Breaking News

31,4% Remaja Adiksi Internet, Digital Parenting Berperan Penting

Anak sedang berselancar di dunia maya. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Kemajuan teknologi bak pisau bermata dua. Disatu sisi, kemajuan teknologi menambah wawasan pengetahuan dan kemudahan terkoneksi dengan dunia luar.

Tapi di sisi lain, ketidakmampuan mengontrol aktivitas di dunia maya, bisa meningkatkan kecanduan internet. Terutama pada anak dan remaja.

Sebagian di antara mereka bahkan masuk kategori kecanduan internet. Hal ini berdasarkan penelitian seorang dokter hasil penelitian Dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr dr Kristiana Siste.

Dia menemukan, sebanyak 31,4% remaja mengalami kecanduan internet. Bahkan, 7 dari 10 remaja putri mengalami kecanduan media sosial dan 9 dari 10 remaja putra mengalami kecanduan game online.

Berdasarkan fakta tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) pada Rapat Sosialisasi Aplikasi Digital Parenting mendorong agar aplikasi Digital Parenting dapat mengurangi angka kecanduan internet bagi remaja. 

"Saya sangat antusias sekali dengan aplikasi Digital Parenting ini untuk penanaman nilai-nilai Revolusi Mental yakni Etos Kerja, Gotong Royong, dan Integritas. 

Dan ke depan, saya berharap akan menanamkan juga gerakan-gerakan Revolusi Mental seperti Gerakan Indonesia Bersatu, Indonesia Tertib dan sebagainya,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Budaya, dan Prestasi Olahraga Didik Suhardi dikutip dari laman resmi Kemenko PMK, Sabtu (3/9/2022).

Dirinya berharap, kelak aplikasi ini bisa dipakai orangtua anak-anak Indonesia secara gratis. Sementara itu, Asisten Deputi Literasi, Inovasi dan Kreativitas, Molly Prabawaty menyoroti tentang sisi negatif adiksi terhadap internet.

“Adiksi karena gadget terkait juga dengan isu kesehatan mental. Deputi 4 juga dapat mendorong aplikasi ini diperkenalkan pada pemangku kepentingan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak seperti KPPPA, Kemenpora, UNICEF, Pemerintah Daerah, organisasi swasta dan organisasi kemasyarakatan lainnya,” sebut Molly.

Sementara itu, wakil Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) Heru Nugroho dan Direktur utama PT Ide Defghi Tombak, mengatakan, aplikasi Digital Parenting sudah dipakai di sekolah swasta dan dicoba oleh 520 orangtua siswa.

“Sebenarnya aplikasi semacam ini banyak, di google juga ada dan free. Namun, aplikasi-aplikasi yang berkembang di luar negeri sudah pasti pakai kultur luar. Dan yang dikembangkan oleh kita bersama PT Defghi ini benar-benar memakai kultur Indonesia. Tentu sangat sesuai dengan kondisi kita,” ulasnya.

Aplikasi bisa diunduh di ponsel orang tua dan anak. Orang tua bisa memonitor aplikasi apa saja yang diunduh dan dipakai anak serta bisa mengontrol pemakaiannya.

Bahkan, lanjutnya, orang tua bisa menutup akses Virtual Privat Network (VPN) yang banyak bertebaran di internet karena banyak yang gratis. “Pemerintah sudah memblokir sejumlah akses menuju portal-portal berbahaya semacam pornografi. 

Namun, anak sekarang sangat pintar bisa menggunakan VPN yang free maupun berbayar untuk mengakses portal-portal tersebut. Di aplikasi ini kita buang dan block VPN tersebut, karena orang tua bisa memonitor dan mengontrol pemakaian internet anak lewat ponselnya,” bebernya.

Jika anak dalam bahaya, mereka bisa menekan panic button. "Dan langsung ada video terekam sekitar 5 detik. Orang tua langsung mendapatkan pesan, keberadaan anak,” tuntasnya. (tim redaksi)

#aplikasidigitalparenting
#penggunaaninternetpadaanakdanremaja
#kecanduaninternet
#digitalparenting
#pengawasanorangtua
#adiksiinternet
#duniamaya

Tidak ada komentar