif," akunya.

Sesudah kejadian, salah satu penghuni Yusuf Rusly (68) mengatakan, konflik yang terjadi antara penghuni dan pengelola berkaitan dengan iuran pengelolaan lingkungan (IPL) yang dinaikkan pengelola secara sepihak. ”Biasa iuran tiap bulan Rp15.000 per meter persegi, sekarang Rp23.000 per meter persegi. Berarti ada 53 persen (kenaikan),” kata Yusuf, dikutip Kamis (15/9/2022).

Kronologi kericuhan

Konflik bermula, saat beberapa penghuni apartemen memprotes kenaikan IPL dan meminta pengelola transparan terkait pengelolaan keuangan yang dilakukan. Merasa tidak ada kejelasan, penghuni protes akhirnya bersepakat untuk tidak membayar IPL tersebut. 

Hal inilah berujung pengelola memutus aliran listrik dan air. Pemutusan aliran listrik dan air itu lantas dibalas para penghuni dengan menyegel kantor pengelola di lantai basemen apartemen tersebut. ”Warga tidak terima dan tidak mau pengelola di sini,” ucapnya. (tim redaksi)

#apartemenpantaimutiara
#konflikpenghunidanpengelola
#transparansidanaipl
#penyegelankantorpengelola
#apartemenmewah
#kantorpengeloladisegel

Tidak ada komentar